
"Paman kita akan kemana?" tanya Ezra yang duduk dibelakang bersama Chesa. Sesekali berdiri diantara jok sopir dan penumpang yang kini diduduki oleh Anzel.
Sebelum Naren menjawab, Anzel sudah buka mulut terlebih dahulu "Kita akan pergi ke mall, Ez. Nanti disana kita makan es krim sama main." jawabnya antusias membuat Naren menyunggingkan senyum.
Rasanya sangat senang melihat keantusiasan putri kecilnya. Naren selalu berpikir ini adalah momen yang tidak akan pernah terulang kembali dalam hidupnya. Dan dirinya akan dengan senang hati menikmati setiap detik yang berharga ini.
Mata Ezra berbinar seketika. Membayangkan makan es krim dan bermain dengan teman barunya pasti akan sangat menyenangkan. Karena di Filipina, Ezra hanya pergi bermain dengan sang mama. Maka ini pertama kali dirinya pergi bermain ke mall bersama seorang teman.
"Apa mall nya masih jauh?" tanya Ezra lagi, terlihat bocah tampan itu sudah tidak sabar.
"Sebentar lagi juga sampai. Tuh sudah kelihatan." jawab Naren sembari menunjuk gedung berlantai sembilan yang ramai orang berlalu lalang keluar masuk.
"Wahhh." Ezra memandang gedung yang sedang mereka tuju lewat kaca mobil. Diikuti Chesa yang menahan tubuh Ezra agar tidak jatuh karena mobil akan masuk basement.
Naren memarkirkan mobilnya diantara mobil mewah lainnya. Kemudian mengajak Anzel, Ezra dan Chesa untuk turun. Mereka masuk ke dalam mall dengan Anzel menggandeng tangan Naren dan Ezra yang mengikuti dengan menggandeng tangan Chesa.
"Daddy ayo kita beli es krim terlebih dahulu." ajak Anzel ketika dirinya melihat kedai es krim yang cukup ramai pembeli.
"Baiklah. Tapi kamu tunggu disini ya? Biar daddy yang membelinya." ucap Naren yang langsung diangguki oleh Anzel.
"Okey. Anzel akan tunggu disini bersama Ezra dan Onty Chesa."
"Kamu ingin es krim yang apa sayang?" tanya Naren sebelum pergi membeli.
Anzel tampak berpikir lebih dulu sembari menaruh jari telunjuknya dibibir.
"Hand-scooped Ice Cream Milk Shakes!!!" Naren dan Anzel berkata secara bersamaan dan diakhiri tawa oleh keduanya.
"Kalau Ezra?"
"Sama dengan Anzel."
"Kamu?"
"Samakan saja dengan kalian."
"Okey."
Naren pun berlalu meninggalkan dua bocah yang tampak sangat akur dengan ditemani oleh Chesa. Tak lama dirinya kembali dengan empat cup es krim ditangannya. Lantas Naren duduk disebelah Anzel. Mereka pun menikmati es krim disebuah tempat duduk umum seperti layaknya keluarga bahagia lainnya.
__ADS_1
"Emmm, sepertinya kamu sudah sangat akrab dengan sekretaris baruku?" celetuk Naren disela menikmati setiap lelehan dari es krim yang tadi dia beli.
Chesa menghentikan gerakannya begitu mendengar celetukan Naren. "Ya begitulah. Dia adalah gadia polos yang ramah. Siapapun yang bertemu dengannya pasti akan cepat akrab, mungkin kamu termasuk ke dalamnya?" Chesa mengangkat satu alisnya. Memancing Naren agar lebih terbuka. Chesa memang tahu bahwa Naren sangat mencintai sahabatnya. Namun, tidak Salah jugakan jika Naren membuka hati kembali?
Naren membalas dengan mengangkat bahu. "Mungkin. Karena selama bekerja dua bulan ini dia memang cukup professional."
"Apa kamu menyukainya?"
"Ya."
"Caranya menempatkan diri sangat bagus. Walaupun hanya lulusan S1 tapi kinerjanya seperti lulusan S2. Itulah mengapa aku menyukainya. Tapi tunggu dulu, apakah kamu berpikir aku menyukai sisi lainnya?" sesendok es krim meleleh kembali dimulut Naren sambil menunggu jawaban Chesa.
"Aku tidak menduga kamu sudah bisa membacanya."
"Ya. Dan aku tidak ingin mengulang kembali kisah lama."
"Memang cukup merepotkan. Tapi apa salahnya?"
"Salahnya adalah aku akan menyakitinya jika dia tahu dihatiku masih ada nama wanita lain." jawab Naren yang membuat Chesa terdiam.
Saat Naren bangkit dari tempat duduknya untuk membuang cup es krim, ucapan Chesa membuat Naren mengurungkan niatnya. "Ingat pepatah ini Ren. Wira Nagara pernah berkata, **s**akit saat mencintai kembali jauh lebih nikmat daripada luka atas masa lalu yang masih melekat. Melangkahlah, sudah saatnya berpindah."
"Ayo anak-anak kita pergi bermain." ajak Naren setelah es krim sudah habis.
Mereka pun melanjutkan dengan berjalan kaki. Menaiki lift agar cepat sampai. Dan akhirnya tibalah mereka di lantai tiga dimana sebuah permainan kesukaan Anzel terdapat disana.
"Yeay kita main ice skating!!!" teriak Anzel senang.
Naren pun segera menyewa empat pasang sepatu ice skating. Kemudian mulai memakaikannya di kaki Anzel diikuti Chesa yang memakaikannya di kaki Ezra. Mereka pun dibantu oleh pemandu saat mulai bermain.
Naren yang sangat jarang bermain berkali-kali jatuh. Namun bukannya sedih justru dirinya senang karena Anzel terus tertawa. Anzel pun membantunya berdiri dan mengajarinya bermain.
Setelah lama bermain, Naren dan Chesa pun menepi. Sedangkan Anzel dan Ezra masih bermain ice skating bersama para pengunjung yang lain.
"Ternyata bermain juga sangat melelahkan." ucap Naren pada Chesa yang tampak tenang disampingnya.
"Namun menyenangkan bukan?"
Naren mengangguk. Melihat Anzel yang seceria ini membuatnya kembali bersemangat. Ternyata benar, anak adalah sumber tawa diatas segala lelah yang dirasa.
__ADS_1
"Tapi bukankah ada yang kurang dari semua kebahagiaan ini?" ucap Chesa membuat Naren menoleh. Menatap istri dari adiknya.
"Ini sudah cukup bagiku." lirih Naren membalas.
"Kebohongan adalah kejujuran yang menyakitkan." ucap Chesa dengan senyum disudut bibirnya.
Naren menarik napas panjang. Menghembusknnya perlahan lewat mulut. Lalu membalas ucapan Chesa, "Jika dengan cara itu bisa menebus semua kesalahanku dimasa lalu, maka aku akan melakukannya."
"Air tidak akan pernah membenci awan yang berkali-kali menjatuhkannya."
"Tapi awan mendung sering tidak kali diinginkan berada dilangit karena membuat langit menjadi gelap.
"Jadi, apa yang sudah terlewat sepuluh tahun yang lalu?" tanya Chesa kemudian. Menatap Naren dengan dalam. Jelas tertera disana bahwa pria beranak dua ini menyimpan sesuatu begitu dalam.
"Kebohongan." lirih Naren.
"Aku sudah membohongi Nara dengan berpura-pura hilang ingatan setelah kecelakaan."
Chesa menatap Naren tak percaya.
"Aku melakukannya karena ingin tahu seberapa besar cintanya terhadapku. Ternyata hal itu sangat membuatnya menderita. Sampai akhirnya aku berpura-pura menerimanya kembali dan membuka lembaran baru agar bisa mengakhiri penderitaannya."
"Aku pun merasa bahagia saat itu. Memiliki istri seperti Nara dan anak seperti Yumna dan Anzel. Tapi tidak dengannya. Dia merasakan sakit yang luar biasa. Dia menanggungnya sendirian tanpa ada seseorang yang menguatkannya. Semua terjadi begitu saja. Hingga akhirnya dia meninggalkanku untuk selamanya."
"Itulah alasan kenapa aku mengalami depresi begitu lama. Kesalahan yang aku pun tak bisa memaafkannya sendiri. Hanya dengan mengunci hati ini, adalah salah satu cara agar bisa menebus kesalahannya."
Chesa menatap iba pria didepannya. Dia mengelus pundak tegar itu. Berusaha memberi pengertian dan semangat kembali. Walau ada rasa tidak menyangka. Namun ketika mengingat kembali semuanya, bumerang dalam kehidupan memang nyata adanya. Dan itu terjadi pada sahabat sekaligus kakak iparnya.
"Tetaplah kuat, Ren. Nara pasti sudah memaafkanmu. Karena kamu sudah mengakui semuanya. Besok kita temui dia ya? Aku sangat rindu dengannya. Kamu pun juga kan?"
*
*
*
Bersambung...
Halooo sahabat SHS. Gimana nih menuju akhir extra part? Makin terkuak aja ya masa lalu wkwk. Jangan lupa baca sampe akhir ya. Sampai bertemu di extra part terakhir.
__ADS_1