Suara Hati Suami

Suara Hati Suami
Mencari


__ADS_3

Pagi hari telah tiba. Chesa bangun dan langsung membersihkan tubuhnya. Bersiap mencari sang suami yang telah meninggalkan dia sendirian. Miris.


Sarapan telah tiba beberapa menit yang lalu. Masakan khas Indonesia. Nasi putih dan ayam bakar. Teringat dengan masa mudanya bersama dua sahabatnya. Menatap keluar jendela, sesuap nasi dan lauknya masuk ke dalam mulut. Tak ada rasa dan selera.


Pemandangan yang disuguhkan pun terasa hampa. Seperti dunianya hilang. Cintanya pergi untuk mengejar cinta lain.


"Aku akan DM saja." sendok diletakkan kembali, meraih ponsel dan membuka aplikasi bergambar kamera.


Instagram sang sahabat sudah dia temukan. Dia DM dengan bahasa formal. Terlalu cangung untuk memulai keakraban seperti dulu. Gengsi lebih dominan. Apalagi, seseorang yang dia chat adalah mantan suaminya sendiri.


"Dia masih sama seperti dulu." hati berbinar saat membaca pesan balasan dari sahabatnya.


Piring kini hanya tersisa sendok dan tulang ayam bakar. Selera itu datang setelah tadi mendapat balasan pesan.


Chesa bergegas bersiap. Memakai pakaian yang cocok untuk di Jakarta yang katanya panas. Tak lupa memakai masker agar terhindar dari debu dan kepulan asap.


Taxi sudah dipesan. Chesa berjalan dengan langkah cepat. Tak sabar untuk bertemu dengan sahabatnya. Dia ingin minta maaf. Tentunya, dengan semua yang terjadi.


"Ayo, Chesa. Kamu pasti bisa." dia menguatkan dirinya sendiri ketika sudah duduk manis di taxi.


Jakarta, kota yang dulu pernah dia singgahi. Banyak yang berubah. Semakin padat saja. Batinnya, saat matanya menyisir jalanan kota Jakarta.


Perumahan sudah dimasuki oleh taxi. Pertanda bahwa sebentar lagi, dia akan sampai di rumah baru sahabatnya. Dia tidak sabar. Entah itu untuk sekedar berbincang seperti dulu ataupun bertanya soal suaminya yang dia pastikan pernah ke rumah sahabatnya itu. Karena tujuan suaminya ke Indonesia tentu mencari Nara. Lebih tepatnya, mencari cinta lamanya.

__ADS_1


"Sudah sampai, neng." suara sopir membuat Chesa tersadar. Ternyata dia sudah sampai dialamat yang diberikan oleh sahabatnya.


Chesa mengulurkan uang yang sudah dia tukar. Tanpa menunggu kembalian, Chesa dengan cepat keluar dari taxi. Berjalan melewati pagar besi setelah tadi seorang satpam membukakannya. Dia berjalan dengan masker dan kacamata bertengger.


Chesa membunyikan bel beberapa kali agar si penghuni rumah keluar. Tak sabar. Rasa yang sebenarnya Chesa sendiri tidak tahu kenapa.


"Chesa?" si penghuni rumah muncul dengan gamis dan hijab dikepalanya. Terlihat cantik dan anggun ketika dipandang.


Mungkin itulah salah satu yang membuat suaminya masih menyimpan rasa. Pikirnya.


Dia hendak memeluk, namun gerakannya terhenti. Kembali rasa tidak enak menyergap ke dada. Teringat apa yang dia lakukan dimasa lalu dan apa sebenarnya tujuannya datang. "Hai." hanya lambaian yang dia berikan. Canggung.


Nara tersenyum, membuka pintu lebar-lebar. Memeluk sahabatnya yang sepertinya hilang tanpa adanya jejak. Bahkan, Nara melihat sahabatnya pun berubah banyak. Tak seceria dulu.


"Makasih, Ra. Kamu masih tetap sama seperti dulu. Ngga berubah." pujian itu keluar dari mulut Chesa setelah mereka hanya berdua di ruang tamu.


"Alhamdulillah." balasan dari Nara.


"Sebenarnya Ra, aku kesini mau cari suami aku. Aku yakin dia pernah kesini." Chesa memulai topik pagi menjelang siang itu. Karena gugup, Chesa sampai meremas tangan putihnya sendiri.


Nara mengangguk mendengarnya. Sudah ia duga sebelumnya. "Dia emang pernah kesini."


"Kapan terakhir kali?" tanyanya.

__ADS_1


"Kemarin." jawab Nara jujur.


Chesa memajukkan tubuhnya. Supaya lebih dekat dengan Nara. Mendengarkan lebih jelas jawaban dari sahabatnya itu. Sampai dia lupa, maaf dan penjelasannya terkait masa lalu yang belum diketahui sahabatnya itu pun perlu. Bahkan, sangat penting.


"Untuk apa dia datang?" Chesa yang hanya tahu jika suaminya ingin kembali, tak tahu bahwa suaminya datang membawa ujian bagi Nara dan Naren.


Nara menunduk. Lalu, menghembuskan napas berat. "Dia datang untuk minta maaf." jawabnya.


"Maaf? Untuk?"


"Untuk calon anakku dan Naren yang telah di surga." jawaban kali ini terdengar lebih lirih.


Air mata terlihat membasahi wajah. Turun dengan mulus mengenai hijab yang dipakai. "Apa maksud kamu, Ra?"


"Karena keegoisan Gio, aku keguguran."


*


*


*


Bersambung...

__ADS_1


Yukkk bantu dukung terus. Like, koment dan favorite. Makasih banyak...


__ADS_2