
itu hawa dingin menyerbu masuk ke kamar berpenghuni dua orang. Hanya ada keheningan yang menyelimuti. Tak ada yang berkata-kata. Memilih diam dan hanyut dalam pikiran masing-masing.
Setelah pertengkaran tadi, keduanya memberi jarak. Bantal guling menjadi pembatas. Selimut tebal menjadi saksi. Bagaimana suasana kamar itu berubah dalam kurun waktu kurang dari satu jam.
Naren, memijit pelipisnya yang berdenyut. Hatinya pun ikut berdenyut. Bayang-bayang yang selama ini dia takutkan terjadi. Kehilangan. Dia belum siap untuk kehilangan lagi.
Nara, memilih menyembunyikan semuanya rapat-rapat dalam balutan selimut tebal. Mengunci bibir serapat mungkin agar tak mengeluarkan suara. Hanya butiran air mata yang berbicara.
Memilih membuang ego-nya, Naren membalikkan badan. Melihat pundak sang istri yang naik turun. Terisak. Hatinya seketika tersiksa jika harus melihat itu.
Tanpa berkata, dirinya memeluk sang istri dengan kuat. Mengusap lengan tersebut dengan lembut.
Hanya suara isakan yang terdengar. Tidak dengan kata-kata. Terdengar pilu. Menggema di kamar yang menjadi saksi atas segala yang terjadi diantara mereka berdua.
"Kenapa? Kenapa?" disela isak tangisnya, Naren bisa mendengar ucapan sang istri. Lebih tepatnya, pertanyaan.
Naren mengeratkan pelukan. Memilih diam tak menjawab. Ini pun pertanyaan sulit untuknya.
Dia pun baru tahu semuanya. Semuanya yang terhalang kabut ucapan yang menjadi sandiwara selama ini.
"Kenapa kamu berbohong?" Nara sekali lagi bertanya. Masih dengan butiran kristal yang mengalir diwajah. Menetes mengenai permukaan bantal.
Naren menggeleng. Dia tidak tahu apa-apa selama ini. Dia hanya percaya begitu saja ucapan yang menurutnya memang fakta. Tapi tidak dengan kenyataannya.
"Kamu bohong. Kenapa kamu lakukan ini?"
"Ra... Aku mohon dengerin aku. Aku ngga pernah berbohong. Aku hanya menyampaikan apa yang aku dengar. Dan aku ngga pernah tahu faktanya." Naren menjawab dengan jujur.
__ADS_1
Nara menggeleng. Semakin terisak jika mengingat semuanya. Dia selama ini salah mengira. Ternyata yang terjadi justru sebaliknya.
"Apa kamu ngga pernah sekalipun ingin tahu kebenarannya? Hanya percaya satu ucapan saja?"
Tangan kekar Naren tergerak membalikkam badan Nara dengan lembut. Mata keduanya bertemu selama beberapa saat. "Mama, dia adalah orang yang sangat aku percaya didunia ini, Ra. Ngga pernah mama berbohong. Dan kali ini, aku ngga pernah tahu tentang itu semua." Naren menangkup wajah cantik Nara, sembari memberi penjelasan.
"Apa kamu tahu? Saudara kamu menderita selama ini. Sampai dia mempunyai penyakit dan berjuang hanya dengan ibunya. Lalu kalian dimana saat itu?" Tanya Nara, menunjuk dada Naren.
Naren terdiam. Ini diluar dugaannya, sungguh. Dia tidak pernah tahu keadaan sebenarnya dari saudara seayahnya. Yang dia tahu, ayahnya memberikan kehidupan yang baik dan layak seperti dirinya. Ternyata tidak, semua hanya sandiwara.
Saudaranya menderita. Dia butuh kasih sayang. Hingga melampiaskan semuanya sampai dirinya divonis mempunyai penyakit.
Karena keterbatasan biaya, ibunya sampai rela bekerja di Filipina menjadi ART. Hingga sampai titik yang tak akan pernah terlupakan (antara hidup dan mati), ibunya menyetujui jika anaknya sembuh total, maka dia akan menikahkan anaknya itu dengan anak majikannya. Yang tak lain adalah Chesa.
Semua demi biaya operasi dan pengobatan yang serba mahal. Kesembuhan yang diharapkan pun akhirnya terkabul saat semuanya pasrah. Tuhan kembali memberikan cahaya kehidupan pada anaknya yang tengah berjuang.
"Aku minta maaf, Ra. Aku benar-benar ngga tahu tentang semua itu. Karena pada saat itu juga, aku sedang dalam fase terberat. Kehilangan seseorang yang aku cintai. Ibu dari anakku. Dia pergi untuk selamanya dan tak akan pernah kembali." Nara menatap wajah tampan yang kini menjadi sendu.
Sekarang, semuanya membuka luka lama. Secara bersamaan. Entah siapa yang akan menutup kembali luka itu. Karena keduanya, sama-sama sedang terluka.
Tak ada yang bisa disalahkan. Waktu sudah terlewati. Tanpa mereka sadari. Berjalan layaknya air. Tak akan pernah berhenti. Terus mengalir. Menerjang apapun yang dia lewati.
"Kita adalah orang yang ditakdirkan untuk saling menutup luka itu. Saling memberikan semangat untuk terus berjalan ke depan. Menerjang ombak bersama dan sampai pada tujuan yang telah kita rencanakan."
"Aku berharap begitu. Semoga Tuhan mengiyakan apa yang sudah kita rencanakan. Walaupun kita tidak tahu rencana Tuhan dimasa depan."
Keduanya merapat. Mengikis jarak yang dibuat. Saling merangkul dan merengkuh dalam pelukan yang nyata. Saling memberikan kehangatan satu sama lain.
__ADS_1
Berharap dimasa depan nanti, semuanya akan berjalan sesuai yang diharapkan dan direncanakan.
"Semoga kita ditakdirkan untuk selalu bersama." kecupan singkat mendarat diatas puncak kepala. Penutup malam dingin kala itu. Bersama-sama menuju alam mimpi.
*
*
*
Season 1 TAMAT. Jangan lupa dukung terus yaaa. Author berharap banget sama kalian yang udah setia jadi pembaca, terus meninggalkan kenangan buat Author yaaa. Biar Author kenang sampai kapanpun. Karena tanpa kalian, karya Author ngga ada apa-apanya.
Sampai ketemu di Season 2. Semoga kalian terhibur dengan cerita ini. Kalau kalian kepo dengan visualnya, ada di ig. Tapi nanti Author share kalau season 2 Tamat.
Yuk yang mau lebih kenal lagi sama Author dan para tokoh Visual cerita lainnya bisa cek ig khusus menulis Author. Ig Menulis : @zulf-alina. Ig Author : @zulfa_zul.
Yukkk. Author tunggu yaaa. Like, koment dan masuk grup. Dahhh semuanya... Semoga selalu dalam lindungan Allah yaaa. Aminnn.
Jangan lupa juga baca karya baru :
Skenario Cinta
Mother Of My Child
__ADS_1