
Selepas berziarah tadi sore, malam harinya Anzel merengek agar bisa kembali tidur bersama daddy-nya lagi. Banyak pertanyaan yang terus terngiang dikepalanya. Dan malam ini semua harus terjawab. Gadis itu tidak bisa menundanya lagi. Dia begitu penasaran.
"Sayang, kan kemarin malam kamu sudah tidur bersama daddy? Sekarang kamu tidur sama omah ya?" bunda Ai kembali membujuk cucunya, berharap Anzel menurut dan berakhir tidur bersamanya.
Dibelainya wajah putih itu dengan lembut. Merapikan beberapa anak rambut yang menutupi area mata. Bunda Ai menatap cucu yang sudah dirawatnya dengan penuh kasih sayang. Anzel sama seperti Nara, selalu ingin dekat dengan ayah mereka.
Perlu banyak bujukan, walau pada berakhirnya percuma. "Anzel maunya tidur sama daddy, omah." ucap Anzel untuk kesekian kalinya. Jengah karena terus dibujuk.
Naren yang melihat putri kecilnya mengulas senyum. Segera dirinya mendekat. Diusapnya kepala berambut hitam itu dengan sayang. "Kenapa Anzel ingin tidur bersama daddy lagi?" Naren berjongkok, mensejajarkan tingginya dengan Anzel.
"Karena Anzel masih merindukan daddy." Anzel menjawab sekenanya. Karena selain ingin bertanya, kerinduan akan kasih sayang dari daddynya yang membuatnya ingin terus bersama daddynya. Hal yang selalu gadis cilik itu nanti ketika di Turki.
Hati kecil Naren merasa tersentuh. Ditatapnya lekat malaikat kecil yang selalu dia rindukan pula ketika di Indonesia. Kehadirannya saat ini berhasil memberikan warna baru dihidupnya setelah sekian lama. Perlahan tapi pasti, lara yang lawas menyelimuti kalbu sirna sudah.
"Bolehkan daddy?" tanya Anzel dengan mata yang kini mulai berembun. Senjatanya yang paling ampuh.
Ulasan senyum terlukis dibibir Naren. Ayah beranak dua itu mengangguk sebagai jawaban. Rasanya tidak akan pernah bisa untuk menolak permintaan yang jelas dapat dia penuhi. Permintaan sederhana yang mampu membawa sekelumit kebahagiaan.
Anzel yang mendapat persetujuan dari Naren langsung menghambur. Kecupan dia berikan pada daddynya yang telah mengijinkan dirinya kembali tidur bersama.
"Terima kasih, daddy. Anzel sayang daddy." sekali sebuah kecupan mendarat dipipi putih Naren sebagai pengaplikasian rasa senang yang Anzel dapatkan.
Bunda Ai yang melihat pemandangan didepannya hanya mampu tersenyum. Tidak papa usahanya gagal membujuk Anzel. Yang terpenting menantu dan cucunya itu bisa bahagia.
"Cucu omah sayang, sekarang kamu tidur bersama daddy lagi. Ingat ya, jangan nakal. Okey?" bunda Ai mengecup puncak kepala Anzel setelah gadis cilik itu melepas pelukannya dari tubuh tegap penuh kewibawaan.
Anzel mengangguk dengan cepat. "Anzel sayang omah." ucapnya sebelum bunda Ai pergi ke kamar.
__ADS_1
Sekarang tinggalah ayah dan anak itu di ruang keluarga. Keduanya memilih langsung pergi ke kamae juga untuk mengistirahatkan tubuh yang lelah setelah beraktivitas seharian.
Sebelum tidur, Naren mengajari Anzel agar bersih-bersih terlebih dahulu. Sikat gigi dan wudhu. Kebiasaan yang tidak pernah hilang dari Nara. Wanita cantik dan sholihah yang Naren doakan berada ditempat terbaik disisi-Nya.
Pukul sembilan tepat, ayah dan anak itu sudah bersiap memejamkan mata. Namun, celotehan Anzel membuat Nara terus terjaga. Beberapa tahun penuh kehampaan, akhirnya kini kembali ramai. Dan Naren sangat menikmati hal itu.
"Bisakah daddy bercerita setelah mommy meninggal? Kenapa Anzel tidak bersama daddy? Dan kenapa kak Una jauh dari Anzel?" mata bening penuh keteduhan itu menatap penuh pengharapan agar pertanyaan yang terlontar segera dijawab. Dan yang mampu Naren lakukan hanyalah bercerita tentang semuanya. Ya. Semua yang dia lalui setelah kepergian Nara, bidadarinya.
........Flashback On........
Setelah Nara dinyatakan tiada, Naren meminta pada anggota keluarga yang hadir dalam bangsal agar menyetujui, jika Nara dikebumikan di Indonesia.
"Jika itu maumu, maka lakukanlah. Kamu berhak menentukan dimana istrimu akan dikebumikan, Ren." ayah Ael menepuk pundak kekar menantunya. Mempercayakan putrinya pada menantunya.
Naren mengucapkan beribu terima kasih. Setelahnya dia mengurus ijin kepada pihak rumah sakit dibantu oleh ayah Ael dan ayahnya. Agar segera diproses.
"Ayah, bunda, aku titip Najla bersama kalian. Maafkan aku karena belum bisa merawatnya dalam keadaan seperti ini. Aku masih butuh waktu untuk menerima semuanya. Aku harap kalian akan memaklumi dan mengerti." Naren tertunduk dalam ketika mengutarakan isi hatinya setelah seminggu kepergian Nara. Dirinya masih belum bisa ikhlas dengan apa yang terjadi. Dan pada akhirnya dia hanya bisa menitipkan buah hatinya pada mertuanya.
Ayah Ael dan bunda Ai tidak keberatan dengan permintaan menantunya. Mereka paham betul, Naren sangatlah terpukul dengan kepergian Nara melebihi mereka. Ada rasa senang bercampur sedih kala itu. Senang karena bisa merawat cucu mereka. Dan sedih karena kepergian putri mereka satu-satunya.
"Bapak, ibu, Naren juga ingin menitipkan Yumna pada kalian. Naren harap bapak dan ibu tidak keberatan. Mohon maaf karena Naren belum bisa menjaga Yumna seperti dulu. Naren masih butuh waktu untuk saat ini. Maka dari itu, Naren menitipkan Yumna." Naren pun mengungkapkan permintaannya pada mertuanya dari pihak Fira, istri pertamanya, kakek dan nenek Yumna.
Bapak dan ibu Fira yang mengerti akan keadaan menantunya pun menerima permintaan yang juga menghadirkan rasa senang dan haru.
Sedangkan ayah dan ibu Naren hanya mampu berterima kasih pada kedua besannya yang dapat memahami kondiri putra mereka. Mereka berdua berharap, silaturahmi akan terjalin lebih kuat dibanding sebelumnya.
Tiga hari setelah Naren mengutarakan permintaannya kepada kedua mertuanya, tibalah mereka berpisah. Najla akan dibawa ke Turki dan Yumna akan dibawa ke Brunei. Mereka dibesarkan disana selama tujuh tahun lamanya.
__ADS_1
........Flashback Off..... ...
"Jadi, dulu Anzel dipanggilnya Natla?" tanya gadia cilik itu penasaran. Matanya berkedip. lucu. Membuat Naren gemas.
"Iya. Daddy dan mommy memanggilmu Najla." jawab Naren dengan jelas sesuai ingatannya.
"Ohhh.... Tapi Anzel inginnya dipanggil Anzel bukan Natla, daddy. Susah." beritahu Anzel dengan jujur. Dirinya lebih suka dipanggil Anzel daripada Najla. Maka dari itu teman-teman Anzel diturki memanggil gadis itu Anzel.
Naren mencubit pipi gembul itu dengan gemas. Tidak menyangka jika putrinya ini sangat jujur. Hal itu menghadirkan rasa senang dihatinya. Senang karena bisa menjadi teman bercerita putrinya tanpa ada yang ditutupi.
"Iya-iya, sayangnya daddy." ucap Naren agar Anzel senang.
Malam itu berakhir dengan canda tawa yang menghadirkan kengahatan didalam lubuk hati yang mulanya terasa hampa.
Anzel memejamkan mata sembari berdoa agar tawa yang tercipta antara dirinya dan daddynya tidak akan pernah hilang dalam hidupnya lagi.
Dan Naren pun berdoa ketika memejamkan mata sembari memeluk buah hatinya, berharap dia akan terus merasakan kehangatan yang tercipta ketika bersama dengan putri kecilnya.
*
*
*
Bersambung...
Akhirnya bisa UP juga setelah sekian lama. Semoga bisa mengobati kegabutan kalian ya bestie akoh. Dan tentunya semoga kalian seneng karena udah ketemu Anzel. Sampai jumpa dibab selanjutnya. Nanti yaaa bestieee.
__ADS_1