
Air mata tak lagi Nara pedulikan. Hatinya membeku layaknya air yang menjadi es. Hanya dapat mematung menerima kenyataan yang ada.
Di ruangan serba putih itu, hanya ada dirinya seorang. Tak ingin ada orang lain. Dia benci semuanya.
Dia sangat membenci orang yang dulu pernah dia cintai. Bahkan tak sudi lagi melihat wajahnya yang selalu dia puja.
"Ra, aku boleh masukkan? Kamu belum sarapan. Aku bawain bubur kesukaan kamu." suara itu terdengar lembut di indera pendengaran Nara. Tapi, bibir itu hanya diam. Tak membalas. Sangat sulit untuk digerakkan.
Naren yang tidak mendengar jawaban, perlahan membuka pintu bangsal. Matanya langsung tertuju pada sosok wanita yang kini memilih diam. Tak lagi seceria dulu.
Bi Inul membawakan bubur hangat yang tadi baru dibeli diperjalanan sesuai yang Naren perintahkan. Rasa iba menyelimuti hati bi Inul saat matanya melihat wajah pucat dari majikannya yang selalu ceria.
"Ini buburnya, pak." bi Inul menyodorkan semangkuk bubur hangat yang aromanya begitu menggugah selera.
Naren menerimanya setelah duduk di kursi. Tersenyum tulus sembari menyendok bubur yang masih mengepul. "Ra, ayo makan dulu. Jangan menghukum diri kamu kaya gini. Itu ngga bagus buat kesehatan kamu. Ayo."
__ADS_1
Perlahan bibir itu terbuka. Menerima sesuap bubur hangat dengan lidah yang terasa sangat pahit. Mengunyah perlahan dan menelannya tanpa ada rasa.
"Ra, ikhlas... Kamu harus ikhlas... Ini semua udah takdir dari Allah... Semua yang Allah titipkan, bisa diambil kapanpun oleh pemiliknya... Jadi, kamu ngga perlu menghukum diri kamu kaya gini. Allah justru membenci orang yang terlalu larut dalam kesedihan." Naren mengusap tangan pucat berinsuf itu. Menggenggamnya erat dan mengecupnya. Berusaha memberikan kekuatan untuk kuat dengan apa yang terjadi.
Pada dasarnya, Naren pun sangat terpukul dengan apa yang terjadi. Tapi, melihat sang istri, Naren menyembunyikan kesedihan itu dengan terus memberikan semangat untuk selalu kuat.
"Ini adalah hukuman buat aku, kak. Aku emang belum pantas jadi ibu untuk anak kita. Mungkin, karena masa laluku itu, Allah menghukum aku dengan mengambil apa yang dia titipkan sama kita. Aku... Aku..." suara itu tercekat. Tidak kuat untuk melanjutkannya.
Wajahnya tertunduk. Air mata menetes ke permukaan krudung putih yang dipakai. Meninggalkan bekas disana.
Sedetik kemudian, dia memeluk tubuh sang istri. Merengkuhnya dengan lembut. Memberikan kehangatan dan ketenangan.
"Udah... Kamu harus ikhlas... Kamu orang kuat... Jangan jadi lemah... Ini ujian buat kita. Ngga hanya kamu. Tapi, untuk semua orang juga. Mereka ikut kehilangan, Ra."
Nara semakin terisak dipelukan Naren. Membiarkan pundak sang suami sebagai tumpuan.
__ADS_1
"Udah... Pokoknya kita harus kuat... Kita harus percaya bahwa setelah ini pasti akan ada kejutan yang ngga pernah kita duga sebelumnya. Sabar..." dengan ibu jarinya, Naren mengusap bulir bening yang mengalir diwajah cantik yang kini berubah pucat semenjak kemarin siang.
Nara mengangguk. Lalu, menatap dalam kornea mata bening milik sang suami. "Ayo kita berjuang lagi." dengan suara serak khas setelah menangis, Nara mengucapkannya pada Naren.
Naren mengangguk cepat. Mengecup kening Nara dengan mesra. Membuat bi Inul jadi teringat sang suami yang kini sedang berada di mobil.
"Ayo. Kita berjuang. Semoga Allah iyakan." balas Naren.
*
*
*
Bersambung...
__ADS_1
Yukkk semangat. Like, koment dan favorite. Makasih...