Suara Hati Suami

Suara Hati Suami
Extra Part 4


__ADS_3

"Daddy kita akan pergi kemana? Apa ke pasar itu lagi? Tapi bukankah daddy bilang kalau pasarnya buka sampai siang saja?" rentetan pertanyaan terus gadis kecil itu lontarkan saat dirinya sudah duduk rapi dijok depan, berdampingan daddynya yang hari itu memilih mengendarai mobil sendiri daripada menggunakan sopir.


Naren yang mendengar hanya membalas dengan senyum simpul. Dia memutar kunci mobil, bersiap menyetir. Namun sebelum itu, dia lebih dulu memasang sabuk pengaman untuk putri kecilnya yang nampak sedang menunggu jawaban darinya.


Ah, melihat Anzel yang cerewet seperti ini membuat Naren ingin sekali mencubit pipi bulat seperti bapau itu karena saking gemasnya.


"Daddy! Kenapa daddy diam saja? Jawab pertanyaan Anzel." bibir mungil itu mengerucut ke depan. Kesal karena daddynya tidak kunjung menjawab pertanyaannya. Sangat menyebalkan bagi Anzel dan tentunya si cantik Anzel tidak suka diperlakukan seperti itu.


Lihatlah sekarang bagaimana lucunya wajah imutnya yang tengah kesal.


Sementara yang duduk dijok tengah hanya mampu menahan tawa. Siap meledak jika nanti saja nanti Anzel kembali berbicara dengan bibir yang terus mengerucut seperti bebek.


Anzel melirik pria tampan yang sedang fokus melihat ke depan saat mobil mulai keluar dari pekarangan rumah. Dalam hati, Anzel berkata, "Apa daddy sengaja membuatnya kesal? Jika saja benar, awas saja. Dia akan terus ngambek sampai daddynya kewalahan nanti."


Naren yang tahu tingkah lucu Anzel hanya bisa tertawa dalam hatinya. Tidak ada maksud dirinya membuat sang putri kesal seperti itu. Dia hanya ingin membuat kejutan, kemana dia akan membawa putri kecilnya yang super istimewa ini.


"Una, dimana Sarsen tinggal sekarang? Apa dia memiliki keluarga disini?" diperjalanan bunda Ai bertanya pada cucunya untuk mengalihkan tawa mereka yang tertahan karena Anzel.


Bundai Ai seketika teringat jika calon suami cucunya ini adalah orang jauh, Kazakhstan. Dan belum lama menginjakkan kaki di Indonesia. Tentunya belum terlalu mengenal seluk-beluknya. Aapalagi kini dia sedang berada di ibu kota.


Mendengar pertanyaan omahnya, lantas Yumna membalas, "Dia tinggal di apartemen dekat dengan perusahaan daddy. Aku yang memintanya agar tinggal disana untuk sementara. Karena disini dia hanya sendiri, semua keluarganya tinggal di Kazakhstan. Tapi omah, minggu depan keluarganya akan datang setelah tahu tentang rencana pernikahan kami." Tak lupa Yumna pun memberitahu tentang kedatangan calon keluarga mertuanya.


"Wahhh, opah sangat tidak sabar untuk menemui besan dari negeri jauh. Bukankah begitu, Ren?" ayah Ael tak kalah antusias dalam obrolan para wanita disampingnya. Juga ikut melibatkan sang menantu.


Naren melirik lewat spion yang tergantung, "Tentu, ayah. Aku sebagai daddynya pun merasa sangat berdebar." jujur saja, saat ini pun Naren sudah merasakannya. Lebih tepatnya saat Yumna memberitahu tadi.


Jauh dilubuk hati ayah beranak dua itu, rasanya tidak ingin hari itu datang dengan cepat. Dia masih ingin menghabiskan waktu bersama putrinya sebelum tanggungjawabnya berganti. Tapi apalah daya, waktu terus berjalan dan dia hanya bisa berharap, masih ada banyak waktu bersama putrinya.

__ADS_1


Perjalanan yang tidak terasa itu kini telah usai setelah kijang besi yang membawa lima orang berhenti disebuah parkiran yang cukup ramai dengan beberapa kendaraan. Satu per satu mulai turun dari mobil. Tapi berbeda dengan Anzel yang hanya duduk diam.


"Apakah putri daddy tidak mau turun?" Naren dengan lembut bertanya.


Anzel hanya menggeleng.


"Baiklah, jika begitu biar kamu di mobil saja. Daddy, kak Una, omah dan opah akan masuk kesana." Saat Naren hendak keluar dari mobil, Anzel langsung memeluk lengan berotot itu dengan erat.


"Jangan tinggalin Anzel daddy. Daddy jahat sama Anzel." selang beberapa detik, terdengar isakan yang membuat Naren menghela napas panjang. Diusapnya rambut lebat dan hitam itu, tak lupa sebuah kecupan mendarat disana.


"Jangan ngambek lagi ya? Daddy tidak bermaksud membuat Anzel seperti itu. Daddy hanya mau menunjukkan sesuatu untuk Anzel. Jadi, mari kita turun." ajak Naren sembari membawa tubuh mungil itu dalam dekapannya sembari keluar dari mobil, walau Anzel tidak memberi balasan.


Bunda Ai yang melihat cucunya, lantas mendekat. "Anzel kenapa sayang?" tanyanya khawatir.


Tak ada jawaban.


"Sebaiknya kita masuk ke dalam untuk menyingkat waktu." ajak Naren sembari melangkah untuk memimpin.


Seorang bapak tua yang merupakan penjaga disana menyapa ketika tahu siapa yang datang. "Silakan, pak Naren. Tadi saya juga habis dari sana. Sudah saya bersihkan dua-duanya." beritahunya dengan senyum mengembang.


Naren membalas dengan anggukan disertai senyuman. Lalu melangkahkan kaki menapaki tanah lembap. Melewati gundukan tanah yang berjejer rapi dengan sekat yang cukup untuk satu jalan.


Hingga akhirnya sampailah mereka pada dua nisan yang bertabur bunga mawar segar. Seperti keinginan Naren pada penjaga tadi, setelah selesai dibersihkan, dua nisan itu harus ditabur bunga agar terlihat terawat.


Naren dengan perlahan menurun Anzel dari dekapannya. Lalu berjongkok untuk mensejajarkan tinginnya dengan Anzel yang menatap penuh pertanyaan ke arah dua nisan didepannya.


"Ini adalah tempat peristirahatan terakhir mommy kamu, sayang." Naren berbisik lirih pada Anzel. Membuat gadis cilik itu termenung.

__ADS_1


Mommy?


Kenapa dia ada disini?


Bukankah kata omah, mommy sedang pergi?


"Katakan salam pada mommy, sayang. Beritahu dia kamu datang." Naren menuntun Anzel, mendekatkannya ke nisan bertuliskan Elnara Yildiz Selim.


"Assalamualaikum mommy. Anzel datang." ucap Anzel dengan tangan mengusap-usap nisan dingin itu. Membayangkan jika yang diusapnya adalah tubuh sang mommy yang selama ini sangat dirindukannya.


Yumna yang melihat pemandangan didepannya tak kuasa menahan air mata. Yumna seperti melihat dirinya ketika kecil. Dipeluknya bunda Ai dan menumpahkan segalanya disana.


Sama halnya dengan Yumna, Naren pun meneteskan air matanya kembali. Benar-benar tak kuasa membendung butiran bening itu lebih lama. Hanya akan menimbukan sesak dan rasa skit yang tertahan.


"Ucapkan pada mommy, bahwa kamu sangat mencintai dia. Dan katakan padanya bahwa kamu juga sangat merindukannya." disela tangisnya, Naren berkata pada Anzel yang terus mematung ditempatnya berdiri. Masih berusaha menerima kenyataan. Bahwa orang yang selama ini dirindukannya memang benar-benar telah pergi. UNTUK SELAMANYA.


"Mommy, Anzel sangat mencintai mommy. Dan Anzel juga sangat merindukan mommy." diakhir ucapannya, Anzel mengecup nisan itu penuh sayang. Sebelum akhirnya bulir bening itu jatuh.


*


*


*


Bersambung...


See you dibab selanjutnya ges. Satu part lagi ya. Tunggu terus.

__ADS_1


__ADS_2