
Nara menyenderkan kepalanya dibahu sang suami. Ingatan selama kurang lebih sepuluh tahun pernikahannya membuatnya tersenyum dengan air mata menggenang. Banyak sekali kenangan yang hadir dalam perjalanannya mengarungi bahtera rumah tangga.
Pelabuhan terakhir dalam hidupnya hampir sampai. Tak ada lagi kekuatan untuk menolak. Nara sudah berjuang. Sampai dititik dimana dia hanya akan diam dan air matanyalah yang berbicara.
Pemandangan kota London menjadi pusat perhatiannya dan Naren yang tengah menaiki sebuah bianglala raksasa kala itu. Hanya ada mereka berdua didalam ruangan, biasa orang Inggris mengatakan kapsul karena bentuk ruangannya dari kejauhan. Berputar pelan diatas Sungai Thames dengan ketinggian sekitar 135 meter. Ketika mereka menaiki bianglala tersebut untuk pertama kalinya, seakan mereka terbang diatas Kota London yang terlihat sangat menarik dengan gaya klasik.
Genggaman keduanya semakin erat. Takut kehilangan seperti sebelumnya. Sudah banyak rintangan yang hampir membuat keduanya berpisah. Namun Tuhan tidak sekejam itu. Tuhan Maha Baik. Masih membiarkan mereka bersatu dengan cinta yang semakin besar.
"Kak, mungkin ini akan jadi tempat terakhirku sama kamu." lirih Nara.
Lirihan itu seakan terdengar begitu jelas ditelinga Naren. Dan membuat hati Naren terasa nyeri. Dia lekas membalas, "Jangan ngomong begitu. Lusa kita ajak anak-anak kesini ya? Seperti kata kamu tadi malam." Naren kecup puncak kepala Nara yang terlapisi hijab pashmina berwarna abu tua.
Perkataan dari Nara tak dianggap serius oleh Naren. Dirinya tak mau berlebihan. Karena dia sudah berencana lusa akan berkunjung kembali ke bianglala ini bersama Yumna Dan Najla. Family time.
Namun, rencanaya harus pupus. Ketika kenyataan yang tidak Naren harapkan itu justru terjadi. Disaat mereka tengah mengisi waktu bersama sebelum kembali ke Indonesia.
"Ra, kamu tenang ya. Aku selalu ada disisi kamu. Aku akan minta sama Allah supaya kamu baik-baik aja." genggaman Naren terlepas saat bankar yang membawa Nara masuk ke ruang pemeriksaan.
Naren mengusap wajahnya dengan tubuh terduduk lemas di kursi tunggu. Dia merogoh saku jaket. Segera mengambil ponsel dan menghubungi keluarga yang ada di rumah bahwa Nara dilarikan ke rumah sakit.
Lima belas menit dokter yang menangani Nara keluar dari ruang pemeriksaan. Segera Naren bangkit dari tempat duduknya, dihampirinya dokter tersebut.
"How is my wife, doctor?" Tanya Naren khawatir. Takut terjadi apa-apa dengan istrinya. Karena selama hampir sebulan bersama setelah dirinya mengatakan akan memulai semua dari awal, Nara sama sekali tak menunjukkan gejala penyakit yang dia derita kurang lebih tiga tahun.
Dokter menenangkan Naren lebih dulu, "Calm down first." ucapnya sembari menepuk pundak Naren dengan pelan.
Naren menggeleng, sebelum mengetahui kondisi Nara dirinya tidak akan bisa tenang. Nara adalah bagian dari hidupnya. Bahkan membayangkan Nara melewati setiap detik dalam hidupnya dengan lara pun Naren tidak akan sanggup. Lebih baik dia yang mengalami semua itu. Bukan istrinya.
Dokter menarik napas pelan, lalu mengatakan pada Naren bahwa penyakit yang diderita Nara sudah sangat parah. Dan jalan satu-satunya adalah operasi.
"Do the best for my wife, doctor." ucap Naren pasrah. Jika itu jalan yang dapat membuat Nara sembuh, maka Naren tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Kini yang dia inginkan hanya Nara-nya sembuh dan bisa bersama lagi.
__ADS_1
Setelah itu dokter pun kembali masuk ke ruang pemeriksaan. Menginstruksikan pada perawat untuk memindahkan pasien ke ruang operasi.
Tak berapa lama, bankar yang membawa nara keluar. Naren mengikutinya sampai pintu ruang operasi. Sebelum berpisah, Naren menyempatkan mengecup kening Nara dengan harapan semoga istrinya itu bisa kuat melewati masa-masa kritis.
Detik berikutnya...
"Daddy!" mendengar suara familiar itu Naren membalikkan tubuhnya. Terlihat Yumna, Najla, bunda Ai, Ayah Ael, mertuanya dari Fira dan Ayah beserta ibunya tengah berjalan ke arahnya dengan langkah cepat. Raut wajah khawatir jelas tergambar diwajah mereka.
"Apa yang terjadi, Ren?" ayah Ael yang pertama kali bertanya ketika sampai.
Naren pun menceritakan kronologi saat sebelum Nara kehilangan kesadaran. Semua orang pun hanya dapat menyimak dan memberi dukungan pada Naren. Bahwa Nara bisa melewati semuanya.
Bunda Ai yang mendengar itu hanya bisa terkulai lemas di lantai. Dirinya merasa lalai dalam menjaga putri satu-satunya. Sampai ketika putrinya mengidap penyakit Bronkitis Kronis pun dia tidak tahu.
Dan bunda Ai yang seorang dokter baru ingat, bahwa operasi yang kini dijalani putrinya adalah transpalasi paru-paru. Atau biasa dikatakan mengganti paru-paru dengan yang baru.
"Siapa yang akan mendonorkan paru-paru untuk putriku, Ren?" Bundai Ai bangkit. Dia menatap menantunya dengan mata basah.
"Apa?" ucap semua orang bersama.
Kembali ketika Naren tengah duduk lemas di kursi tunggu. Seorang pria berbaju hitam dengan topi menutupi bagian atas wajahnya datang. Lalu mengatakan bahwa dia akan membantu Nara untuk sembuh.
"Apa benar itu, Ren?" ayah Naren mendekat. Dia menerka siapa pria yang dikatakan Naren.
Naren mengangguk.
Dua jam setelah operasi Nara dipindahkan ke ruang rawat inap kelas VVIP. Begitupun dengan Gio. Namun, bangsal keduanya terpisah.
Naren duduk di kursi yang menghadap ke ranjang dimana Nara terbaring disana. Diambilnya tangan putih bersih yang lemah itu dengan hati-hati. Kecupan Naren berikan dengan sayang.
"Maafkan aku yang tidak tahu apapun tentang kamu. Andai, ingatanku bisa kembali. Maka aku akan lebih menjagamu. Aku tidak akan pernah membiarkan kamu menanggung rasa sakit ini sendirian. Tolong, maafkan aku. Aku hanya bisa berdoa pada Allah supaya kamu bisa sembuh. Dan kita bisa melewati hari-hari penuh dengan tawa bersama anak-anak kita." Naren tak dapat membendung air matanya. Dia menangis. Begitu takutnya dia kehilangan sosok yang terbaring diatas ranjang.
__ADS_1
Hari demi hari tak ada perubahan. Nara masih dalam kondisi kritis. Bahkan kata dokter, tak ada lagi yang bisa dilakukan. Semua pasrah. Hanya Allah yang akan menjawab doa semua orang.
Begitupun dengan Gio, sama sekali tak ada perkembangan. Semakin hari kondisinya menurun. Hal itu membuat Chesa yang baru datang dari Filipina bersama orangtua dan ibu Gio tak dapat menampung kesedihan mereka. Terutama Chesa yang sedang hamil.
"Sayang, ayo bangun. Sebentar lagi anak kita akan lahir. Kamu dulu berjanji kan, kamu yang akan pertama kali memeluknya ketika lahir ke dunia. Ayo bangun." Chesa meraung didalam bangsal. Gio adalah separuh jiwanya. Jika Gio tiada, mungkin Chesa pun seakan ikut mati.
Titttt....
Dua elektrokardiogram berbunyi. Garis yang mulanya naik turun itu berganti menjadi garis lurus. Saat itu pula Naren dan Chesa yang berada di bangsal berbeda menangis bersama. Mereka kehilangan orang yang sangat dicintai.
"Ra, kamu bohong kan? Hari ini kita sama-sama pergi ke London Eye bareng Yumna sama Najla ya? Ra. Ayo bangun. Aku disini buat kamu. Please. Buka mata kamu. Ra. Jangan lakuin ini. Ra!!!" Naren memeluk istrinya yang terbujur kaku diatas ranjang. Dia kecup seluruh wajah Nara agar wanita itu membuka mata. Namun semuanya nihil.
Nara sudah sampai ke pelabuhan terakhir dalam hidupnya. Nara tidak bisa kembali berlayar. Dia harus beristirahat setelah perjalanan panjang yang dia lalui.
Setetes bulir bening mengalir dari sudut mata Nara. Seakan Nara pun tidak menginginkan untuk berhenti berlayar. Tapi Nara tidak bisa menolak takdir dari Tuhan.
Kini, waktunya dia beristirahat.
*
*
*
TAMAT
Hai ges, akhirnya Tamat juga cerita ini. Maapin yaa ngga sesuai harapan kalian buat happy ending. Tapi emang dari awal cerita ini akan sad ending.
Makasih buat kalian pembaca setia Suara Hati Suami. Tanpa kalian mungkin cerita ini ngga bakal tamat. Intinya makasih banget udah nemenin sampai titik ini. Love buat kalian semua.
Jangan lupa baca karya terbaruku yaaa. See you 💙
__ADS_1