Suara Hati Suami

Suara Hati Suami
Extra Part 6


__ADS_3

Seperti yang Yumna katakan pekan lalu, malam ini keluarga Sarsen datang dengan niat baiknya yaitu melamar Yumna. Keluarga pun menyambut dengan baik. Bahkan semua telah siap sore tadi. Dekorasi lamaran, makanan yang akan dihidangkan dan tentunya Yumna pun sudah siap dengan acara yang lama dia nantikan.


Pukul delapan malam, semua keluarga telah menempatkan dirinya di kursi yang telah disiapkan. Tinggal Yumna yang masih berada dikamarnya karena sedang dirias. Ditemani Anzel yang juga sudah cantik dengan baju kebaya yang senada dengan yang Yumna kenakan.


Tak lama keluarga Sarsen datang. Mereka disambut hangat oleh keluarga Yumna. Beberapa hantaran seseraham pun diterima dengan baik. Dikumpulkan menjadi satu. Setelahnya mereka menempatkan diri. Bersama menunggu Yumna yang belum turun juga.


Sarsen yang malam itu gagah dengan batik yang nampak pas ditubuhnya berulang kali menarik napas. Sesekali melirik tangga ke lantai dua yang dia yakini Yumna akan turun dari sana.


"Kamu terlihat cemas, putraku." ayah Sarsen berbisik pelan dengan bahasa Kazakhstan ketika melihat sang anak yang nampak tidak tenang dari tadi. Terbukti dengan tangan Sarsen yang basah.


Sarsen langsung memandang ayahnya. Mengulas senyumnya. Berusaha terlihat biasa saja. Padahal sedari tadi jantungnya berdebar tak karuan.


"Apa dulu ayah seperti ini saat meminang ibu?" tanyanya, mengalihkan rasa cemasnya.


Ayah Sarsen mengangguk mantap. "Tentu. Karena hal itu sangat wajar. Yang terpenting kamu tetap percaya diri. Tunjukkan kamu yang apa adanya. Oke putra ayah?"


Sarsen membalas dengan anggukan pula. Kembali menarik napas untuk mengatur segala rasa yang hadir. Hingga matanya terpaku oleh sosok cantik yang tengah menuruni anak tangga dengan digandeng bidadari kecil yang tak kalah cantik dan mirip dengan Yumna. Untuk sesaat Sarsen hanyut dalam kecantikan wanita yang dia kejar dengan sungguh-sungguh.

__ADS_1


"Masya allah..." ucapnya lirih. Mengagumi betapa cantiknya bidadari yang Tuhan kirimkan untuk menemaninya mengarungi bahtera rumah tangga nanti.


Semua orang tersenyum saat Yumna berjalan menuju kursi yang berada disamping Naren. Wajah cantik yang tak kalah jauh dengan mendiang ibunya membuat semuanya menatap kagum dan juga haru. Tak menyangka jika waktu akan berjalan secepat ini. Yumna kecil yang manja kini telah berubah menjadi gadis yang siap dipinang oleh seorang lelaki yang insya allah akan menjadi imamnya nanti.


Naren tersenyum ketika putri sulungnya duduk disamping kanannya. Diikuti putri bungsunya yang duduk disamping kirinya. Tanpa Naren minta, dua putrinya menggenggam tangannya erat. Bersamaan mereka menghadirkan senyum yang membuat Naren berkaca-kaca.


"Daddy akan selalu ada di hati Yumna. Walaupun nantinya akan ada Sarsen. Percayalah Dad, Daddy cinta pertama Yumna dan selamanya akan seperti itu." kata Yumna dengan lirih namun sangat terdengar jelas ditelinga Naren. Dan hal itu berhasil membuat setetes air mata Naren luruh. Dengan sigap Yumna mengelap air mata yang turun dipipi Naren dengan ibu jarinya.


Tak lama seorang MC maju ke panggung. Membuka acara lamaran dengan ucapan selamat datang dan terima kasih kepada semua pihak yang telah hadir. Kemudian membacakan susunan acara. Tak menunggu waktu lama, MC mempersilakan kepada perwakilan dari mempelai pria untuk menyampaikan maksud kedatangannya.


Semua menyimak dengan baik setiap kata yang terucap dari pihak mempelai laki-laki. Setelahnya, dari pihak mempelai perempuan untuk menjawab atas pinanangan yang telah diutarakan.


"Hari ini aku berjanji dengan segenap hatiku, dengan ketulusan hati untuk bisa menjagamu. Untuk bisa menjadikan kamu satu-satunya dihidupku. Jika dulu cinta pertamamu yaitu ayahmu memberikan segala cinta kasih dan rasa sayangnya padamu, maka izinkan aku sebagai cinta terakhirmu untuk menghadirkan surga untukmu. Dan di akhir kata, bersediakah kamu menjadi istriku?" Sarsen menatap dalam manik bening yang berada didepannya. Mengucapkan niat baiknya dengan penuh ketulusan dan kesungguhan terhadap wanita cantik yang tengah tersenyum ke arahnya dengan mata yang mulai digenangi air mata.


Yumna tertunduk setelah mendengar ucapan dari pria akan menjadi pendamping hidupnya. Kemudian menatap wajah tampan yang tengah tersenyum ke arahnya. Menanti jawabannya.


"Bismillahhirrahmannirahim. Dengan izin Allah dan juga restu daddy. Insya Allah aku menerima kamu sebagai calon suamiku." ucapnya dengan haru bersamaan meluncurnya air mata kebahagiaan yang tak dapat Yumna cegah.

__ADS_1


"Alhamdulillah!!!" semua orang bersamaan mengucap syukur. Kemudian bertepuk tangan guna memeriahkan acara lamaran pada malam hari ini.


Sedangkan Sarsen mendekat dengan buket bunga ditangannya. Disampingnya sang ibu berjalan menemani. Sampai berdiri tepat didepan Yumna.


Ibu Sarsen memasangkan cincin di jari manis Yumna sebagai tanda bahwa keduanya kini telah mempunyai sebuah ikatan. Dan disusul oleh nenek yang juga telah berdiri disamping Yumna. Dipakaikannya cincin dijari Sarsen. Kemudian kedua wanita tersebut turun dari panggung. Meninggalkan Sarsen yang Yumna diatas sana.


"Terimalah bunga ini sebagai tanda bahwa aku benar-benar berusaha menjadikan kamu sebagai bidadari dihatiku." ucap Sarsen seraya menyerahkan sebuah buket bunga yang dipilihnya langsung.


Dengan perasaan yang senang Yumna menerimanya. Kemudian mengucapkan, "Terima kasih karena telah meyakinkanku. Semoga Allah selalu memberikan kita kemudahan menuju hari dimana kita akan menjadi sepasang suami istri." balas Yumna dengan senyumnya yang sangat meneduhkan bagi Sarsen.


*


*


*


Bersambung...

__ADS_1


Hai ges, maap ya baru bisa up. Semoga bisa tetap menghibur kalian dan bisa menemani kalian di bulan puasa ini. Selamat menjalankan ibadah puasa. Semoga selalu dilancarkan sampai akhir. Amin.


__ADS_2