Suara Hati Suami

Suara Hati Suami
Bohong


__ADS_3

"Kak, aku hamil. Kenapa kamu malah sedih?" Nara yang menangkap raut berbeda dari sang suami akhirnya memilih bertanya.


Mendengar pertanyaan yang terlontar untuknya, Naren menoleh. Matanya menelisik ke bola mata milik sang istri. "Aku sedih karena aku takut." bukan itu yang sebenarnya ingin Naren katakan. Namun, semua sudah terucap. Tak lagi dapat kembali layaknya sebuah panah yang sudah melesat.


"Takut? Apa yang kakak takutkan?"


Membuang muka, Naren mengatakan dengan jujur. "Aku takut ini adalah sebuah kebohongan." ucapnya dingin.


Seakan ada panah yang menembus ulu hatinya, tubuh Nara bergetar. Air mata tak lagi dapat ditahan. Mengalir deras tanpa dapat dicegah. Menjadi saksi betapa sakitnya ucapan yang terlontar dari bibir yang dulu selalu berkata manis.


"Kak, apa aku terlihat berbohong sekarang? Untuk apa aku berbohong, kak?" tanyanya disela tangis.


Naren mendesah berat, dengan berat hati dia kembali menatap wajah yang kini basah oleh air mata. "Aku tidak pernah tahu, kamu jujur atau berbohong. Tapi yang pasti, sekali berbohong pasti akan kembali berbohong. Tentunya, tujuan itu hanya kamu yang tahu." jawab Naren sembari memberikan benda pipih yang menunjukkan garis dua.


"Aku bisa membuktikannya, kak." ucap Nara dengan tegas.


"Dengan apa?"


Mengusap bulir bening yang mengalir, Nara menjawab "Pemeriksaan."


"Baiklah, besok kita lakukan pemeriksaan. Agar kita tahu, kamu jujur atau masih berani berbohong lagi." setelah mengucapkan itu semua, Naren memilih tidur. Meninggalkan sang istri yang masih diam ditempat sembari memandangi punggungnya.

__ADS_1


Nara bangkit dari kasur, berjalan lunglai ke kamar mandi. Rutinitas yang tak pernah Nara lupakan sebelu tidur. Bersih-bersih dan berwudhu.


***


Keesokan paginya, keluarga kecil itu duduk bersama di ruang makan. Mereka menikmati masakan yang tersaji pagi itu. Mengisi energi sebelum melakukan aktivitas selanjutnya yang pastinya akan menguras tenaga.


Selesai dengan rutinitas pagi, mereka bersiap. Yumna diantar bi Inul ke sekolah barunya. Sedangkan, Nara dan Naren bersiap menemui dokter kandungan di rumah sakit kota.


"Bagaimana dengan pekerjaan kamu?" disela bersiap, Naren menyempatkan untuk bertanya. Karena, mau bagaimanapun pekerjaan haruslah yang utama setelah keluarga.


Nara yang tengah memoles wajahnya dengan sedikit make up menghentikan gerakannya. Menatap sang suami lewat pantulan kaca cermin. "Aku udah bilang ke asistenku, khusus untuk hari ini aku mengambil hari untuk istrirahat." jawab Nara dengan jujur. Karena, memang itulah kenyataannya.


Naren mengangguk mendengar jawaban dari sang istri. Memilih diam seperti akhir-akhir ini dan fokus pada pekerjaannya yang baru saja dikirim oleh sang asisten lewat e-mail sembari menungu sang istri selesai bersiap.


"Alhamdulillah kita sampai juga." setelah mengusap wajahnya, Nara membuka pintu mobil.


Begitupun Naren, dengan dibantu pak sopir dirinya turun dari mobil. Berjalan disamping sang istri masuk ke dalam rumah sakit. Mereka terlebih dahulu menuju meja resepsionis. Setelahnya, keduanya masuk ke ruang bertuliskan 'dokter kandungan'.


Pintu terbuka, keduanya disambut senyum manis dari dokter berwajah asli Indonesia. "Silakan duduk pak, bu." ucapnya dengan ramah. Mempersilakan pasangan suami istri itu untuk duduk di dua kursi khusus.


"Seperti yang bu Nara katakan saat janji temu dengan saya, mari kita langsung cek saja. Jadi, kita bisa tahu. Apakah bu Nara hamil atau tidak." setelah bercakap-cakap tak kurang dari lima menit, dokter akhirnya memutuskan untuk segera melakukan pengecekan.

__ADS_1


"Baik, dokter. Ayo kak." Nara bangkit dan membantu Naren menuju ranjang tempat mereka akan melakukan pemeriksaan.


Sesuai perintah dokter, Nara berbaring di ranjang yang ada didalam ruangan. Dokter menyingkap baju panjangnya ke atas. Menuangkan jell ke atas perut Nara yang putih bersih. Setelahnya, dokter mulai menggerakkkan alat diatas perut yang tadi sudah dioles jell itu.


Dilayar USG, terlihat ada sesuatu seperti biji. Mata Naren tak bisa lepas dari pandangan yang ada dilayar USG. Dirinya merasa pensaran apakah itu anaknya atau bukan.


"Dokter, apa itu janinnya?" tanya Naren yang merasa takjub.


Sang dokter tersenyum mendengar pertanyaan yang terlontar dari pria tampan yang berdiri disamping Nara. "Banar sekali, pak. Itu adalah janin yang ada dirahim bu Nara yang baru berusia sekitar tiga minggu." jawab sang dokter.


Hati Naren mendesir ketika mendengarnya. Dalam hati, dia mengucapkan banyak syukur atas karunia dari Tuhan untuknya. Hingga dirinya tak sadar, mulai berkaca-kaca. Mencium kening Nara dengan penuh cinta dan berulang kali mengucapkan takbir dan pujian untuk Tuhan yang kali ini kembali mempercayainya sebagai orangtua.


"Makasih ya, Ra. Maafin aku juga karena udah nuduh kamu berbohong soal kehamilan ini. Dan sekarang aku percaya, kamu ngga berbohong." Naren mengucapkannya setelah berulang kali mencium kening Nara.


Air mata Nara pun tak lagi dapat dibendung. Measa terharu melihat perubahan pria yang sebentar lagi akan menjadi ayah beranak dua. "Terima kasih Ya Allah atas karunia yang engkau berikan pada kami. Semoga kami bisa amanah." ucapnya dalam hati.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa dukung terus yaa. Like, koment dan favoerite. Kalau mau sedekah juga ngga papa. Author malah senang. Bisa crazy UP. Makasih semuanya...


__ADS_2