
Deru napas terlihat beraturan. Detak jantung kembali normal ketika mata tertuju pada Elektrokardiogram. Napas lega beserta syukur bergantian keluar dari organ yang berbeda.
Dengan langkah berat dan rasa bersalah yang luar biasa, dinginnya angin malam tak lagi dihiraukan. Ditatapnya wajah teduh yang kini terlelap dalam obat bius. Tak dapat dipungkiri, air mata kembali jatuh mengenai lantai putih nan dingin.
Hatinya sakit. Tubuhnya lemas. Terduduk dilantai sebagai hukuman. Menunggu sang pemilik wajah tampan terbangun dari tidurnya.
"Allahuakbar..." suara lirih yang berasal dari balik masker oksigen, membuat wajah yang tertunduk sayu mendongak seketika.
Dirinya bangkit, menghampiri pria dengan sejuta kesabaran itu dan menggenggam tangannya erat.
"Kak..." panggilnya, dengan bibir bergetar.
"Alhamdulillah..." bibir pucat itu tersenyum kecil dan mengucapkan syukur.
Hatinya tersenyum, mendengar panggilan itu. Ya. Kakak. Ingin sekali dari dulu dia dipanggil kakak oleh seseorang yang dia cintai. Namun, hanya satu orang yang memanggilnya dengan panggilan itu. Istri pertamanya.
Sekarang, dirinya mendengar langsung. Seseorang yang selalu dia harapkan cintanya, memanggilnya dengan panggilan kakak.
"Maafin aku, kak." ucapnya.
Tak ada jawaban. Lawan bicaranya tengah memejamkan matanya. Mengatur napas agar tetap beraturan. Tenang.
"Pergilah." setelah beberapa detik hening, bibir itu kembali berucap. Lebih bertenaga dibanding sebelumnya.
Wajahnya berpaling, menatap ke penjuru ruangan. Tidak ingin melihat wajah sembab dihadapannya. Rasanya terlalu sakit. Apalagi mengingat kejadian beberapa jam yang lalu.
Air mata kembali mengalir. Tak sengaja menetes tepat diatas punggung tangan yang sedang dia genggam. Ingin berucap, namun begitu sulit.
__ADS_1
Jemari yang digenggam, perlahan bergerak. Melonggarkan genggaman dan berpindah ke atas perut.
"Kak." panggilnya lagi. Berharap orang yang dia panggil menatapnya.
"Aku ingin bersama Yumna." balas Naren, tetap memalingkan wajahnya.
"Baiklah. Aku pergi dulu. Assalamualaikum..."
Mengalah. Kata itu yang Nara pilih setelah mendengar balasan dari pria yang pastinya telah dia sakiti. Dengan berat hati, Nara memutar tubuhnya. Melangkah pelan menuju pintu bangsal.
Untuk sekali lagi, menoleh. Melihat ke atas ranjang. Dimana sang suami terbaring disana.
Dia bisa melihat, ada setetes air mata keluar dari sudut matanya. Mengalir melewati pipi mulus tanpa ada hambatan.
Pintu bangsal terbuka. Sosok yang dipanggil mommy itu keluar. Disambut oleh rentetan pertanyaan dari beberapa orang yang menunggu didepan bangsal.
"Mommy, apa daddy udah bangun?" bocah mungil yang tadi menangis itu kini mendekati sang mommy. Tangannya memegang ice cream pemberian dari Adli, suami Zeline.
"Udah. Sana kamu masuk. Daddy pengen sama kamu." Nara mengangguki pertanyaan dari putrinya. Berusaha tersenyum walaupun sulit.
"Tapi, kenapa mommy ngga masuk? Kan mommy juga pengen ketemu sama daddy." tanyanya sembari mendekatkan tubuh.
"Mommy udah masuk, sayang. Giliran kamu." balas Nara.
"Biar om Adli yang temenin kamu masuk." lanjutnya.
"Yumna pengennya sama mommy." rengeknya.
__ADS_1
"Udah, jangan rewel. Kamu masuk duluan, ya. Nanti mommy nyusul."
Adli melangkah mendekati bocah mungil yang tadi dia ajak beli ice cream bersama putranya. Lalu, menggandeng tangan kecil itu dan masuk ke dalam bangsal.
Mereka mendekat ke ranjang. Dimana si pasien terbaring tak berdaya disana.
"Daddy?" panggil Yumna.
Mata yang semula terpejam, seketika terbuka. Ada semangat untuk segera sembuh saat melihat wajah putrinya.
"Sayang."
Diusapnya dengan lembut pipi gembul Yumna. Teringat dengan jelas, cinta pertamanya. Ibu kandung Yumna. Tentunya, lebih teringat dengan cinta abadinya.
"Kak, aku sangat yakin. Cinta itu tak akan pernah hilang ketika ruh terpisah dari jasadnya. Cinta berasal dari hati. Tumbuh dengan ketulusan dan keikhlasan. Aku selalu berharap kalau cinta itu berubah menjadi doa yang abadi. Cintai anak kita dan doakan aku selalu. I Love You."
~Shafira Nur Kafah.
*
*
*
Bersambung...
Yuk jangan lupa dukung terus yaa. Makasih semuanya.
__ADS_1