Suara Hati Suami

Suara Hati Suami
Satu Hari


__ADS_3

Kacamata yang setia bertengger dihidung mancungnya yang bagaikan perosotan itu dia ambil dengan perlahan. Meletakkannya dengan penuh hati-hati disamping laptop yang sudah dia matikan tadi.


Mata dikucek beberapa kali. Berusaha menghilangkan rasa kantuk dan penat yang menghampiri. Dia menguap, kantuknya terlanjut berat. Sampai membuka mata pun rasanya susah.


Sudah seharian dia duduk dan bermain laptop tanpa henti. Jeda hanya untuk isoma. Setelahnya, dia kembali melanjutkan pekerjaan.


Foto keluarga dia ambil dengan perlahan. Mengusap satu per satu wajah ceria yang ada disana. Kemudian mendekapnya ke dalam dada. Ada kehangatan yang menjalar. Rasa yang berhasil menghangatkan hati yang terasa dingin selama beberapa waktu terakhir.


"Untuk kedua kalinya aku kehilangan." dia tertunduk. Dadanya seketika sesak. Rasa kantuk yang tadi hinggap pun kini hilang.


Bayangan lima tahun lalu menghampiri. Menari dipikirannya tanpa henti.


°°°°°


"Mas..." lirihan itu terdengar halus. Terlalu lembut dan akhirnya lenyap.


Panggilan terakhir yang tak akan pernah berakhir untuk dikenang. Satu hari tepatnya, setelah kelahiran putri pertama mereka. Naren kehilangan ibu dari putrinya. Bukan untuk sementara, namun untuk selamanya.


"Istirahat dengan tenang di surga, sayang. Ridhaku bersamamu." Naren berbisik ditelinga Fira, istrinya. Kemudian mengecup kening Fira untuk terakhir kalinya.


Naren berbalik. Dia tidak kuat. Dadanya sesak. Bulir bening pun mengalir dari sudut matanya. Mewakili semua yang dia rasakan saat itu.


Kata pun tidak bisa keluar dari bibirnya. Rasanya kelu. Sulit menerima kenyataan yang tidak pernah dia harapkan selama menjalin pernikahan.


"Sudah, Ren. Ikhlaskan." ibu Naren menepuk pundak anaknya yang kala itu naik turun. Terisak.


Naren menjawab dengan gelengan. Belum bisa ikhlas. Terlalu sulit untuk diterima.


"Ingat janji kamu sama Fira. Ikhlaskan dia. Jaga anak kalian." ibu Naren mengusap pundak Naren dengan lembut. Ibu mana yang tidak tega melihat anaknya dalam keadaan seperti ini. Jatuh sejatuh-jatuhnya. Pastilah butuh seseorang untuk bangkit.


Di ruangan khusus bayi, suara tangis seorang bayi terdengar mendominasi. Para suster menghampiri box dimana bayi yang baru satu hari lahir itu menangis dengan kencang. Padahal sebelum itu tidur nyenyak dan tenang.

__ADS_1


"Cup... Cup..." suster berusaha menanangkan bayi perempuan cantik yang gembul itu.


"Dede gembul jangan nangis ya. Kamu haus ya? Yuk suster anter ke ibu." suster lainnya mengambil alih gendongan bayi tersebut ke gendongannya. Menepuknya dengan lembut sembari berjalan keluar dari ruangan.


Bayi perempuan itu masih menangis. Terlihat menyedihkan dimata suster tersebut. Karena baru kali ini, dia menemukan bayi menangis sampai sesenggukan seperti itu. Maklum, si suster adalah perawat baru di rumah sakit. Sekitar tiga bulan lalu dia mengurus bayi-bayi di rumah sakit.


"Dede cantik, kita udah sampai di bangsal ibu. Udah ya jangan nangis." sebelum pintu dibuka, si suster kembali menenangkan bayi yang ada dalam gendongannya.


Semua orang yang ada di bangsal menatap ke arah si suster yang baru saja masuk. Bersamaan dengan itu, tangis kembali terdengar. Kali ini. lebih keras dan memilukan.


Naren yang mendengar suara tangis bayi reflek membalikkan badan. Kakinya langsung melangkah ke arah si suster yang tengah sibuk menenangkan. Dia mengambil bayi perempuan tersebut dan mendekapnya dengan erat.


"Biarkan dia bersama ayahnya." ibu Naren, mencegah si suster menyusul. Mendengar itu, si suster pun mengangguk. Dia menunggu ditempat. Takut dibutuhkan.


Naren meletakkan putrinya disebelah Fira. Berharap tangis putrinya itu berhenti.


"Ini bunda, nak. Orang yang sudah berjuang demi kamu." Naren dengan bulir bening yang siap meluncur, menyempatkan untuk berkata. Memberitahu putrinya, bahwa orang yang ada disampingnya adalah bundanya.


"Bu... Lihatlah..." lirih Naren pada ibunya. Terharu melihat pemandangan yang membuatnya semakin sesak. Andai saja, Fira masih bisa membuka matanya. Mendekap putri pertama mereka dengan erat. Memberikan kehangatan seorang ibu pada anaknya.


Tapi nyatanya, itu hanyalah akan menjadi mimpi. Pupus ketika harus menerima kenyataan pahit. Bahwa apa yang dia inginkan, tak akan terwujudkan.


Ibu Naren menggendong cucunya yang tenang itu. Membawanya keluar dari bangsal. Membiarkan menantunya itu dibawa ke ruang jenazah.


"Maaf bu, biar saya saja yang nenangin dede bayi. Ibu ke bangsal aja." si suster berkata dengan sopan. Berharap ibu Naren tidak tersinggung atau apapun itu.


Ibu Naren mengangguk. Dia memberikan cucunya yang tenang dalam dekapan itu pada suster. Kemudian, dia meninggalkan si suster dengan cucunya.


"Dede bayi kuat ya. Ngga boleh nangis. Ibu kamu udah tenang." si suster memberikan susu formula agar si bayi tidak kehausan setelah menangis sedari tadi.


Susu formula diberikan setelah mendapat ijin dari keluarga. Karena tidak mungkin juga akan diberi ASI. Maka dari itu, si bayi harus terbiasa dengan susu formula.

__ADS_1


Pemakaman hari itu berjalan dengan lancar. Seakan alam ikut bersedih. Awan berubah menjadi abu tua. Mendung.


Taburan bunga mawar basah menjadi hiasan tempat peristirahatan terakhir Fira. Naren belum juga mau meninggalkan pemakaman. Masih sibuk membaca doa disana. Bersimpuh dengan kepala tertunduk.


"Bentar lagi hujan, Ren. Ayo kembali ke rumah sakit. Anakmu menunggu kamu disana." bujukan dari mertuanya membuat Naren mau tak mau menurut juga.


Dia beranjak dari pemakaman. Memberikan kecupan terakhir sebelum benar-benar pergi.


°°°°°


Lamunan Naren usai. Saat pintu terbuka lebar. Menampakkan asistennya yang masih muda dan gagah, namanya Kenzo.


Air mata yang mengalir dia usap dengan ibu jari. Foto dia letakkan kembali ditepat semula. Kemudian mengambil kaca mata dan memakainya.


"Maaf menganggu waktunya, pak. Saya kemari cuma ingin memberitahu, minggu depan bapak free. Jadi, bapak bisa berkunjung ke London." Kenzo memberitahu pada Naren. Minggu depan, satu minggu jadwal atasannya itu kosong. Pengunduran jadwal temu diganti bulan depan. Waktu yang pas untuk berkunjung ke London setelah sekitar tiga bulan tidak pergi kesana.


Saat itu juga senyum Naren terukir. Akhirnya, waktu yang dinanti tiba. Rasa sepinya akan hilang sudah setelah bertemu dengan keluarga kecilnya.


"Baiklah. Siapkan semuanya seperti biasa."


Kenzo mengangguk, "Baik, pak."


*


*


*


Bersambung...


Selamat datang di season 2 yang udah ditunggu-tunggu. Selamat membaca. Semoga semakin terhibur dan penasaran sama ceritanya.

__ADS_1


Jangan lupa like, koment dan beri hadiah. Terima kasih atas antusias dan partisipasinya semuanya. Tanpa kalian apa arti karya ini. Sekali lagi, terima kasih. Bantu dukung terus ya. Sampai ketemu di bab selanjutnya.


__ADS_2