
Rasa sepi yang menghampiri membawa pria beranak satu itu pada masa dimana dia benar-benar tidak menginginkan sebuah kehidupan.
Tiga kali dalam seminggu, dia rutin berkunjung. Menemui sang pemilik hatinya yang telah berpulang. Cara itulah yang dia ambil agar kehampaan yang merasuk perlahan hilang.
Taburan bunga mawar terlihat segar diatas nisan. Ada satu buket bunga disana. Masih segar dan cantik. Hiasan istimewa diantara nisan lainnya.
"Aku akan kembali dua hari lagi sayang." kecupan selalu menjadi rutinan sebelum pulang dari pemakaman.
Dibawah payung hitam, pria satu anak itu berjalan sendirian diantara nisan-nisan disekitarnya. Sesekali dia menoleh. Tersenyum, seakan orang yang dia harapkan akan membalas senyumnya seperti dulu.
Pintu mobil dibuka saat beberapa langkah lagi sampai. Payung diserahkan kepada supir. Dia naik. Menutup pintunya dan duduk dalam diam. Matanya fokus ke depan. Menunggu supir yang tengah menaruh payung di bagasi mobil.
"Neng Yumna katanya nangis pak." supir memberitahu saat sudah mulai melaju meninggalkan TPU.
"Ya udah, kita ke kantor." ucapnya.
Mobil melaju di jalan raya yang ramai dengan kecepatan sedang. Beberapa kali menyelip agar cepat sampai. Untungnya, jarak antara TPU dan kantor tidaklah begitu jauh. Dua puluh menit pun sampai.
Naren, duda beranak satu itu segera masuk ke kantor setelah mobil tiba di lobby. Dikawal dengan dua bodyguard-nya menuju lantai tempat dia bekerja, yaitu lantai sepuluh.
Mendengar pemberitahuan dari supirnya tentu membuat Naren khawatir terjadi apa-apa dengan putri kecilnya. Walau itu adalah hal biasa. Tapi, mau bagaimanapun ketika dia mendengar putrinya menangis dia langsung merasa khawatir.
Pintu dibuka dengan cepat. Matanya langsung tertuju pada dua wanita yang tengah duduk di sofa ruang kerjanya. Dia mematung, ketika tahu putri kecilnya sedang tertidur pulas dipelukan seorang wanita yang tidak dia kenal.
"Apa benar, Yumna tadi menangis ketika saya tidak ada di kantor?" tanyanya pada sekretaris sekaligus baby sister.
Wanita berjas abu-abu berkacamata itu bangkit dari duduknya. Menunduk sebagai tanda hormat sebelum menjawab. "Betul, pak. Tapi sekarang sudah tenang. Nona Yumna sudah tidur ketika tadi digendong oleh bu Nara, klien perusahaan."
Naren menatap wajah pulas putrinya yang terlihat tidur dengan nyenyak. Tidak pernah dia melihat putri kecilnya itu tidur senyaman itu tidur digendongan seseorang.
Matanya kemudian tertuju pada wajah cantik yang sedang menatapnya. "Apakah anda CEO cabang Firma Group?" tanyanya sedikit gugup.
"Benar. Itu saya." Nara ingin bangkit, menyalami pria yang akan melakukan kerjasama dengannya. "Duduk saja." mendengar itu, dia kembali duduk.
Naren duduk di kursi tunggal. Mengulurkan tangannya sebagai tanda perkenalan. Atau biasa orang kantor mengatakannya adalah jalinan awal kerjasama antar dua perusahaan.
__ADS_1
"Maaf sudah merepotkan."
Nara menggeleng, dia justru tersenyum. "Tidak papa. Kebetulan saya sedang ada disini. Jadi, saya bisa membantu menenangkan nona kecil ini." dia menoel hidung mancung bayi mungil digendongannya. Merasa gemas saja jika sudah berurusan dengan anak kecil.
Naren tersenyum paksa. Merasa tidak enak pada kliennya yang direpotkan dengan putri kecilnya.
"Nona kecil ini tadi haus. Seharusnya dia minum ASI. Jangan terlalu sering diberikan susu formula. Itu tidak baik untuk perkembangannya. Semua harus imbang." kata Nara, memberitahu pada Naren sekaligus membagikan ilmu yang dia dapat dari bundanya.
Mendengar penuturan itu, Naren berbicara lewat hatinya. Dia juga tidak ingin putri kecilnya hanya diberikan susu formula. Tapi mau bagaimana lagi? ASI yang seharusnya diberikan untuk tumbuh kembang putrinya tidak bisa didapat. Sang pemilik ASI sudah pergi, selamanya. Lalu, dia harus memintanya pada siapa?
"Ah iya, dimana stroller-nya?"
"Ada disana, bu. Biar saya ambil dulu." dengan segera wanita yang mulanya menjadi sekretaris dan kini merangkap menjadi baby sister itu berjalan menuju pojok ruangan. Mendorong stroller mahal milik anak bosnya.
"Tidur yang nyenyak ya nona kecil." Nara menidurkan Yumna di setroller dengan penuh kehati-hatian. Menepuk lembut beberapa kali agar bayi mungil itu nyaman. Setelahnya, dia kembali duduk.
"Mari kita mulai meetingnya."
***
Melihat putrinya yang selalu tenang dalam dekapan wanita cantik, tegar dan berjiwa pemimpin itu menjadikannya yakin. Bahwa itu adalah sebuah pertanda.
Yumna nyaman, dia butuh ibu pengganti. Menyusuinya, menimangnya dan memberinya kasih sayang tulus. Dia begitu yakin untuk itu.
Suatu hari, dia melihat wanita yang akhir-akhir ini memenuhi pikirannya itu sedang duduk sendirian di bangku taman belakang kantor. Kakinya maju mundur, diguncangkan beberapa kali. Beraturan dengan deru napasnya. Zig-zag.
"Assalamualaikum. Maaf menganggu." dia menyapa lebih dulu ketika jarak sudah dekat. Berharap tidak mengagetkan wanita cantik itu.
Nara menoleh, memandang pria yang sedang berdiri dengan jas yang terlihat berwibawa. "Waalaikumsalam. Ngga kok." jawabnya. Kali ini tidak bisa tersenyum seperti ketika di kantor.
"Boleh saya duduk?" Naren melangkah. Meminta ijin pada Nara, tangannya menunjuk ke arah bangku yang masih kosong.
"Silakan."
Dengan senang hati Naren duduk. Jarak menjadi penengahnya. Gugup merasuk kala itu. Entah kenapa. Padahal jika di kantor semua biasa saja.
__ADS_1
Atau inikah yang dinamakan beda?
Jika sudah berurusan dengan kantor, semua diwajibkan professional. Itu berlaku untuk seluruh pekerjanya. Termasuk sang pemimpinnya yang menjadi contoh.
Jika sudah diluar kantor, itu urusan yang berbeda. Bebas. Memang semua tidak mudah jika belum terbiasa. Namun, karena terbiasa itulah menjadi biasa.
"Adakah keluhan yang ingin disampaikan setelah sebulan bekerjasama dengan cabang Firma Group?" Nara berusaha untuk professional pada klien perusahaannya.
Kata nenek, harus berhati-hati pada klien yang belum tentu baik. Mungkin baik, jika menyangkut urusan kerja. Berbeda lagi jika sudah diluar urusan kerja, bisa baik atau tidak.
Dulu, nenek pernah ditipu. Kliennya tahu tentang masalah pribadinya, menggunakan itu semua untuk mengancam kantor. Semenjak itu, nenek menegaskan pada keluarganya agar lebih berhati-hati pada orang asing.
"Alhamdulillah tidak ada." Naren menggeleng. Dia jujur.
"Lalu? Adakah urusan yang penting?"
"Mungkin jika diluar perusahaan tidak usah se-formal itu." tanpa ragu, Naren mengatakannya. Berharap wanita berkrudung pashmina itu tahu.
"Ohhh... Oke-oke...." Nara mengangguk, paham maksud Naren.
"Dimana nona kecil? Dia tidak ikut?" tanyanya penasaran. Entah rindu atau hanya ingin melihat bagaimana keadaannya. Apakah baik-baik saja?
"Yumna ada di rumah sakit." jawab Naren.
"Kenapa bisa? Dia sakit? Demam?" layaknya seorang ibu, Nara langsung khawatir.
Melihat reaksi dari Nara, bibir Naren menyunggingkan senyum manis.
*
*
*
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa like, koment dan masukkin favorite yaa semuanya. Maaf baru bisa up. Jangan lupa mampir ke karya terbaru yaaa. Diary Lin, The Real Revenge dan Mother Of My Child. Makasih semuanyaa. Jumpa kembali dibab selanjutnya.