Suara Hati Suami

Suara Hati Suami
Doa


__ADS_3

Melihat dua orang yang sangat dia hormati, Naren berusaha tersenyum untuk menyambut kedatangan mereka. Walau pada dasarnya, kini senyum adalah hal tersulit baginya. Tapi, dirinya tak mau membuat sang mertua semakin bertambah khawatir. Mengingat kondisinya juga yang pastinya sudah membuat khawatir.


Begitu pun dengan Nara, dia segera mengusap air mata yang mengalir dipipinya. Meletakkan semangkuk bubur yang baru berkurang tiga sendok. Itupun sangat sedikit.


Nara mencium tangan orangtuanya secara bergantian. Lalu, membawa Yumna untuk duduk di sofa bangsal.


Ayah Ael dan bunda Ai menghampiri sang menantu yang terduduk bersender di ranjang. Kepala dengan perban tebal, tangan dan kaki digips. Terlihat begitu menydihkan dan memprihatinkan ketika dipandang.


Namun, mereka salut terhadap menantunya. Meski dengan keadaan seperti itu, dia tetap tersenyum.


"Bagaimana keadaanmu, Ren?" ayah duduk di kursi yang tadi ditempati oleh putrinya. Sama halnya juga dengan bunda Ai. Dia duduk disamping ayah Ael.


Naren menggerakkan sedikit tubuhnya karena pegal. Setelah merasa posisinya nyaman, Naren menatap ayah mertuanya. "Alhamdulillah, yah. Sudah lebih baik dari tadi malam pasca operasi." setenang mungkin, Naren menjawab pertanyaan yang terlontar dari ayah mertuanya.


Bunda Ai yang membenarkan jas putihnya, lalu ikut bertanya pada sang menantu, "Bagaimana kejadian itu terjadi? Apa kamu masih ingat?"


Mendengar pertanyaan itu, reflek Naren melihat ke arah Nara yang sedang menyuapi Yumna dengan buah segar yang sudah diiris sama besarnya didalam mangkuk buah. Matanya kembali menatao sang mertua yang tengah menantikan jawabannya.

__ADS_1


Menghela napas, Naren menjawab, "Maaf, bun. Aku benar-benar ngga ingat saat itu. Bahkan, aku ngga sadar kalau itu adalah sebuah kecelakaan. Karena yang aku rasa saat itu hanyalah sakit dan pengapnya kegelapan. Rasanya aku seperti tidak bernyawa lagi. Seluruh tubuhku sulit untuk aku gerakkan. Bahkan, aku pun sulit berbicara." ungkap Naren dengan jujur.


Nara yang tengah menyuapi Yumna, langsung terdiam. Dirinya tak mengira jika sang suami akan merasakan itu semua. Seperti mati rasa.


Bunda Ai mengangguk paham dengan keadaan sang menantu. Begitu pula dengan ayah Ael, dirinya paham dengan apa yang diungkapkan sang menantu. Pasalnya, dia juga dulu pernah merasakan hal yang sama.


Waktu itu, kecelakaan mobil membuatnya koma selama dua hari. Nara, baru berusia tiga bulan. Walau sudah lama terjadi, namun rasa sakit itu sepertinya tidak akan pernah hilang ditubuhnya. Mungkin menjadikan kenangan, bahwa dirinya juga pernah merasakan sakitnya kecelakaan.


"Semoga kamu cepat sembuh." ucap ayah Ael.


Setelah satu jam berada di bangsal, ayah Ael dan bunda Ai pamit. Keduanya mempunyai pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan. Naren memakluminya. Sang mertua memang orang yang sangat sibuk. Bahkan kesibukannya seperti dirinya yang bekerja di kantor, menduduki jabatan CEO.


Nara mengantar kedua orangtuanya sampai ke parkiran rumah sakit bersama dengan Yumna. Meninggalkan Naren yang harus istirahat penuh.


Setelah ayah Ael dan bunda Ai pergi, Nara mengajak Yumna untuk duduk di taman yang berada di rumah sakit. Mereka menikmati angin sejuk pagi hari. Beserta sinar matahari yang menjadi vitamin untuk tubuh.


"Mommy, daddy kapan sembuh? Terus kita kapan pulang ke rumah?" tanya Yumna saat duduk di kursi taman. Memandangi sang mommy yang sedari tadi melihat entah ke arah mana.

__ADS_1


Nara menatap Yumna, tangannya tergerak membelai wajah mungil itu. "Doain ya sayang. Semoga daddy cepat sembuh. Nanti kita akan pulang bersama. Pokoknya, Yumna terus berdoa supaya daddy cepat sembuh. Setelah itu, kita pulang ke Indonesia." ucapnya.


Ucapan itu bagai harapan besar untuk Nara. Pulang ke Indonesia bersama dengan keluarga kecilnya dan memperbaiki kesalahan yang telah dia perbuat.


*


*


*


Bersambung...


Yuk dukung terus... Like, koment dan favorite. Makasih semuanya...


Tunggu terus kelajutannya yaa...


Se

__ADS_1


__ADS_2