Suara Hati Suami

Suara Hati Suami
Sisi lain


__ADS_3

Senyum terukir begitu saja saat melihat keringat bercucuran diwajah tampan suaminya. Terlihat cool saat meminum air yang mereka bawa dari rumah. Ternyata, jika dipandang dari jarak sedekat ini terlihat sangat tampan. Apalagi disaat yang jarang mereka temui ketika bersama. Seperti halnya sekarang, mereka sedang duduk berdua dibangku taman setelah jogging.


Pagi itu mereka jogging mengelilingi komplek perumahan. Sekaligus terapi untuk kaki sang suami yang sebentar lagi menuju kata 'sembuh'.


"Ra, kamu ngga papa?" tangan kekar itu mengibas beberapa kali di udara, tepat didepan wajah cantik Nara.


"Eh? Iya, aku ngga papa." Nara memalingkan wajah, malu. Ketahuan memandang wajah tampan yang suaminya punya.


Lalu, selama hampir tujuh tahun ini dia kemana? Kenapa baru baru menyadari wajah tampan itu sekarang?


"Aku tahu kok, kalau aku tampan. Jadi, ngga usah dilihatin kaya gitu juga." ucap Naren, bibirnya menyimpulkan sedikit senyum. Tangannya tak bisa diam. Mencubit pipi mulus milik sang istri yang merona.


Nara reflek memukul lengan Naren, hingga Naren meringis sakit, "Awww. Sakit tau." hanya panas, tapi Naren yang pura-pura sakit. Meniupkan udara yang berasal dari mulutnya ke lengan yang tadi menjadi sasaran oleh Nara. Menggosoknya pelan. Mengurangi rasa panas.


"Lagian kamu juga. Ngga usah ngeledek." bibir itu mengerucut, tapi tangannya tergerak menggosok pelan kulit yang memerah akibat pukulannya.


Sisi lain yang Naren baru temukan dari wanita yang dia cintai. Perhatian. Dulu, tidak ada adegan seperti ini dalam drama pernikahannya. Hingga berbagai konflik dan air mata, barulah kini dia temui titik akhir dari drama pernikahannya.

__ADS_1


Ingin dia seperti ini selalu. Tapi, dia ingat sesuatu. Seseorang yang kapan saja bisa mengambil bidadari cantiknya ini. Membawanya pergi. Hingga dia tak lagi dapat melihat senyum manis yang membuat hatinya menghangat.


"Giliran kamu yang ngeliatin aku." suara itu mengusik Naren yang sedang fokus memandang. Matanya beralih melihat ke arah wajah yang kini berada tak jauh darinya. Masih sama. Cantik dan manis.


"Harus. Punya istri cantik harus sering dilihatin donk." balas Naren dengan alis terangkat genit.


"Hmmm. Yuk ah kita ke depot bubur. Udah lapar nih." Nara bangkit dari bangku tempatnya duduk. Merapikan baju treningnya terlebih dahulu. Lalu, berbalik menghadap sang suami yang masih asik duduk.


"Kamu mau duduk terus disini? Ya udah, aku tinggal." Nara melenggang pergi. Meninggalkan Naren yang tertawa kecil di bangku taman.


"Gemes jadinya." melihat sang istri yang sudah mendahului pergi, Naren segera bangkit. Berlari kecil mengejar Nara yang hendak menyebrang. Menggandeng tangan Nara ketika lampu berwarna merah. Menyebrang jalan dengan hati gembira sembari menikmati desiran hangat yang berasal dari genggaman tangan mereka.


Naren mengangguk beberapa kali. Itu memang niat dan rencananya. "Iya. Kamu juga setelah sepuluh hari cuti berangkat ke kantor lagi kan?" Naren menjawab lalu bertanya balik.


"Insya Allah. Semoga aku kuat kalau udah di kantor. Karena, setelah kejadian itu aku selalu kepikiran sama calon anak kita yang sekarang udah di surga. Mungkin, itu karena aku baru pertama kali merasakan jadi ibu. Jadi, aku terus kepikiran." wajah Nara tertunduk. Menyembunyikan air mata yang kembali menggenang dalam pelupuk matanya.


"Ya udah, mulai sekarang jangan dipikirin lagi. Kalau kamu kangen, kamu doain dia. Aku yakin, dia juga doain kita dari surga. Percaya deh. Sekarang kamu fokus sama keluarga dan pekerjaan kamu. Okey?" tangan kekar Naren merangkul pundak yang lebih pendek darinya. Mencium pipi mulus itu sebagai upaya transfer energi kuat untuk sang istri.

__ADS_1


"Okey." Nara mengangkat wajahnya. Tersenyum manis setelah menghapus air mata. Membalas ciuman dari Naren dengan ikut mencium pipi Naren juga.


Mereka pulang ke rumah. Mandi setelah tidak lagi berkeringat. Lalu, menghabiskan waktu dengan menonton TV, bercerita di kamar dan memasak di dapur. Mengisi waktu luang yang tersisa sebelum keduanya kembali disibukkan dengan dunia pekerjaan.


Hingga suara bel berbunyi, barulah aktivitas keduanya terpaksa dijeda. Keduanya membuka pintu ruang tamu bersama. Bersiap menyambut Yumna pulang sekolah, namun kedunya justru terpaku di tempat. Bukan Yumna yang datang. Tetapi hanya bi Inul.


"Lho, Yumna dimana bi?" Nara mendahului bertanya dengan menyisir ke belakang bi Inul. Tak ada siapa-siapa.


"Maaf pak, bu. Tadi, saat saya jemput ke sekolah Yumna udah ngga ada. Kata temannya si, Yumna udah dijemput. Tapi, mereka ngga tau sama siapa." jelas bi Inul dengan raut wajah khawatir.


"Udah dijemput?" gumam Naren yang tidak percaya.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung...


Yuk bantu dukung terus gaes. Makasih banyak yaa. Jangan lupa baca karya terbaru juga 'Skenario Cinta'. Yukkk... Author tunggu...


__ADS_2