
Bugh!
Bugh!
"Kakkk!!!" suara teriakkan terdengar saat tubuh Naren tersungkur ke lantai putih ruang tamu. Darah mengalir deras. Sampai mengenai lantai.
Bugh!
"Aaa..." pukulan yang hendak dilayangkan sekuat tenaga pada pria yang dia benci, justru malah mengenai wanita yang dia cintai.
Nara meremas baju kerjanya. Merasakan sakit yang luar biasa. Kakinya tiba-tiba lemas seketika. Ikut terduduk di samping pria yang kini tengah berusaha untuk bernapas. Dadanya ikut sesak. Tak bisa melindungi sesuatu yang Tuhan karuniai.
Pria yang tak lain adalah Gio, terdiam ditempat. Tangannya bergetar hebat. Dalam hati, ini bukan yang dia inginkan. Tapi, kenapa malah terjadi?
Gio melangkah menghampiri wanita yang dia cintai, sekaligus wanita yang telah dia sakiti. Bagaimana tidak? Dirinya pergi begitu saja. Tanpa ada kabar dan jejak sedikitpun. Dan sekarang, dirinya pun kembali melukainya. Nara.
Tangannya terulur dengan hati yang tulus dan rasa takut. Bukannya seperti yang dia harapkan. Nara justru menepis tangannya dengan kasar. Membuang muka ke sembarang arah, yang penting tidak melihat wajah pria yang telah melukai dirinya dan suaminya.
Naren menahan sesak didadanya. Rasa perih pun dia rasakan saat itu juga. "Bertahanlah, kak." suara lembut itu berhasil membuka matanya yang terpejam.
__ADS_1
"Astaghfirullah!" suara teriakkan akibat terkejut terdengar. Membuat tiga manusia itu menoleh.
Bi Inul dan ibunya Fira menghampiri Nara. Mengangkat sedikit celana ke atas, karena mereka melihat ada darah yang mengalir di kaki Nara.
"Ibu, bi Inul..." rintih Nara, saat melihat dua wanita beda usia itu menghampirinya. Sedetik kemudian, Nara kehilangan kesadaran karena rasa sakit yang begitu luar biasa.
Bapak Fira menghampiri menantunya bersama pak sopir. Membawa Naren menuju mobil. Setelahnya, mereka membawa Nara yang pingsan ke dalam mobil juga. Lalu, segera melesat menuju rumah sakit dimana Nara melakukan pemeriksaan.
Sedangkan Gio, dia pun segera pergi mengikuti mobil yang membawa Nara. Kini, yang ada dalam pikirannya hanyalah Nara seorang. Berharap semoga Nara baik-baik saja.
***
Perlahan, Nara membuka matanya. Mengedipkan mata berbulu lentik itu beberapa kali. Menyesuaikan cahaya yang masuk ke retina mata. Menggerakkan kornea mata menyusuri ruangan yang dominan berwarna putih.
Ada rasa tidak percaya saja jika seorang saudara menyerang saudaranya sendiri karena sebuah dendam atau dengan alasan apapun itu. Tega. Satu kata yang tepat untuk pria yang dulu dia cintai.
"Kak..." panggilnya dengan suara lirih.
Jiwa peka langsung bangkit. Membuka mata yang tadinya tertutup rapat. Kornea mata melirik ke arah ranjang pasien. Mencari asal suara.
__ADS_1
"Kamu udah sadar? Alhamdulillah..." Naren segera meraih tongkat. Berjalan ke arah ranjang yang kini ditempati sang istri.
"Alhamdulillah juga, kak. Maaf ngga bisa nolong kamu dari Gio." wajahnya tertunduk. Merasa bersalah.
Naren menggeleng pelan. Tangan satunya menarik kursi. Menyenderkan tongkat dan duduk di kursi samping ranjang.
"Justru aku yang seharusnya minta maaf sama kamu dan anak kita. Karena aku belum bisa menjaga kalian berdua." Naren mengucapkannya dengan setulus mungkin. Matanya berkaca-kaca ketika mengingat ucapan dokter beberapa saat yang lalu.
"Maksud kakak, calon anak kita baik-baik saja kan? Dia ngga kenapa-napa?" tanya Nara, menggenggam tangan Naren yang sedang mencengkram seprei ranjang dengan kuat.
*
*
*
Bersambung...
Jangan lupa dukung terus yaa. Semoga terhibur. Makasih... Selamat malam dan selamat membaca cerita dari Author....
__ADS_1
Maaf ya, baru bisa Up malam. Karena dari pagi, banyak banget kegiatan dari sekolah. Tapi, alhamdulillah, Author sempetin buat lanjutin cerita. Karena, target bulan ini harus selesai ceritanya, Biar bisa fokus sama novel baru. "SKENARIO CINTA".
z"Aku yang sehrusb