Suara Hati Suami

Suara Hati Suami
Mengambil


__ADS_3

Di ruang tamu rumah Naren, Gio duduk di sofa setelah dipersilakan. Dirinya masih diam, setelah mendengar suara tegas dari Naren. Cara terbaik agar suasana kembali dingin, tak sepanas tadi.


"Minum airnya dulu." Naren, menyuruh Gio dengan datar. Tak ingin lagi bersikap biasa saja. Ingin tak biasa. Menunjukkan sisi lain dari dirinya yang dikenal pria ramah dengan sejuta kesabaran.


Mengangguk, Gio langsung mengambil segelas air minum yang disuguhkan. Meminumnya dengan cepat hingga tandas. Berusaha menghilangkan rasa gugup ataupun aneh yang ada dalam tubuhnya.


"Terima kasih." ucapnya lirih, tetapi masih bisa didengar oleh Naren dan Nara yang duduk tak jauh dari dirinya.


"Langsung ke inti. Sebenarnya apa tujuan kamu kesini?" Naren mengawali topik pembicaraan yang serius siang itu.


"Aku ingin mengambil apa yang sudah kamu ambil dariku." jawab Gio, menatap Naren.


"Memang apa yang sudah aku ambil darimu?" Tanya Naren, seakan tak mengerti apa yang diucapkan oleh Gio.


Gio mendecih. "Sebenarnya kamu pun sudah tahu. Apa yang kamu ambil dariku. Bahkan, tanpa seijinku." tegasnya, agar si lawan bicara mengerti.


Naren tersenyum, "Aku bukan mengambil. Melainkan mendapat amanah menjaga sesuatu yang harus dijaga dengan baik. Bukan malah dibiarkan dan ditinggal pergi begitu saja." tak mau kalau, Naren menggunakan logikanya.


Keduanya saling menatap tajam. "Kembalikan. Sekarang aku sudah kembali. Aku yang akan menjaganya."


"Mengembalikan? Lalu, yang seharusnya kamu jaga, juga akan kamu tinggalkan seperti sampah?" Naren balik bertanya.

__ADS_1


"Ya."


"Kembalilah. Jagalah apa yang sudah kamu punya. Jangan berharap apa yang sudah menjadi milik orang lain kembali padamu." Naren bangkit, menggandeng tangan Nara. Berjalan meninggalkan Gio yang masih duduk ditempat.


Tangannya terkepal, marah. Ini bukan yang dia inginkan. Dia hanya ingin, apa yang sudah diambil darinya kembali.


Pak sopir yang bertugas menjadi satpam pun segera masuk setelah diperintahkan oleh Naren agar menyuruh Gio segera pergi. Karena kedatangannya hanya akan membuka luka.


Gio berjalan lunglai bersama pak sopir. Sesekali melirik rumah yang kini pintunya tertutup rapat. Ternyata kedatangannya tidak disambut seperti yang dulu dia inginkan. Sulit mengambil kembali apa yang kini sudah menjadi milik orang lain.


***


Di Filipina, Chesa bersiap menyusul suaminya ke Indonesia. Baju dan perlengkapan sudah tersusun rapi didalam koper. Paspor dan tiket pesawat pun sudah lengkap. Tinggal menunggu jam terbang.


"Aku tidak akan membiarkan kamu kembali dengan dia. Aku istrimu dan dia hanyalah mantan. Tapi kenapa kamu malah meninggalkan istrimu demi mantanmu? Sebegitu besarnya cintamu padanya?" tanyanya, air mata mengalir dibalik kaca mata hitam. Hingga seseorang duduk disampingnya, membuatnya segera mengusap air mata yang mengalir. Malu dilihat orang.


Pesawat take off dengan lancar. Mengudara diatas awan putih. Tujuh jam lebih sudah terlewati saat pesawat mendarat dengan selamat di bandara Soekarno-hatta, Jakarta.


Chesa turun dari pesawat. Menarik kopernya, berjalan layaknya seorang artis di bandara. Mencari restoran yang dia tahu. Ternyata masih sama, namanya. Hanya tempatnya yang kini berbeda dari dulu terakhir kali dia datangi bersama sahabatnya, Zeline dan Nara.


Setelah makan, Chesa menuju hotel dengan taxi. Uang yang berada di kartu tak lagi dia khawatirkan. Semuanya tanpa batas. Dia hanya perlu tau dimaja tempatnya. Dan langsung membayar. Selesai. Seperti halnya hotel yang dia pesan. Bintang lima.

__ADS_1


"Aku akan pergi ke rumah Nara. Lalu, mencari suamiku." sebelum tidur, Chesa menyempatkan untuk rencana besok hari.


*


*


*


Bersambung...


Jangan lupa like, koment dan favorite. Yuk tinggal kenangan biar dikenang lho.


Jangan lupa baca karya terbaru yaa :



Skenario Cinta


Mother Of My Child


Yukk kepoin. Makasih semuanya... Aku tunggu kenangannya...

__ADS_1



__ADS_2