Suara Hati Suami

Suara Hati Suami
Kesempatan


__ADS_3

Seminggu sudah Nara, Naren dan Yumna dirawat di rumah sakit pasca kecelakaan. Perkembangan mulai terlihat dari segi luka yang mulai sembuh. Tapi tidak dengan ingatan Naren. Masih sama. Tidak mengingat Nara ataupun Yumna. Hanya ingatan istrinya meninggal dengan menitipkan seorang putri padanya.


"Tomorrow you can go home, the doctor said."


beritahu nyonya Michel saat Nara yang tengah menyisir rambut Yumna.


{"Besok kalian sudah bisa pulang kata dokter."}


Nara bernapas lega. Akhirnya, dia sudah diperbolehkan pulang. Tapi tunggu, "Is my husband the same? Can you go home. " tanyanya. Tidak mungkin juga Nara akan meninggalkan suaminya sendirian. Apalagi dalam keadaan hilang ingatan.


{""Apa suamiku juga sama? Sudah boleh pulang?"}


Nyonya Michel mengangguk, "Already. However, you should do regular checkups. The wounds on his head and memory have not healed completely. It needs a fairly long stage." jelas nyonya Michel seperti yang dokter katakan.


{""Sudah. Namun, harus melakukan pemeriksaan rutin. Luka dikepala dan ingatannya belum sembuh sepenuhnya. Perlu tahap yang lumayan panjang."


Dalam hati Nara mengucap syukur. Tidak apa-apa harus pergi ke rumah sakit untuk setiap saat. Dia akan melakukan apapun demi kesembuhan suaminya itu. Dia akan berusaha.


Walau terkadang, ucapan Naren begitu menghujam hatinya. Nara tetap tersenyum. Menguatkan hatinya untuk terus tegar menghadapi ujian. Kali ini Tuhan sedang menguji kesabarannya. Sama seperti Naren yang dulu dengan sabar menunggu hatinya terbuka.


Keesokan harinya...


Ketika tengah Nara bersiap pulang ke rumah. Masih dengan nyonya Michel yang menemani. Juga dengan Jordan yang selalu hadir menemani kesendirian Yumna. Tiba-tiba Naren datang.


"Kamu mau membawa putri saya kemana?" tanyanya dengan dingin.

__ADS_1


Nara yang tadinya sedang mengemas barang seketika menghentikan kegiatannya. Dia beranjak dari ranjang. Berjalan menghampiri Naren yang berdiri diambang pintu masih dengan baju pasien dan perban yang melingkar dikepalanya.


"Kata dokter kita sudah diperbolehkan pulang, kak." Nara menjawab dengan lembut. Ditatapnya bola mata yang dulu teduh itu, rasanya sedih. Keteduhkan yang selalu terpancar itu kini hilang. Diganti dengan tatapan tajam.


"Kita? Saya sudah mengatakan, jika saya tidak mengenal anda. Selama hampir seminggu ini saya diam. Saya membiarkan putri saya dengan anda. Tapi apa hasilnya? Anda justru akan membawa putri saya pergi? Itu tidak akan terjadi. Saya tidak akan pernah mengijinkan anda membawa putri saya." tegas Naren. Hal itu membuat air mata Nara menggenang.


"Aku ngga bermaksud seperti itu. Dia anak kita. Kita akan merawatnya bersama-sama." Nara menyanggah ucapan Naren. Jika ucapan yang baru saja dikatakan Naren tidaklah benar.


Naren sama sekali tak mau melihat wajah Nara. Tatapannya lurus. Lebih tepantnya tertuju pada box bayi. Dimana ada bayi perempuan yang tengah tertidur pulas disana.


"Saya tidak percaya ucapan anda. Sekarang saya ingin mengambil putri saya." Setelah berkata, Naren melangkah ke arah box bayi.


Diangkatnya bayi mungil itu dengan hati-hati. Lalu mendekapnya dengan erat.


"Tolong beri aku kesempatan, kak. Jika aku gagal dan ingatan kakak tidak kembali, maka aku akan pergi dari hidup kakak. Aku akan merelakan putriku. Aku berjanji." Nara meraih tangan Naren. Menggenggamnya dengan erat. Memohon supaya Naren memberinya kesempatan.


"Saya akan pikirkan." Naren pun melangkah pergi setelah membalas ucapan Nara.


Nara tak lagi dapat menopang tubuhnya. Kepergian Naren bersama putrinya membuatnya tak berdaya. Seperti ada yang hilang. Ya. Belahan jiwanya. Belum lagi putrinya yang dia kandung dengan penuh rasa sayang. Hilang sudah kekuatannya untuk terus berdir tegak.


Nyonya Michel memeluk Nara. Mengusap lembut lengan Nara. Tak lupa buling bening dia hapus juga. Ujian Nara begitu hebat. Tapi dirinya yakin. Nara pasti bisa menjalani ujiannya itu sampai selesai.


Di bangsal Naren menatap keluar jendela. Memandang area luar rumah sakit yang nampak ramai berlalu-lalang. Sesekali menatap wajah cantik putrinya yang tertidur lelap itu.


"Sayang, apa ayah harus memberikan kesempatan pada wanita itu? Apakah ayah terlalu egois jika tidak memberikan kesempatan?" Naren bertanya pada putrinya. Pikirannya kini dipenuhi permintaan wanita yang menurutnya asing namun juga dia mengenalnya.

__ADS_1


Ba'da sholat Ashar...


Nara melipat mukena yang baru saja dia pakai untuk beribadah. Sesekali dia melirik ke arah jam yang terletak diatas nakas. Lalu beralih ke arah pintu. Tak ada tanda-tanda Naren datang.


Pikirannya dipenuhi oleh ketidakpastian yang membuatnya sakit. Apakah tidak ada lagi kesempatan untuknya berusaha? Setega itukah orang yang dia cintai saat ini? Tidakkah suaminya itu melihat dirinya saat ini sedang tersiksa?


Saat Nara duduk melamun di ranjang, pintu bangsal terbuka. Nampak Naren dengan kemeja coklat susu dan celana hitam berdiri di ambang pintu seperti tadi pagi. Nyonya Michel, Yumna dan Jordan tertuju pada setroller yang berisi bayi yang tak lain adalah adik Yumna.


"Ehem."


Nara menoleh. Seulas senyum terbit dari bibirnya yang pucat. Melihat dua orang yang dia cintai datang seakan memberi angin segar.


"Saya sudah memutuskan, jika saya akan memberi kesempatan untuk anda." ucap Naren lebih rendah dari intonasi tadi pagi. Terdengar menyejukkan ditelinga Nara.


"Terima kasih, kak." Nara bangkit. Ingin dia memeluk Naren, namun melihat tatapan dingin pria itu membuatnya urung. Hanya ucapan terima kasih dan senyum simpul.


*


*


*


Happy Eid Mubarok semua 💙


Minal aidzin wal faidzin 🙏 Mohon maaf karena udah ngasih banyak harapan buat UP SHS tapi ngga jadi terus. Dimaapin yaa 🙏

__ADS_1


Semoga kedepannya diberi banyak waktu luang dan bisa cepet namatin ini novel. Amin. Mohon doanya ya ges.


Jangan lupa bantu like, koment dan kasih hadiah. Makasih semuaaa. Ketemu dibab selanjutnya yaaa.


__ADS_2