Suara Hati Suami

Suara Hati Suami
3,5 tahun


__ADS_3

Naren melepas pelukannya dari Yumna ketika mendengar suara yang dia rindukan akhir-akhir ini. Dia lantas tersenyum. Bersyukur bisa melihat wanita yang dia cintai setulus hati dalam keadaan baik-baik saja.


"Ra..." dia membentangkan tangan selebar mungkin. Bersiap menerima pelukan hangat yang membuatnya merasa nyaman.


Nara tak ingin membuang waktu lagi. Dia segera melangkahkan kakinya setelah melepas genggaman tangan Jordan. Kemudian memeluk pria yang sudah membuatnya tahu apa arti cinta yang sesungguhnya dengan erat.


Jordan mengayunkan tangannya ke udara. Memberi isyarat pada Yumna agar gadis itu masuk ke dalam rumah bersamanya, membiarkan dua orang dewasa itu menghabiskan waktu bersama.


"Lets go, Jordan!" ucap Yumna menghampiri Jordan, dia menarik Jordan masuk ke dalam rumah. Melanjutkan permainan mereka yang tadi sempat terhenti.


Nara melepas pelukannya. Dia tertunduk, menghapus air mata yang mengalir karena rasa rindunya. Kemudian menyunggingkan senyum pada Nare.


"Aku yang minta maaf karena belum sempat ke London buat jenguk kalian." Naren menangkup wajah cantik berhijab itu dan mengecup keningnya dengan mesra.


"Ngga papa. Aku tahu kamu pasti sibuk di Indonesia." balas Nara yang mengerti bagaimana sibuknya seorang CEO perusahaan.


"Makasih karena selalu ngertiin aku." ucap Naren sebelum keduanya masuk ke dalam rumah yang kini berhias tawa Yumna dan Jordan.


Susu hangat tersaji diatas meja makan setelah beberapa menit Nara berkutat di dapur. "Diminum dulu, kak." Nara duduk berhadapan dengan Naren. Bagi Nara, ini adalah waktu yang dia rindukan ketika tinggal di London. Berdua dengan sang suami.


"Gimana kuliahnya? Ada kendala ngga selama hampir tiga setengah tahun?" Naren meletakkan gelas yang sudah tandas itu diatas meja. Dirinya kini menatap sang istri yang juga sedang menatapnya.


"Kalau kamu tanya itu kak, pastinya ada. Ngga mungkin orang kuliah ngga punya kendala kan?"


Naren tersenyum, dia ingat ucapan istrinya. Benar. Disetiap perjalanan pasti ada kendala atau kesulitan. Sama seperti dirinya dulu. Perjalanan mendapatkan cinta tulus yang kini sudah dia dapatkan seutuhnya.


"Aku cuma bisa kasih support buat kamu. Dan berdoa semoga kamu berhasil." Naren menggenggam tangan Nara. Dia berkata jujur, hanya itu yang bisa dia berikan.


Nara justru menggeleng mendengar ucapan suaminya, "Ada yang kamu berikan selain itu kak."


"Apa?"


"Cinta dan kasih sayang. Dua hal itu yang buat aku tetap bertahan walau banyak sekali rintangan yang menghadang. Tanpa kamu, Yumna dan calon anak kita, mungkin saat ini aku udah nyerah, kak. Dan aku bersyukur karena Tuhan udah ngirim kalian dihidup aku. Dengan adanya kalian, aku akan berusaha untuk bertahan sampai finish."

__ADS_1


"Aku yakin kamu bisa." Naren mengecup punggung tangan Nara. Mengakhiri pembicaraan mereka kala itu.


***


Pukul sembilan malam, kamar yang tadinya hanya terisi oleh satu orang itu kini menjadi lengkap dengan kedatangan Naren. Nara tak lagi kesepian seperti biasa. Ada obrolan hangat yang mengisi dinginnya malam dan usapan lembut diperutnya sebelum tidur.


"Gio masih hubungin kamu?" disela usapannya, Naren bertanya.


"Dulu dia bilang mau fokus sama Chesa. Setelah itu dia ngga pernah lagi hubungin aku, kak. Kenapa emang?"


"Aku cuma ngga mau kehilangan kamu." jujur Naren, setelah perjuangannya selama ini, dia takut orang yang dia cintai pergi darinya.


"Kamu jangan khawatir, kak. Aku ngga akan pergi dari kamu, kecuali itu panggilan dari Tuhan. Aku ngga akan bisa nolak." Nara memutar tubuhnya menghadap Naren. Menatap manik mata Naren yang selalu meneduhkan hatinya.


"Apa kamu ingat peristiwa tiga setengah tahun lalu?"


Tiga setengah tahun lalu, memori yang tidak akan pernah hilang dalam ingatan dua pasang manusia yang kini tinggal beda negara.


Setelah Chesa mengunjungi rumah sahabatnya, dia segera pergi mencari suaminya. Dia nekat pergi ke alamat dimana suaminya itu tinggal di Indonesia. Namun, takdir berkata lain. Dalam perjalannya, mobil yang ditumpangi Chesa mengalami kecelakaan parah.


Nara yang mendapatkan kabar tentang kecelakaan Chesa segera pergi ke rumah sakit dimana Chesa dirawat. Dia pun menghubungi Gio yang entah sekarang ada dimana.


"Pasien dinyatakan lumpuh." tepat saat itu Gio datang. Pria itu hendak membuka pintu bangsal, namun tertahan ketika mendengar pernyataan yang baru saja dia dengar.


Gio mematung, semua diluar kendalinya. Dia memang berengsek, tetapi kali ini dia merasa menjadi manusia paling kejam diduni. Dia dengan tega membiarkan istrinya sendiri menderita.


"Sial! Kenapa semua ini terjadi?" Gio memilih duduk di bangku kosong depan bangsal.


Frustasi, dia mengacak rambutnya. Semua salahnya. Dia terlalu egois.


"Gio." mendengar namanya dipanggil, Gio menoleh.


Naren, kakak tirinya. Dia berdiri didepan pintu bangsal. Menatapnya begitu dalam.

__ADS_1


"Kamu pantas menghajarku, Ren. Semua salahku. Kamu dan Nara kehilangan anak. Dan Chesa, demi aku dia lumpuh. Hajar aku sekarang juga, Ren. Supaya aku bisa menebus semua kesalahanku." Gio mendekat. Memegang tangan Naren. Dia siap menerima bogem mentah dari kakak tirinya itu. Supaya dia bisa semua kesalahannya.


Naren menepis tangan Gio. "Bukan dengan cara itu kamu menebus semuanya." tegas Naren.


"Dengan apa? Lalu dengan apa aku bisa menebus semuanya?!!!" Gio kembali mengacak rambunya frustasi. Dia tidak bisa melakukan apapun. Hanya dengan menerima pukulan dia merasa beban kesalahannya mulai berkurang.


"Berubahlah. Ikhlaskan Nara dan kembalilah pada Chesa."


Gio menatap Naren ketika mendengar penuturan yang membuatnya kaku.


"Lihat pengorbanan Chesa. Dia rela dari Filipina ke Indonesia demi kamu. Demi cintanya yang kamu sia-siakan. Sampai dia harus menerima, bahwa sekarang dia lumpuh." tegas Naren. Hal itu membuat Gio terdiam.


Nara terkejut mendengar percakapan suaminya dan mantan pacarnya diluar bangsal. Pintu segera dia buka. Menghampiri dua pria yang kini berdiri dalam diam.


Gio yang melihat Nara lantas mendekat. "Maafkan aku, Ra. Mulai sekarang, aku akan pergi dari hidup kamu. Terima kasih untuk semuanya. Berbahagialah dengan Naren, dia pria yang pantas buat kamu."


"Sebelum aku pergi, boleh aku peluk kamu untuk terakhir kalinya?" pinta Gio.


Nara melihat ke arah Naren, meminta ijin pada suaminya. Dan Naren pun mengangguk. Dia membolehkan Nara menerima pelukan dari Gio untuk terakhir kalinya.


Tanpa basa-basi lagi, Gio memeluk Nara. "Makasih untuk semuanya." ucapnya ketika pelukan singkat itu usai.


"Sama-sama. Makasih juga untuk semuanya. Jaga Chesa dan bahagiakan dia."


Setelah itu, Gio masuk ke dalam bangsal untuk menemui Chesa. Sedangkan Nara dan Naren kembali ke rumah.


*


*


*


Bersambung...

__ADS_1


Maaf banget gaes, baru bisa UP sekarang. Semoga kalian tetep suka dan terhibur sama cerita receh ini. Makasih buat para pembaca yang udah setia nunggu. Ketemu dibab selanjutnya yaa. See you.


__ADS_2