Suara Hati Suami

Suara Hati Suami
Berubah


__ADS_3

Nara berganti posisi. Kini dia bersandar didada bidang Naren yang tertutup baju tidur. Kemudian melanjutkan ceritanya.


Gio masuk ke dalam bangsal. Dengan langkah ragu, dia tetap melangkah menuju ke ranjang dimana wanita yang pernah dia tampar sewaktu di Turki itu terbaring lemah. Napas berat dia hembuskan. Lantas, dia duduk di kursi yang berada didekat ranjang.


"Sa, maafin aku. Karena aku, kamu jadi kaya gini. Aku bener-bener minta maaf, Sa." Gio tertunduk. Sesak didada membuannya tidak tahan ketika melihat Chesa.


Sudah cukup semua yang dia lakukan selama ini. Dia telah menyianyiakan dua wanita sekaligus. Dia benar-benar egois. Lelaki brengsek.


"Aku memang terlahir sebagai orang yang ngga berguna." simpulnya pada kehidupan.


Dia, terlahir sebagai anak haram. Anak soerang pembantu. Hanya menjadi benalu.


Termasuk Nara, wanita yang dia cintai. Begitu juga Chesa, mantan pacar yang kini justru menjadi istrinya. Dua wanita itu telah dia sakiti secara bersamaan. Apalagi keduanya adalah sahabat.


"Benar kata Ren, aku memang ngga pernah diinginkan." dia kembali menyimpulkan.


"Kamu benar, aku salah karena udah menginginkan kamu." lirihan itu membuat Gio mendongakkan wajahnya.


Gio bangkit, langsung menggenggam tangan Chesa. "Kamu udah sadar?" tanyanya lembut. Tak seperti biasa.


Chesa perlahan melepas genggaman tangan Gio. Dia sudah tahu semuanya. Saat dokter memberitahu bahwa dia lumpuh.


"Aku yang harusnya tanya, apa kamu udah sadar?" Chesa balik bertanya membuat Gio terdiam. Pertanyaan itu berhasil menyentil hati terdalam Gio yang sudah lama tertutup oleh nama Nara.


Gio mengangguk pelan. Benar, sekarang dia sudah sadar. Apa yang menjadi milik orang lain tidak berhak dia ambil lagi. Kini hanya perlu kembali, lalu memperjuangkan apa yang perlu diperjuangkan.

__ADS_1


Melihat Gio, Chesa tersenyum sinis. Suaminya itu sadar ketika dia benar-benar tak mampu lagi untuk bangkit. Jahat! Terlalu kejam! Demi hati yang tulus, dia rela jatuh sejatuh-jatuhnya. Bahkan untuk bangkit pun rasanya susah. Tidak lagi ada keinginan.


"Sa, aku bener-bener minta maaf setulus-tulusnya sama kamu. Tolong maafin aku, Sa." Gio memohon.


"Apa maaf kamu bisa ngembaliin aku seperti sedia kala? Ngga kan? Lalu untuk apa aku menerima maaf dari kamu? Semuanya bakal tetap sama, aku bakal tetep lumpuh."


Bersamaan dengan itu air mata mengalir deras. Chesa terisak. Baginya, dunia semakin tidak adil.


"Sa, kamu tetap Chesa yang sempurna untuk aku. Kamu ngga lumpuh. Kamu cuma butuh aku untuk selalu ada buat kamu."


Gio mengusap bulir bening yang mengalir diwajah putih Chesa. Dia berjanji, setelah ini dia akan berubah. Menjadi suami yang baik dan tidak lagi menganggu kebahagiaan saudara tirinya.


"Setelah ini aku janji Sa, aku bakal berubah seperti yang kamu mau dulu. Mulai sekarang, cinta ini cuma buat kamu. Ngga ada yang lain. Sungguh." dengan sepenuh hati Gio mengatakannya pada Chesa, membuat wanita itu diam.


Kembali ke London, Naren dengan seksama mendengar cerita istrinya itu. Ada rasa tidak percaya jika saudara tirinya itu benar-benar akan berubah. Bukan tidak percaya, dia hanya takut Gio kembali dan membawa Nara pergi.


"Chesa masih kecewa. Tapi dia cerita sama aku kalau Gio benar-benar jadi seseorang yang dia inginkan. Bahkan, sekarang Chesa adalah prioritasnya. Jadi, Chesa belajar memaafkan semua kesalahan Gio. Dan dia juga belajar menerima kehidupannya yang baru."


Naren menguap, rasa kantuk sudah menyerbu. Melirik jam yang berada diatas nakas, Naren pun turun dari ranjang. Dia pamit untuk bersih-bersih. Sedangkan Nara dia menunggu di ranjang.


Uhuk! Uhuk!


Nara melihat ke tangannya yang tadi dia gunakan untuk menutup mulut ketika batuk. Ternyata dia batuk darah lagi. Dia harus segera minum obat pereda. Tapi tunggu, dimana obatnya ya? Ah, dia lupa menaruhnya.


"Dimana obatnya ya?" Nara mencari ke nakas. Membuka laci yang biasanya menjadi tempat dimana obat tersimpan.

__ADS_1


"Kamu cari ini?" mendengar suara Naren, reflek Nara membalikkan badan.


Dia diam ketika melihat obat yang dia cari ada ditangan suaminya. Tidak, dia belum siap untuk bercerita sekarang.


"Sini duduk." ajak Naren, menggandeng tangan Nara agar duduk di tepian ranjang.


Nara pun ikut duduk. Gemetar, dia meremas jarinya yang berkulit putih langsat itu.


"Minum." Naren memberikan segelas air putih, kemudian obat pada Nara.


Setelah obat Nara minum, pertanyaan langsung terlontar dari Naren. "Kamu belum sepenuhnya percaya sama aku ya? Sampai-sampai riwayat penyakit pun kamu sembunyiin dari aku?"


"Bukan begitu, kak. Aku cuma belum siap cerita aja. Aku takut kamu ngelarang aku tinggal di London hanya karena kamu tau tentang penyakit ini. Itu aja."


Naren mendekat. Dia memeluk istrinya dan meminta maaf. "Aku ngga akan ngelarang kamu raih impian yang selama ini kamu cita-citakan, Ra. Tapi kamu harus inget, aku suami kamu. Tempat kamu bercerita apapun masalahnya. Kita harus menjalani suka dan duka bersama. Bukan saling menyembunyikan begini." Naren memberi nasihat, mengingatkan Nara jika apa yang dilakukan istirnya itu salah.


"Maaf, kak. Memang ngga seharusnya aku nyembunyiin ini dari kamu. Aku salah, aku minta maaf."


Pelepas pelukannya, Naren mencium kening Nara. "Besok kita ke rumah sakit. Aku pengen tahu perkembangan bayi kita dan kesehatan kamu." setelahnya, mereka bersiap tidur.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung...


Gaes, doakan ya moga bisa UP terus hehe. Makasih buat kalian semua pembaca setia SHS. Moga ngga bosan sama ceritanya ya. Jangan lupa like, koment dan masukin ke box favorite. Jumpa bab selanjutnya. Bye.


__ADS_2