
Flashback...
Kertas putih diremas setelah dibaca dengan seksama. Air mata jatuh melewati pipi mulus. Meninggalkan bekas dipermukaan krudung yang sedang dipakai untuk menutup aurat.
Ucapan dokter yang menjelaskan tentang kata yang tertera dalam kertas putih itu seakan membuatnya menjadi begitu lemah. Dirinya terduduk lemas di jok mobil. Kepala dia sandarkan karena merasa pening.
Niat hati ingin memperbaiki diri di negeri orang, justru berantakan hanya karena hasil dari kertas putih. Pasti suami yang akan dia mintai ijin itu akan melarangnya.
Ini tidak boleh terjadi. Dia harus tetap pergi. Memperbaiki diri dan pergi dari masa lalu. Setelah perjanjian dimana dia dan mantan pacarnya saling menjauh agar tidak terus terikat oleh masa lalu. Namun kembali lagi. Hasil itu membuatnya putus asa.
Haruskah dia berbohong agar mendapat ijin?
***
Didalam mobil yang biasa Nara kendarai ke kampus kini tengah melaju kencang di jalan raya. Naren yang mengambil alih kemudi setelah melakukan pemeriksaan di rumah sakit.
"Setelah pemeriksaan tadi, aku berpikir untuk pulang bulan depan." beritahu Naren tentang keputusannya.
Sontak hal itu membuat Nara terkejut. "Kenapa? Aku baik-baik aja disini. Cuma harus jalani beberapa perawatan. Kamu harus tetep pulang ke Indonesia, kak." Nara membalas ucapan suaminya. Dia tidak ingin membebani suaminya. Pekerjaan di Indonesia banyak, tidak mungkin ditinggal selama sebulan lagi. Apalagi suaminya itu seorang CEO.
"Kamu butuh aku disini. Aku ngga mungkin ninggalin kamu. Ini konsekuensi yang kamu ambil setelah hampir 4 tahun berbohong sama aku. Plis, jangan bantah keputusan aku lagi." tegas Naren.
Mendengar hal itu membuat Nara diam. Jika sudah seperti ini dia mengalah. Tak mungkin membalas ucapan tegas dari suaminya.
Selama perjalanan hanya keheningan yang mengisi. Hingga mobil sampai di parkiran luas barulah keduanya membuka percakapan lagi.
__ADS_1
"Biar aku yang masuk ke dalam, kak." ucap Nara, bersiap keluar dari mobil.
Ketika Nara hendak turun dari mobil, cekalan tangan membuatnya mengurungkan niat. "Ada apa, kak?" Nara menoleh. Menatap suaminya yang masih dengan setia duduk di jok sopir.
"Tunggu di mobil." perintah Naren.
"Tapi?"
"Lihat kesana." perintahnya.
Nara mengikuti arah mata Naren. Bersama mereka lihat Yumna dan Jordan. Bergandengan tangan keluar dari sekolah. Keduanya terlihat sangat akrab. Seperti seorang sahabat.
Tak lama, mobil berwarna silver berhenti didepan Yumna dan Jordan. Kemudian Jordan berpamitan. Dia sudah dijemput. Setelah Jordan pergi, tinggalah Yumna sendiri ditempat penjemputan.
"Ayo kita kesana." ajak Naren yang langsung diangguki Nara.
"Princess?"
Yumna menoleh. Dia tersenyum ceria melihat siapa yang datang. "Daddy!!!" lantas Yumna memeluk tubuh Naren dengan erat. Masih rindu dengan sosok tegar ini. Kemudian bergantian dengan Nara. Dia memeluk sosok yang kini sedang mengandung adiknya.
"Let's go home, princess." ajak Naren.
("Ayo kita pulang, putri.")
"Come on!!!"
__ADS_1
("Ayo!!!")
Yumna dengan senang hati menggandeng tangan Nara dan Naren. Berjalan bersama masuk ke dalam mobil.
Mobil pun melaju dijalan raya. Keluarga kecil itu asik menikmati perjalanan pulang. Mereka tidak menyadari jika sesuatu akan terjadi.
Brak!
Jedar!
"Daddy!!!"
"Mommy!!!"
Yumna merintih. Memanggil Nara dan Naren yang saat itu tidak sadarkan diri. Detik berikutnya, teriakan terdengar dimana-mana. Hujan pun turun dengan derasnya. Ikut mewakili kesedihan orang-orang disana. Termasuk Jordan.
*
*
*
Bersambung...
Maaf semua karena baru muncul sekarang. Bener-bener lagi ngga ada waktu buat nulis. Ini pun curi-curi waktu kalau pelajaran kosong. Jadi, cuma bisa nulis segini dulu setelah sekian lama istirahat.
__ADS_1
Makasih buat kalian yg udah nunggu dan tetap setia sama novel ini. Aku kasih tau dikit yaa. Di season 2 ini ngga banyak. Bentar lagi bakal tamat.
Tunggu terus kelanjutannya. Up slow yaa gaes. Makasih banyak semua. Sampai ketemu di bab selanjutnya. Dahhh...