
"Apa kamu bersedia menjadi istriku sekaligus ibu untuk anakku?" Naren memandang lekat wajah cantik Nara. Netranya yang bening membuat Naren merasa teduh.
Hening menjadi jeda sesaat setelah pertanyaan yang Naren lontarkan pada Nara. Harapan besar Naren taruh pada wanita yang kini sedang mengguncangkan kakinya dengan pelan. Matanya fokus ke depan. Beberapa kali berkedip kemudian menunduk sembari menghembuskan napas pelan.
Nara, dia sendiri tak menyangka jika akan ada pertanyaan ini diantara dia dan klien perusahannya. Kini antara bingung dan takut.
Dia bingung, akan menerima atau tidak. Entah kenapa, hatinya berdesir ketika berada dengan jarak sedekat ini. Bukan lagi dua klien perusahaan yang sedang membahas kerjasama. Tapi, dua manusia dengan rasa yang berbeda.
Dan dia juga takut. Dia takut apa yang selama ini dinanti tiba. Apalagi itu terjadi setelah dia menerima pria beranak satu disampingnya.
Apa yang dia tunggu?
Kekasihnya, sudah dua tahun menghilang. Entah kemana. Meninggalkan dia sendirian. Berjuang tanpa adanya penyemangat selain keluarga.
Padahal dulu kekasihnya yang menyuruhnya untuk menjadi pribadi yang mandiri. Itu adalah sebuah tantangan. Dan dia menerimanya, dengan menjadi CEO cabang perusahaan Firma Group. Lalu setelah tantangan itu dia buktikan, kenapa kekasihnya justru pergi? Bahkan tanpa memberikan alasan apapun? Selucu itukah meninggalkan seseorang?
"Kamu ngga perlu jawab sekarang. Aku bakal nunggu." Nara tersadar akan lamunanannya. Dia memutar wajah sembilan puluh derajat. Satu garis pandang dengan Naren.
"Aku bisa jawab sekarang." ucapnya dengan senyum tipis.
Bunda pernah bilang, jangan pernah mengecawakan orang. Apalagi orang yang kita kecewakan adalah orang yang memang benar-benar tulus dan serius.
Mengingat perkataan bunda, Nara menarik napas, menatap ke depan. Memandang air mancur yang menjadi dekorasi dibelakang kantor. Dia berharap, keputusan yang dia ambil tidak salah.
"A-apa jawaban kamu?" Naren melirihkan suaranya. Ikut memandang air mancur. Bersiap terbang atau jatuh.
"Bismillah, aku bersedia jadi istri kamu sekaligus ibu untuk anak kamu."
Bulir bening mengalir setelah kalimat yang diucapkan berakhir. Menitik ke permukaan krudung yang dipakai Nara saat itu. Jantungnya berdegup kencang. Sesak pun dia rasa juga. Entah kenapa ada rasa sakit ketika dia mengatakan 'bersedia'.
Berbeda dengan Nara, pria disampingnya tersenyum. Hatinya melayang jauh. Merasakan bahagia luar biasa. Seperti dulu, ketika almarhumah istrinya mengatakan hal yang sama.
Sebulan setelah hari itu, acara pernikahan berlangsung. Dua keluarga terlihat akur dari panggung utama. Senyum tipis terukir dibibir merah Nara. Dia senang, melihat kedua orangtuanya yang bahagia bersama besan.
"Apa kamu bahagia?" suara berat dari pria yang kini berstatus sebagai suaminya berhasil mengalihkan perhatian Nara.
__ADS_1
Tak langsung menjawab, Nara lebih dulu mengangguk pelan. "Alhamdulillah bahagia." walau dalam hatinya berceletuk hal lain. Masih berharap kekasihnya datang dan memberikan jawaban dari semua pertanyaannya selama ini.
Malam tiba dengan berhias dinginnya udara. Kedua manusia yang baru saja sah menjadi suami istri itu duduk di balkon berteman susu hangat. Keduanya nampak canggung, seperti saat berada di taman belakang kantor.
"Sebelumnya aku minta maaf. Ini murni kesalahan aku." Nara mengawali setelah meminum sedikit susu dalam gelas. Dia masih memegangnya, merasakan kehangatan yang menjalar dari telapak tangan.
Angin malam berhembus. Menerpa wajah tampan dan lelah ayah beranak satu itu. Dia ikut mengambil segelas susu putih hangat, menghangatkan badan yang mulai dingin.
"Aku tidak tahu apa yang kamu maksud tentang kesalahan. Karena, kita baru saja menapaki lembaran baru dalam rumah tangga." Naren menengok. Melihat wajah cantik yang nampak lelah itu beberapa detik. Kemudian kembali melihat ke luar balkon.
Mendengar balasan seperti itu, Nara menunduk. Bingung. Akan memulai semua darimana. Takut, membuat suaminya tersinggung jika tahu yang sebenarnya.
"Maaf, aku belum berkata jujur tentang hal ini. Aku masih menanti waktu yang tepat. Dan mungkin saat ini adalah waktunya. Aku minta, apapun yang aku katakan nanti, kamu akan memakluminya."
Sontak mata keduanya bertemu. Beradu pandang dengan lembut. Lurus.
Naren meminum susu hangat lagi. Udara kian mendingin, begitu pun percakapan mereka. "Katakan saja."
Nara tak kuasa jika harus berkata jujur dengan menatap netra teduh dari suaminya. Sulit. Hingga akhirnya, dia memilih melihat gedung percakar langit yang nampak apik. Memegang erat gelas yang menghantarkan rasa hangat ke tubuhnya yang dingin.
Mata berkornea hitam kecoklatan itu berkaca-kaca. Hatinya seperti tersayat. Rasa yang membingungkan. Ambigu jika dipikirkan.
Pria disampingnya mengukir senyum tipis. Segelas susu yang tinggal seperempat dia minum sampai tandas. Entah kenapa tiba-tiba tenggorokannya kering. Bibirnya kelu untuk sekedar membalas ucapan yang sukses membuat hatinya robek.
"Maaf... Karena aku baru bilang ini semua."
Menahan gejolak perih dihati, Naren memilih bangkit dari kursi. Mencoba tersenyum untuk menutupi rasa yang melanda. Kemudian dia berkata, "Ngga papa. Mungkin kamu masih butuh waktu untuk nerima aku." setelahnya, Naren pergi. Tak ingin meluapkan rasa yang bergejolak pada wanita yang duduk diam di kursi balkon.
***
Panggilan sopir taksi menyadarkan Naren dari lamunan penghias jalan menuju rumah yang menjadi tujuannya ada di negara asing ini. Dia merogoh saku, memberikan uang pada sopir taksi. Kemudian pintu dibuka. Dia keluar dan mengambil barang-barangnya yang berada di bagasi mobil.
"Thanks."
Taksi pergi setelah Naren selesai menurunkan barang-barang yang dia bawa. Sebelum berjalan menaiki beberapa tangga menuju pintu utama, pertama dia memandang rumah yang kini berpenghuni keluarga kecilnya. Rumah kecil, namun mampu memberikan kehangatan.
__ADS_1
Bayangan yang menghampiri di taksi tadi dia tepis. Tak pantas dia pikirkan itu semua. Kini tinggal kebahagiaan yang akan dia jemput setelah lama dinanti.
Tingtong! Tingtong!
Tak berapa setelah memencet bel pintu rumah terbuka. Menampakkan seorang gadis mungil nan cantik dengan seorang laki-laki tampan disampingnya. Mereka bergandengan tangan. Erat, seperti tak mau lepas.
"Princess?" Naren membentangkan tangannya lebar. Membuka pelukan penuh kerinduan untuk putrinya.
"Daddy?!!" princess kecil itu langsung memeluk tubuh sang daddy dengan senyum mengembang lebar.
Bulu mata lentik Jordan berkedip beberapa kali. Masih mengamati pemandangan yang jarang dia lihat. Pelukan hangat seorang ayah untuk putrinya. Dia juga ingin itu. Tapi sayang, ayahnya terlalu sibuk. Sampai lupa, bahwa ada yang selalu menunggunya disetiap waktu.
"Who's coming?" pertanyaan yang menyapa indera pendengaran membuat ketiga orang itu melihat ke sumber suara.
"Daddy Yumna, auntie Na." Jordan menjawab lebih dulu. Menunjuk ke arah Naren dan Yumna yang tengah menumpahkan rasa rindu mereka lewat pelukan. Hal itu membuat orang yang tadi bertanya mematung ditempat.
"Kak? Itu kamu kah?"
*
*
*
Bersambung...
Jangan lupa like, koment dan masukin ke ranjang favorite yaa.
Minta doanya juga gaes, novel terbaru mau lounching. Ini khusus buat lomba. Jadi minta bantuan dan dukungannya yaa. Walau ngga menang ngga papa, itu sudah biasa. Tapi ini masalah mencoba, jadi tahu seberapa besar kemampuan kita. Betul ngga?
Judulnya :
Wilson Edel : The Explorer Of World History
Lomba mengubah takdir.
__ADS_1
Tunggu terus ya gaes. Makasih semua. Jumpa di bab selanjutnya.