Suara Hati Suami

Suara Hati Suami
London


__ADS_3

Lamunan Naren usai tatkala seorang pramugari menyapanya. Tersenyum ketika dia tatap.


"Silakan dinikmati hidangan dari kami. Semoga kenyang dan nyaman sampai ke tempat tujuan." selepas Naren menerima nampan berisi makanan dan minuman, si pramugari pergi.


Tak lupa juga Naren mengucapkan terima kasih. Walau si pramugari sudah pergi. Setidaknya dia sudah mengucapkan, daripada tidak sama sekali.


Cuaca panas diluar pesawat membuat kantuk cepat menyergap. Perut kenyang dan semilir angin yang berasal dari AC. Menambah nilai plus bagi Naren yang kala itu memilih memejamkan mata.


Perjalanan masih lama. Dia harus istirahat agar waktu cepat berlalu. Berharap ketika dia bangun nanti, pesawat sudah landing dengan selamat.


Di tempat lain, calon ibu sedang asik menarikan jemarinya diatas keyboard laptop. Hiasan dua lensa menjadi penghalang cahaya dari layar menuju mata. Terlihat fokus sampai tidak berkedip.


"Mommy, I'm home!!!" suara teriakkan beserta pelukan membuat kefokusan calon ibu itu buyar.


{"Mommy, aku sudah pulang!!!"}


"Change clothes first. After that lunch. Okey?" mendapat ciuman dari putrinya, Nara memberikannya juga. Lalu memerintah Yumna supaya ganti baju terlebih dahulu. Kemudian makan siang.


Yumna menganggukkan kepalanya, paham dengan apa yang mommy-nya perintahkan. Sedikit demi sedikit dia paham bahasa international yang digunakan di sekolah dan lingkungan sekitarnya.


Sebelum bocah cantik itu pergi, dia kembali mencium pipi mommy-nya. Tak lupa memberikan ciuman pada calon adiknya yang masih didalam perut.


Nara bangkit dari tempat duduknya. Berjalan menuju dapur untuk menyiapkan makan siang. Semenjak hamil, Nara jarang memasak. Lebih sering beli makanan diluar. Kebetulan di area perumahannya ada yang berjualan makanan Indonesia. Jadi, Nara tidak lagi susah payah bertempur di dapur. Lagi pula, di penghuni rumah hanya dua orang. Dirinya dan Yumna. Sebentar lagi akan bertambah.


"Mommy, have you eaten?" Bocah berkepang dua itu memeluk Nara dari belakang. Bertanya apakah mommy-nya sudah makan atau belum. Kebiasaan setiap kali Yumna akan makan, lebih dulu dia bertanya pada mommy-nya.


Nara membalikkan badan, melangkah menuju ruang makan. Meletakkan dua piring diatas meja makan beserta dua gelas minuman disampingnya. Menatanya seperti biasa. "Already. Let's eat. You must be hungry? Mommy, buy chicken large ketchup for you. You like it no?" Dia ikut duduk. Menemani Yumna makan sampai selesai.


{"Sudah. Ayo makan. Kamu pasti laparkan? Mommy beli chicken large saus tomat buat kamu. Kamu suka tidak?"}


Yumna dengan semangat mengangguk, tanda dia menyukainya. Sudah lebih dari seminggu, Yumna tidak makan chicken. Kata mommy jika makan terlalu banyak akan membuatnya sulit berpikir. Terlalu banyak lemak dan ayam suntikan. Bahaya.


Segelas jus dan air putih habis. Yumna beranjak dari kursi. Mencuci tangannya yang kotor oleh nasi dan saus tomat. Ciri khas Yumna yang disukai oleh temannya, dia tidak suka makan dengan sendok dan garpu. Walau dia adalah orang kaya, dia tetap tidak suka. Katanya ribet dan susah. Apalagi jika lauknya ayam.


Pernah suatu ketika, teman sebangku Yumna bertanya saat istirahat makan siang. "Why do you use your hands? Wouldn't that make your hands dirty?" dengan tatapan heran, temannya itu bertanya. Mungkin baru kali ini dia melihat seseorang makan tanpa sendok dan garpu. Alias menggunakan tangan.

__ADS_1


{"Kenapa kamu pakai tangan? Bukankah itu akan membuat tanganmu kotor?"}


Bukannya menjawab, Yumna malahan balik bertanya. "Don't you know if eating your hands will make the food better?" Dan hal itu membuat temannya itu penasaran.


{"Apa kamu tidak tahu, jika makan menggunakan tangan itu akan membuat makanan lebih enak?"}


Jordan, teman sebangku Yumna mengerutkan alisnya. Dia belum pernah mendengar adanya penelitian tentang makan menggunakan tangan menjadikan makanan lebih enak. Dia ragu. Tapi ingin mencoba agar bisa terbukti.


"Is that really so?"


{"Apa benar begitu?"}


Yumna menganguk, "Yes. If you don't believe me, try it." dengan lahap dia menghabiskan bekal makanan dari mommy-nya sampai habis.


Dengan ragu Jordan mencobanya. Hal itu diikuti oleh beberapa teman dekat Yumna dan Jordan.


"How? Delicious?"


Jordan menoleh, kemudian dia mengangguk sembari mengacungkan dua jempol. "It's delicious. I really like it." Teman-teman yang tadinya mencoba pun mengatakan hal yang sama. Ternyata enak dan nikmat.


Tiba-tiba suara bel terdengar. Tanpa diperintah, Yumna berlari menuju pintu utama. Membuka pintu setelah menekan sandi.


"Jordan? That's you?"


{"Jordan? Itu kamu?"}


Bocah laki-laki berambut pirang itu tersenyum pepsodent. Begitu pula dengan seorang wanita disampingnya. Ibu Jordan, tetangga Yumna.


"Who's coming?" Nara datang, berdiri dibelakang Yumna.


{"Siapa yang datang?"}


Ibu Jordan, nyonya Michel menyalami Nara. Memberitahukan pada Nara, bahwa dia menitipkan Jordan karena ada urusan.


"Sorry it's often troublesome." nyonya Michel memeluk Nara. Kebiasaan sebelum pamit.

__ADS_1


{"Maaf sering merepotkan."}


Nara menggeleng, tidak ada direpotkan. Dia justru senang. Rumahnya bertambah ramai. Yumna juga tidak kesepian karena terus sendirian.


"No. I'm happy because the house is getting more and more crowded." Nara menggelengkan kepalanya. Perkataan nyonya Michel tidak benar. Sama sekali tidak merepotkan.


{"Tidak. Justru saya senang karena rumah menjadi semakin ramai."}


Nyonya Michel tersenyum, kemudian dia melangkah pergi. Tak lupa melambaikan tangan sebelum hilang dalam laju mobil.


Setelah nyonya Michel pergi, Nara mengajak Jordan dan Yumna untuk masuk ke rumah.


"Have you had Jordan's lunch?"


{"Apakah kamu sudah makan siang Jordan?"}


"Already, auntie Na."


Yumna mengajak Jordan untuk pergi ke ruang bermain setelah percakapan singkat itu usai. Sedangkan Nara, dia kembali duduk di kursi untuk melanjutkan tugas kuliahnya.


Pesawat yang ditumpangi Naren landing dengan selamat pukul sembilan kurang lima belas menit di bandar udara Internasional London Heathrow, Bratania Raya, kota London. Bandar udara yang terkenal sebagai bandar udara tersibuk do negara dengan julukan The Black Country.


"Alhamdulillah sampai." Naren turun dari pesawat bersama dengan penumpang lainnya.


Dia berjalan keluar dari bandara. Mencari taksi dan bersiap bertemu dengan keluarga kecilnya.


Memori masa lalu kembali menghampiri. Ingatan yang tak akan pernah terlupakan. Semenjak penghuni baru hatinya berpindah negara, memori itu sering muncul begitu saja. Apakah itu sebuah pertanda akan sesuatu?


*


*


*


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa like, koment dan masukkin ke favorite yaa. Semoga menghibur kalian. Makasih buat yang sudah jadi pembaca setia. Semoga bermanfaat yaa. Walaupun dikit tapi ngga papa, masih nunggu kalian hadir. Sampai ketemu di bab selanjutnya.


__ADS_2