Suara Hati Suami

Suara Hati Suami
Bukan


__ADS_3

Naren membuka matanya dengan perlahan. Berkedip beberapa kali menyesuaikan cahaya yang masuk ke retina mata. Dia memijit pelipisnya yang terasa berdenyut hebat sampai membuatnya merintih.


Aughhh...


"Apa yang sekarang anda rasakan, pak?" seorang suster bertanya ketika Naren tengah merintih sakit.


"Sakit." hanya itu yang bisa Naren katakan karena kepalanya terus berdenyut hebat.


"Baiklah. biar saya periksa dulu. Dimohon anda tenang ketika pemeriksaan."


Suster pun mulai memeriksa. Sedangkan Naren dia memejamkan mata, menahan sakit yang baru dia rasa sekarang. Begitu hebat dan membuatnya tidak berdaya.


"Sudah selesai, pak. Sebentar lagi obatnya akan bereaksi. Jadi rasa sakit bapak perlahan akan mereda." beritahu syster setelah memberikan obat pengurang rasa sakit.


Perlahan Naren mulai merasa lebih tenang seiring rasa sakit yang mulai hilang. "Dimana saya sekarang?" pertanyaan itu terlontar ketika Naren berhasil mengumpulkan tenaganya untuk bertanya.


"Bapak ada di rumah sakit. Sejam yang lalu, bapak sekeluarga mengalami kecelakaan."


Naren membulatkan matanya mendengar pemberitahuan suster. "Dimana anak saya?"


"Tenang, pak. Anak bapak ada di kamar yang berbeda."

__ADS_1


"Saya ingin kesana." Naren begitu saja bangkit, membuat suster terkejut.


"Sabar, pak. Bapak belum sembuh total. Jadi jangan banyak bergerak dulu." suster mengingatkan.


"Saya ingin bertemu putri saya. Sekarang juga. Antar saya ke sana. Saya mohon. Dia butuh saya." pinta Naren.


Suster berpikir sebentar. "Baiklah, pak. Saya ambil kursi roda dulu."


Naren duduk menunggu di ranjang. Hatinya terasa berdetak kencang mengingat putri satu-satunya itu. Hingga suster datang, dia segera duduk walau dengan kaki yang pincang. Dirinya meminta agar cepat diantar ke kamar putrinya.


"Dimana putri saya?" ketika kursi roda hampir masuk sepenuhnya ke sebuah kamar khusus anak-anak, Naren kembali melontarkan pertanyaan.


"Itu putri bapak." suster menjawab sembari menunjuk ranjang kecil yang diatasnya terdapat Yumna yang tengah terbaring lemah dengan infus ditangan.


"Bapak yakin itu bukan putri bapak?" tanya suster memastikan jika yang dia dengar tidaklah salah.


"Benar. Dia bukan putri saya. Putri saya masih bayi."


Suster akhirnya membawa Naren ke ruangan khusus bayi. Lalu mempertemukan Naren dengan bayi mungil yang baru lahir. "Sayang, ini ayah." Naren mengusap Incubator dengan mata yang berkaca-kaca.


"Maaf pak, apa bapak tidak mau bertemu istri bapak? Dia baru saja melahirkan secara sesar. Biar saya antar kesana jika bapak mau."

__ADS_1


Naren menggeleng, dia justru tertunduk dalam. "Istri saya sudah meninggal setelah melahirkan putri saya." ucapnya disela tangis.


Si suster semakin dibuat bingung. Apa yang sebenarnya terjadi dengan pasiennya ini?


"Baiklah kalau begitu, pak. Mari saya antar ke kamar. Bapak harus banyak-banyak istirahat."


Setelah bertemu dengan putri keduanya yang lahir prematur, Naren kembali ke bangsal dimana dirinya harus istirahat disana selama beberapa hari ke depan.


Sedangkan di bangsal lainnya. Nara baru membuka matanya. Dia celingukan karena tidak ada siapa-siapa disampingnya. Padahal seingatnya, terakhir dia sedang bersama keluarga kecilnya. Lalu, dimana mereka?


Nara ingin bangkit dan pergi mencari keluarga kecilnya. Namun, kaki dan tangannya terasa kaku. Sehingga dia tidak bisa bangun dan hanya tertidur di ranjang dengan berbagai pertanyaan muncul dikepalanya.


Hingga pintu terbuka lebar, Nara langsung melontarkan pertanyaan.


*


*


*


Bersambung...

__ADS_1


Maaf ya gaes, baru bisa UP sekarang. Semoga kedepannya bisa semakin sering UP. Dan maaf juga kalau tulisannya kurang memuaskan.


Makasih juga yang udah setia nungguin UP-nya SHS yaa. Gabung ke group, bakal ada hadiah buat kalian disana. Sampai ketemu di bab selanjutnya.


__ADS_2