
Hari minggu yang selalu dinantikan akhirnya tiba. Waktunya beristirahat dan berkumpul dengan keluarga. Menikmati waktu yang berharga dengan orang tercinta. Seperti halnya Nara, kini dia sedang sibuk di dapur. Bertempur dengan cipratan minyak dan bumbu.
Di meja makan, ada Naren dan Yumna yang tengah menunggu masakan kesukaan mereka. Mereka bercanda tawa hingga apa yang mereka nantikan pun datang dan tersaji di meja. Bau harum khas tercium jelas. Membuat perut yang bersorak minta untuk segera diisi.
"Daddy, yuk kita jalan-jalan." ajak Yumna ketika sarapan dengan berlangsung.
Naren menghentikan gerakan menyendok nasi putih hangat berlauk rendang. Matanya menatap ke arah Yumna yang asik menikmati sarapan. "Kamu pengen jalan-jalan kemana, sayang?" tanyanya.
"Pengen ke kebun binatang." jawab Yumna dengan semangat.
"Bagus donk. Lagian kan kita jarang keluar juga buat jalan-jalan, kak. Mumpung Yumna lagi pengen. Sekalian refreshing kamu juga biar ngga jenuh di rumah terus." Nara pun terlihat sangat bersemangat kala itu.
Mendengar permintaan dari dua wanita berharga dalam hidupnya, akhirnya Naren menyetujui. Lagi pula dirinya juga sudah mulai bisa berjalan tanpa tongkat. Walau masih pelan-pelan yang terpenting ada kemajuan.
"Ya udah, aku ngikut kalian aja mau bagaimana." ucapnya, lalu kembali melanjutkan sarapan pagi.
Pukul delapan, bel rumah berbunyi. Buru-buru bi Inul yang tengah membereskan kamar Yumna, pergi ke ruang tamu. Membukakan pintu utama rumah yang tidak terkunci. Menyambut tamu yang datang sepagi ini.
__ADS_1
"Maaf, apa Naren dan Yumna ada di rumah?" tanya seorang wanita yang terlihat lebih tua dari bi Inul.
Bi Inul tersenyum simpul, "Ada bu. Ayo silakan masuk. Biar saya panggilkan pak Naren dan neng Yumna." sembari membukakan pintu lebar-lebar, bi Inul mempersilakan dua orang tua itu untuk masuk ke dalam.
"Terima kasih." ucap si wanita tua setelah duduk manis di sofa empuk. Matanya menyisir ruangan. Tertuju pada sebuah lukisan wajah bergambar tiga orang sedang tersenyum. Dia paham siapa yang ada dilukisan, namun tidak dengan wanita berhijab yang sepertinya asing dimatanya.
"Sama-sama, bu. Saya permisi dulu sebentar. Silakan diminum dulu teh hangatnya." setelahnya, bi Inul meninggalkan dua orang tersebut. Berjalan dengan cepat menuju kamar majikannya.
"Ada apa, bi? Persiapan Yumna udah selesai?" pintu terbuka, Nara langsung bertanya pada si pengetuk pintu kamarnya.
"Belum, bu. Cuma di ruang tamu ada tamu. Mereka tanya pak Naren dan neng Yumna. Mohon ibu segera temui mereka sama pak Naren. Mereka sedang menunggu, bu." jawab bi Inul sembari memberitahu tamu yang datang pada Nara.
Nara segera membertahu Naren tentang tamu yang tadi diberitahu oleh bi Inul. Mereka segera menuju ruang tamu. Menyambut tamu yang datang sepagi itu.
"Bapak? Ibu? Ya Allah... Sudah lama kita ngga ketemu." Naren langsung mencium tangan dua orang tua yang duduk si sofa. Memeluk mereka dengan erat. Melapas rindu.
"Dimana Yumna, Ren? Kami kangen cucu kami." tanya si wanita tua itu setelah pelukan terlepas.
__ADS_1
"Yumna ada di kamar, bu. Biar nanti bi Inul panggilkan." jawab Naren.
Nara mencoba mengingat siapa dua orang tua yang tadi berpelukan dengan suaminya. Sepertinya dia pernah melihat dan bertemu. Tapi, sekarang dia lupa wajah itu.
"Pak, bu, kenalin dia Nara istri Naren." Nara yang tahu kontak mata antara mertuanya itu segera melakukan tindakan. Yaitu menjelaskan.
"Owalah. Ibu baru ingat. Terakhir ketemu kan dulu banget. Waktu kamu menikah. Jadi, lupa Ren. Maklumi ya nduk." si wanita tua itu menepuk jidatnya yang lupa siapa wanita cantik yang sepertinya menurutnya asing. Ternyata istri kedua Naren, menantunya.
Nara menyalami mertua Naren dan tak lupa sungkem sebagai adat dan budaya. "Ngga papa, bu. Saya juga tadi lupa. Karena mungkin dulu cuma sekali bertemu." ungkap Nara dengan jujur.
*
*
*
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa like, koment dan favorite yaa. Makasih semuanya... Doakan semoga bisa UP lagi kaya kemarin. Yuk koment buar Author tambah semangat.