
Kilau sinar mentari menembus tirai jendela berbahan kain berwarna putih. Berhasil menembak kulit kuning langsat mulus yang terjaga karena air wudhu perlahan menghangat. Si empunya yang mulai terusik, akhirnya membuka mata dengan paksa.
"Udah siang rupanya." gumamnya sembari mengecek ponsel yang berada diatas nakas samping tempat tidur. Melihat pukul berapa dirinya terbangun.
Saat berbalik, dirinya dikejutkan oleh sepasang manik mata yang tengah berkedip lucu ke arahnya. "Oh sayang, kamu mengagetkan daddy." Naren mengulas senyum, sementara Anzel terkikik geli melihat response daddy-nya.
"Daddy kira kamu belum bangun." bersamaan dengan satu kecupan mendarat dikening Anzel sebagai bentuk pengaplikasian cinta dipagi hari.
"Bahkan sebelum daddy bangun, Anzel udah bangun." bibir mungil nan imut itu bergerak lucu membalas terkaan Naren.
"Lalu kenapa Anzel tidak membangunkan daddy hm?" tanya Naren sembari membernarkan poni yang menutup mata Anzel.
Anzel menatap langit-langit kamar sembari mengetuk dagunya, seperti memikirkan sesuatu sebelum membalas pertanyaan daddy-nya. "Hmmm..." Anzel memiringkan tubuhnya kembali untuk menghadap daddy-nya yang tengah menunggu jawaban darinya. "Karena daddy terlihat sangat lelap saat tidur. Bahkan daddy beberapa kali tersenyum. Anzel berpikir itu karena mommy datang dimimpi daddy. Jadi Anzel tidak membangunkan daddy tadi. Apa daddy akan marah sama Anzel?"
Naren yang mendengarkan penjelasan dari putrinya sontak tersenyum lebar. Tak percaya jika Anzel akan berpikir seperti itu. Walau. pada nyatanya, mimpi itu benar adanya. Nara mengunjunginya dalam mimpi. Tersenyum manis seperti terakhir kali mereka menghabiskan waktu bersama. Ah, mengingat itu membuat air mata Naren menetes, yang langsung membuat Anzel terduduk seketika.
"Kenapa daddy menangis? Anzel jahat ya sama daddy? Anzel minta maap daddy, besok Anzel tidak akan mengulanginya lagi. Sungguh." mata kecil itu berembun, siap meluncurkan air mata.
Naren pun ikut bangkit, lalu memeluk buah hatinya dengan penuh cinta. "Ngga sayang. Daddy cuma keinget mommy jadi pengen nangis. Anzel ngga salah kok, yang Anzel lakukan tadi itu benar. Makasih ya sayang. Karena udah kasih waktu daddy buat ketemu mommy walau cuma dimimpi. Sekarang Anzel jangan nangis, oke?" Naren menangkup wajah Anzel yang kini sudah basah oleh air mata.
Sekeras apapun sifat Anzel, gadis kecil itu ternyata begitu rapuh. Apalagi saat dirinya merasa menyakiti orang-orang yang dia sayangi. Tanpa permisi lagi, bendungan air mata akan mengalir deras seperti halnya saat ini.
"Daddy beneran ngga marah?" tanya Anzel sekali lagi setelah mengusap pipinya yang basah dengan tangan.
Naren mengangguk mantap, "Tentu. Daddy tidak marah pada Anzel. Jangan menangis lagi, oke?"
__ADS_1
Cup!
Lagi-lagi sebah kecupan penuh cinta Anzel dapatkan. Membuat gadis cilik itu perlahan mengulas senyum manis. "Oke, bos." balasnya dengan anggukan kepala.
"Mari kita sarapan, setelah itu daddy akan mengajak Anzel ke suatu tempat, yang pastinya Anzel suka." Naren menyibak selimut lalu melipatnya sebelum mereka pergi sarapan. Si Anzel yang tak mau tinggal diam membantu merapikan bantal. Setelah selesai, ayah dan anak itu keluar dari kamar. Mereka bergandengan tangan menuju meja makan.
Semua menyapa ketika melihat ayah dan anak yang nampaknya sangat bahagia itu.
"Sepertinya adeknya kakak lagi bahagia banget nih, ceritain donk kenapa?" Yumna yang duduk bersebelahan dengan Anzel lantas berbisik ditelinga adiknya.
Anzel yang baru duduk hanya membalas dengan gelengan kepala. Lalu menempelkan ibu jarinya didepan bibir. Pertanda agar kakaknya yang cantik itu diam.
Naren yang melihat tingkah Anzel menarik ujung bibirnya, senang rasanya ketika seorang anak kecil sangat menurut terhadap perintah orang tua. Tak menyangka juga ibu mertuanya sangat pandai mendidik anaknya ini.
Sedangkan Yumna hanya mampu mengangguk pasrah dengan bibir mengerucut. Rasa penasarannya masih menggebu. Karena baru kali ini, dirinya melihat sang ayah begitu bahagia. Senyuman yang lama dia rindukan. Akhirnya, dia bisa melihatnya lagi.
"Daddy kita akan kemana? Kenapa kak Una ngga boleh ikut?" tanya Anzel saat mereka melangkah dijalan umum komplek yang tak seramai jalan raya. Salah satu alasan kenapa Naren memilih jalan kaki saja daripada menggunakan mobil.
Naren melirik ke bawah, melihat Anzel yang tengah menatap sekeliling komplek yang terlihat sepi. "Kita akan pergi ke suatu tempat, disana kamu pasti akan betah." diacaknya rambut lebat Anzel dengan gemas.
"Apa tempatnya masih jauh, daddy? Kaki Anzel sakit." gadis cilik itu menatap ke arah Naren dengan wajah lelah. Keringat mengalir dipelipisnya. Belum lagi kakinya yang mulai terseok-seok. Membuat Naren menghentikan langkah.
"Emmm tidak, sayang. Tapi jika kaki Anzel sakit biar daddy gendong, bagaimana?" Naren merapikan rambut yang menutupi wajah cantik Anzel. Merasa kasihan dengan putrinya yang tidak pernah berjalan sejauh ini.
Anzel langsung mengangguk setuju. Tanpa babibu lagi, kini gadis itu sudah menempel dipunggung Naren dengan tangan berpegangan erat. Sesekali mereka tertawa kecil. Hingga tanpa sadar, tibalah mereka ditempat tujuan.
__ADS_1
Mata Anzel langsung melebar ketika melihat pemandangan didepannya. Dia meronta untuk segera turun. Dan hal itu membuat Naren tersenyum senang. Tidak sia-sia dia berjalan jauh, terbayar sudah dengan keantusiasan Anzel.
"Daddy lucu sekali. Apa boleh Anzel memilikinya?" gadis itu terus mengelus kelinci berwarna putih dengan sayang. Sesekali senyum terukir diwajahnya. Tak Naren jawab, ayah beranak dua itu segera membayar kelinci yang terlihat sangat disukai oleh Anzel.
"Terima kasih, pak. Ini gratis kandangnya sekalian. Dirawat dengan baik ya, cantik." ucap si penjual dengan wajah sumringah pada ayah dan anak yang merupakan pembeli pertama.
"Mari, pak." Setelah membeli kelinci yang diinginkan Anzel, Naren mengajak anaknya itu untuk berjalan menyusuri para pedagang yang berjajar rapi dipinggir jalan. Sesekali mereka berhenti untuk memberi jajanan, tentunya dengan Anzel yang meminta.
"Daddy, di Turki tidak ada seperti ini. Apa ini cuma ada di Indonesia saja?" Anzel terus berjalan dengan tangan kiri menggenggam tangan Naren dan satu tangannya memegang ice cream.
Naren nampak berpikir sejenak sebelum menjawab. Kemudian mengedikkan bahu. "Daddy tidak begitu paham, sayang. Yang daddy tahu di Indonesia banyak seperti ini. Apa kamu suka daddy ajak kesini?"
Anzel dengan girang mengangguk. Wajahnya yang cantik seperti mommynya itu terus melukiskan senyum dengan ice cream yang belepotan.
"Tentu. Apalagi bersama daddy."
Naren merasa terenyuh mendengar perkataan putri kecilnya. Terlintas dibenaknya jika Nara masih hidup. Tentunya Anzel akan merasakan kebahagiaan yang luar biasa dengan keluarganya yang lengkap.
"Lain kali kita kesini lagi ya daddy. Sama kak Una, omah dan opah. Pasti mereka juga senang." ucapnya sembari menatap pria yang sangat rindukannya sewaktu di Turki.
Dalam hati, Anzel terus berteriak senang. Karena pada akhirnya, dia bertemu dengan sang ayah dan menikmati waktu berdua bersama. Sungguh, Anzel ingin seperti ini selamanya.
*
*
__ADS_1
*
Bersambung...