
Samar-samar, Naren mendengar seseorang memanggilnya. Terdengar ada suara tangisan ikut menyertai. Dengan tenaga yang masih tersisa, Naren menggerakkan kelopak matanya untuk terbuka. Melihat siapa yang menangis dan memanggilnya dengan panggilan yang membuat hatinya bahagia.
"Kak... Aku mohon bertahanlah..." ucapnya dengan memeluk tubuh yang kini penuh dengan darah.
Tak sampai lima detik, mata itu kembali terpejam. Masuk ke dalam gelapnya kegelapan yang seperti tiada ujung. Rasa sakit yang menjalar sudah tak lagi terasa. Ringan rasanya.
Padahal Naren ingin sekali melihat lebih lama wajah yang selalu membuatnya candu. Namun, tenaganya habis. Waktunya beristirahat.
***
Roda brankar bergerak dengan cepat diatas lantai berwarna putih yang dingin. Tetesan cairan insuf menetes cepat seperti jantung yang kini berdetak.
Pintu ICU terbuka dengan lebarnya. Bersiap menerima pasien yang sebentar lagi sampai. Para perawat bergegas mempercepat langkahnya karena waktu mereka tidak lama lagi.
Sekarang nyawa menjadi taruhan. Telat sedikit, nyawa terpanggil.
"Pasien kekurangan darah. Segera cari stok darah di rumah sakit. Kalau tidak ada, cari keluarganya. Karena kita tak punya banyak waktu lagi." seorang dokter berkaca mata memberikan instruksi pada kawan-kawannya ketika sudah masuk ke ruang ICU.
Dua perawat keluar dari ICU menuju ruangan yang digunakan sebagai bank darah. Selama kurang lebih sepuluh menit berkutat di ruangan, namun apa yang mereka cari tak ada.
Mengapa?
Karena, golongan darah Naren termasuk langka yaitu golongan darah O+.
__ADS_1
Seperti yang sudah diinstruksikan, dua perawat itu lantas mencari keluaga si pasien. Mereka tak basa-basi, to the point.
Semua orang yang mendengar pertanyaan dari si perawat hanya saling tatap. Mereka semua tak ada yang memiliki golongan darah yang sama.
Hingga suara seseorang, mengejutkan mereka semua.
"Golongan darah saya sama. Segera tranfusikan." ucapnya dengan tegas.
Lantas, dua perawat tadi mengarahkan si pria ke tempat khusus guna melakukan tranfusi darah.
Di ruang ICU, keringat dingin mulai mengalir deras dipelipis sang dokter. Matanya terus melirik ke arah jam tangan dan Elektrokardiogram.
"Dokter, kita berhasil mendapatkan donor darah." si perawat masuk dan menyodorkan sekantung berisi cairan kental berwarna merah pada perawat yang berada disisi dokter.
Perawat segera keluar dari ruangan. Bergegas menyiapkan ruang operasi setelah menghubungi Dokter Spesialis Bedah Ortopedi dan Traumatologi atau lebih gampangnya, Dokter Ortopedi.
Brankar kembali melaju di lorong rumah sakit. Tak mempedulikan tatapan para orang yang lalu-lalang. Karena sekarang yang lebih utama adalah keselamatan di pasien.
"Daddy!!!" suara teriakan bocah kecil menggema di lorong rumah sakit.
Bersamaan dengan itu, tangis mulai terdengar serta raungan. Siapapun yang mendengarnya pasti ikut merasakan apa yang kini bocah kecil itu rasakan. Dirinya terus meronta, ingin berlari dan memeluk sang daddy yang terbaring lemah dengan oksigen diwajahnya diatas brankar.
"Yumna pengen daddy!!!" teriaknya lebih keras. Berusaha untuk lepas dari pegangan erat ditubuhnya.
__ADS_1
"Daddy!!!" sekali lagi, bocah mungil itu berteriak saat brankar masuk ke dalam sebuah ruangan bertuliskan 'operasi'.
Setelah pintu tertutup rapat, pegangan itu terlepas. Langkah kaki semakin cepat hingga sampai didepan pintu. Tangisan tak lagi dapat ditahan. Tangannya menggedor pintu, berusaha membuat orang yang berada di dalam membukakan pintu untuknya. Tentunya agar bisa bertemu sang daddy.
Hingga pelukan hangat, membuat gerakan bocah mungil itu terhenti. Badannya yang mungil berbalik. Tanpa diperintah, dirinya memeluk wanita yang dia panggil 'mommy'.
"Mommy, aku pengen daddy. Kenapa daddy masuk kesini? Apa daddy sakit? Suruh daddy keluar mommy. Yumna pengen liat daddy. Ayo mommy..." rengeknya dengan tangan menunjuk pintu ruang operasi.
Hati Nara teriris seketika. Dia tidak pernah menyangka jika hal ini akan terjadi. Rasa khawatir, bersalah dan takut kehilangan menyerbu ke lubuk hati terdalam. Membuatnya bimbang.
Sebenarnya, dirinya menginginkan siapa?
Satu sisi dirinya mencintai pria lain, satu sisi dirinya takut kehilangan pria berstatus suaminya.
"Apa aku wanita yang serakah?" tanyanya dalam hati.
*
*
*
Bersambung...
__ADS_1
Yuk dukung terus. Semangat yaa. Jangan lupa like, koment dan favorite. Makasih semuanya...