Suara Hati Suami

Suara Hati Suami
Extra Part 1


__ADS_3

Tubuh yang biasanya nampak tegar itu kini terduduk lemas disamping gundukan tanah bertabur bunga mawar dan melati. Bulir bening menetes diatas permukaan celana berwarna cream yang dipakainya. Kilasan memori sepuluh tahun melintas tatkala dirinya menatap nisan bertuliskan wanita yang sudah dua puluh lima tahun mengisi setiap setiap relung dihatinya.


Dia menangis sejadi-jadinya. Menumpahkan segala rasa yang dia pendam setelah orang yang dicintainya pergi untuk selamanya. Rasa sakit yang mendera itu terasa semakin nyata tatkala kenyataan menyadarkannya bahwa dirinya memang tak lagi dapat bertemu sang pujaan hati, apalagi untuk hidup bersama.


Naren, pria beranak dua itu sesenggukan. Tak mampu lagi berkata-kata. Inilah dia. Dia yang lemah. Bukan seorang pemimpin perusahaan yang dikenal tegar bagai karang di lautan. Dia hanya orang lemah yang sedang berusaha tersenyum diantara kesedihan yang merasuk batinnya selama ini.


Hingga, sebuah usapan lembut dipundaknya yang kala itu naik turun membuat Naren terpaku. Ditambah suara lembut yang baru saja menyapa indera pendengarannya. Lantas perlahan Naren menoleh untuk memastikan bahwa dia tidak salah mendengar.


"Princess?" lirihnya tatkala melihat siapa pemilik tangan yang berhasil membuat dirinya bergetar.


Naren tergugu ketika sebuah pelukan hangat dia dapatkan dari seorang gadis cantik dengan senyum manis didepannya. Lagi-lagi dirinya menangis menumpahkan segala kerinduan yang menyelimuti selama bertahun-tahun.


"Daddy, aku mencintaimu, seperti kamu mencintai mommy." ucap Yumna dengan tulus. Membuat Naren merasa orang yang sekarang dia peluk adalah Nara. Walau nyatanya bukan.


"Daddy juga mencintaimu kamu, princess. Daddy mencintai kalian berdua sampai kapanpun." Naren mengecup puncak kepala Yumna dengan penuh cinta.

__ADS_1


Setelahnya, pelukan itu terlepas secara perlahan. Yumna memiringkan tubuhnya menghadap nisan yang ditaburi bunga segar. Dia tersenyum sembari mengusap lembut nisan yang kata nenek, menjadi tempat daddy-nya menghibur diri. "Mommy, Una sudah besar sekarang. Mommy tau? Sebentar lagi aku akan menikah dan menjadi seorang ibu seperti mommy. Doakan aku ya, mommy." Yumna mengecup nisan bertuliskan nama mommy-nya.


Kemudian dia menatap wajah sang ayah yang sembab. Yumna meraih tangan Naren. Dia menggenggam tangan itu dengan penuh cinta. "Daddy, putri kecilmu sudah besar. Dan hari ini putrimu akan mengenalkan pada daddy, seseorang yang akan daddy percaya untuk menjaga aku seutuhnya." Yumna menengadah, menatap seseorang yang berdiri tak jauh dari tempatnya. Dan Naren mengikuti arah bola mata itu.


Seorang pria berkemeja hitam melangkah pelan. Senyum manis dibibirnya tak pernah surut ketika bola mata basah Naren menatapnya. Kemudian, dia ikut berjongkok agar bisa mensejajarkan tingginya dengan ayah dari wanita yang sudah lama dia perjuangkan mati-matian.


"Dia adalah pria yang sudah berjuang mati-matian untuk mendapatkan aku, dad. Cintanya begitu tulus. Bahkan dia rela menjemput aku di Brunei dari Kazakhstan dan membawaku ke Indonesia untuk meminta ijin pada daddy agar bisa menjadikan aku seseorang yang akan menemaninya sampai hari tua. Apakah daddy bisa mempercayai ketelusannya?" Yumna menggenggam tangan lebar milik Naren. Berusaha membuat cinta pertamanya percaya, bahwa cinta yang diberikan oleh pria yang ada disampingnya itu benar-benar tulus.


Naren bergeming ditempatnya. Masih mencerna setiap kata yang dia dengar dari putrinya. Hingga suara berat dari pria yang berada didepannya membuatnya kembali meneteskan air mata.


Naren tak menyangka secepat ini dia harus melepas putri tercintanya. Rasanya belasan tahun tidak terasa telah berlalu dengan cepat. Dan kini, seorang pria yang dengan segala keberaniannya meminta ijin untuk menjadikan putrinya bagian dari hidupnya. Menua bersama, berjalan berdampingan dalam suka dan duka, juga menikmati kebahagiaan dengan buah cinta mereka.


Ditatapnya pria bernama Sarsen itu dengan serius. Dengan berat hati Naren berkata, "Terima kasih karena telah datang dengan segala keberanian yang membuktikan bahwa putriku memang kamu perjuangkan dengan segenap jiwa dan raga. Aku sebagai cinta pertamanya hanya ingin berpesan padamu, Sarsen. Jaga putriku dengan baik, pegang semua kata-katamu hari ini, jika kamu sudah tidak ingin bersama putriku jangn pernah sekali-kali kamu berbuat kasar kepadanya, datanglah ke hadapanku dan serahkan putriku padaku, sekali lagi jangan pernah sakiti dan khianati dia. Itu pintamu padamu. Aku mengijinkan kamu menjadikannya sebagai pendamping hidupmu." tak berapa lama setelah itu, pelukan hangat dia dapatkan dari putrinya. Bahkan sekarang putrinya itu tengah menangis bahagia.


"Aku mencintaimu, dad." ucap Yumna disela tangis bahagianya.

__ADS_1


"Daddy juga, princess." Naren mengecup puncak kepala putrinya yang sebentar lagi akan menjadi seorang istri.


Setelah pelukan usai, kini giliran Sarsen yang memeluk tubuh calon mertuanya. Entah harus berapa banyak ungkapan terima kasih yang harus Sarsen ucapkan. Karena impiannya menikah dengan Yumna akhirnya akan segera terwujud dengan restu dari pria yang kini dia. peluk.


"Terima kasih, tuan Naren. Aku bahagia bisa bertemu denganmu." ucap Sarsen dengan tulus.


*


*


*


Bersambung...


Extra part kali ini ngga banyak" ges. Tunggu kelanjutannya yaaa. Makasih buat kalian semua pembaca setiaku.

__ADS_1


__ADS_2