Suara Hati Suami

Suara Hati Suami
Terlambat


__ADS_3

Tingtong! Tingtong! Tingtong!


Suara bel berbunyi membuat lantunan kalam Allah terhenti. Menutup mushaf Al-qur'an, pria berwajah asli negara Turkey itu lantas berdiri dari tempatnya duduk. "Tunggu disini dulu ya." ucapnya lalu meninggalkan sang istri yang duduk ditepi ranjang dengan tangan mengelus lembut anak yang masih berada didalam perut.


Pintu dibuka, nampaklah wajah yang beberapa jam lalu ditemui. Bersama dengan bocah mungil disampingnya, dia sudah tahu siapa yang menjadi tamu. "Mari masuk." membuka pintu dengan lebar, Adli -suami Zeline- mempersilakan tamunya untuk masuk.


"Terima kasih." setelah dipersilakan masuk, pria tampan asli Indonesia yang tak lain adalah Naren itu mengucapkan terima kasih pada Adli, suami sahabat dari istrinya.


"Sama-sama. Silakan duduk."


"Tidak perlu, aku kesini hanya ingin menjemput istriku, Nara. Bukannya dia sedang ada disini bersama istrimu, Zeline?" dengan halus Naren menolak, dirinya langsung to the point dengan tujuannya datang ke kamar hotel pesanan Adli dan Zeline.


Adli mengernyit mendengar ucapan atau lebih tepatnya pertanyaan dari Naren. "Tunggu sebentar. Kamu bilang kalau istrimu Nara sedang ada disini bersama istriku Zeline, begitu?" ulang Adli.


Naren mengangguk dengan cepat sebagai balasan untuk pertanyaan Adli. "Ayah." suara wanita terdengar dari kamar, membuat dua pria tampan itu menoleh ke sumber suara.


"Dia suami sahabat kamu, Nara." dengan cepat, Adli menuntun sang istri yang sedikit kesusahan berjalan untuk duduk di sofa.


"Untuk apa dia datang, yah?" tanya Zeline ketika sudah duduk manis disamping sang suami.


"Dia mencari Nara, katanya sedang bersama kamu." jawab Adli.


Zeline menatap Naren yang berdiri tak jauh darinya dengan sesekali melihat ke arah Yumna yang diam. "Nara tidak bersamaku. Mungkin dia sedang bersama Chesa." ucap Zeline, mengira jika Naren salah tempat. Karena itulah kenyataannya.


"Apa? Nara sendiri yang bilang kepadaku, kalau dia akan menemuimu."


"Sedari tadi, di kamar ini hanya ada aku, suamiku dan anakku. Kami tidak berbohong. Nara tidak menemuiku. Jikalau ada, pasti sekarang Nara sedang bersama kita disini bukan?"

__ADS_1


Setelah mendengar ucapan Zeline, Naren baru menyadri jika Nara telah berbohong padanya. Ada rasa tidak menyangka jika mengetahui yang sebenarnya. Dalam hati, Naren terus bertanya 'kenapa Nara tega membohonginya?'


"Baiklah kalau begitu, aku titip Yumna. Aku akan pergi untuk mencari Nara." dengan berat hati, Naren menitipkan Yumna pada Zeline setelah disetujui oleh Zeline dan Adli.


Naren bergegas keluar dari kamar. Langkah kakinya begitu cepat. Sudah tak ada waktu. Kini, yang dituju hanyalah satu. Kamar Chesa. Mungkin dengan menemuinya, Naren bisa mendapatkan informasi dimana Nara berada.


Tapi tunggu, dirinya tak tahu dimana kamar Chesa berada. Oh tidak! Bagaimana ini?


Bruk!


Seseorang menabrak tubuh tegap Naren ketika berbelok. "Kamu suaminya Nara kan?" ucap si penabrak yang tak lain adalah Chesa, seseorang yang menjadi tujuan Naren sekarang.


Naren mengangguk cepat, tangannya terulur untuk menolong Chesa yang terduduk dibawah. "Kamu ngga papa? Maaf ya. Aku sedang buru-buru."


Chesa tersenyum, "Aku ngga papa. Oh ya, aku sebenarnya lagi cari kamu. Untungnya kita ketemu."


"Cari aku?"


Mereka berdua berjalan cepat menuju parkiran setekah lift terbuka. Oh tidak! Mobilnya ternyata dibawa oleh sang suami yang tak lain adalah Gio. Dengan terpaksa, Chesa menghentikan taxi yang lewat.


Naren yang bingung hanya bergerak menuruti ucapan Chesa. Tak ada bantahan hingga taxi sampai ke sebuah taman yang tak terlalu ramai. Hanya ada beberapa orang lalu-lalang disana.


"Ayo." kembali Chesa menarik tangan Naren menuju tempat yang tertera di GPS. Tempat dimana dua insan saling bertemu dan berpelukan disana.


Pandangan yang menyayat hati, terlihat jelas ketika Naren sampai di taman utama. Kakinya lemas seketika. Hatinya perih. Mata mulai memanas seperti rasa yang menggelora dalam dada.


"Ini yang ingin aku tunjukkan." ucap Chesa.

__ADS_1


Samar-samar terdengar pertanyaan demi pertanyaan yang keluar dari bibir Gio. "Ra, aku yakin kamu masih cinta sama aku kan? Jawab aku dengan jujur, Ra. Aku bisa tahu kalau kamu masih cinta sama aku atau ngga. Jadi, jangan pernah mencoba untuk berbohong."


Beberapa detik, keheningan mengambil alih suasana. Hingga sebuah jawaban tanpa suara membuat hati Naren semakin tersayat. Hanya dengan satu anggukan sudah menjawab pertanyaan yang sedari dulu ditunggu.


Ternyata, yang dia duga benar adanya. Penghuni hati masih sama.


"Aku akan menghampiri mereka. Kamu tunggu disini." setelahnya Chesa berlalu meninggalkan Naren yang diam ditempatnya.


Selepas kepergian Chesa, Naren membalikkan badan. Berjalan tanpa tahu arah. Pikirannya terus tertuju pada jawaban sang istri yang benar-benar tidak dia harapkan.


Rintikkan air hujan tak membuat pria dengan sejuta kesabaran dan kepedulian itu berhenti. Baju yang dipakai sudah basah oleh tetesan yang berasal dari langit. Kakinya tetap melangkah, entah akan pergi kemana.


Suara klakson mobil bagai angin lewat. Gemuruh bersahutan layaknya hati yang kini terluka begitu dalam. Naren tak peduli dengan sekitarnya lagi. Wanita yang dia cintai setelah istri pertamanya, telah membohonginya.


Cintanya tetap sama. Menjadi pemilik cinta pertama. Bukan dirinya.


Brak!


Suara teriakkan terdengar dimana-dimana. Payung yang dipakai terjatuh seketika saat melihat pemandangan yang amat sangat mengerikan. Genangan air di jalan berubah menjadi berwarna merah. Tentunya berasal dari pria yang kini tergeletak dijalan dengan bersimbah darah.


Satu kata mewakili keadaan saat itu. Terlambat!


*


*


*

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa like, koment dan favorite yaaa. Makasih buat kalian semua...


__ADS_2