Suara Hati Suami

Suara Hati Suami
Garis


__ADS_3

Pikiran kembali melayang pada kejadian sebulan yang lalu. Dimana dirinya yang tak harus apa pada saat itu, harus merelakan harinya dengan duduk di ranjang. Kebiasaan yang berbeda.


Dirinya merasa menjadi lemah. Tak bisa apa-apa dan hanya mengandalkan orang. Sekuat tenaga berusaha seperti dulu, namun itu semua menjadi percuma. Tuhan masih belum juga mengabulkan doanya. Mungkin, itu semua ada maksud lain. Pikirnya.


"Aku harus mengatakan ini semua. Mengakhiri ini dan memulai semuanya dari awal." ucapnya dengan tegas sebelum pintu kamar bercat putih terbuka.


Segelas susu dan obat terlihat menyapa pandangannya malam itu. Wanita berhijab putih melangkah anggun menuju ranjang yang dia duduki. Dengan tenang, nampan kini sudah berada disampingnya.


"Jangan lupa diminum susu dan obatnya. Semoga Allah memberikan lekas kesembuhan, kak." setelahnya, wanita cantik yang akhir-akhir ini sering menampakkan senyum manisnya itu berlalu dari pandangannya. Meninggalkannya dengan segelas susu putih hangat dan obat yang harus dia minum setiap harinya.


Tenggorokannya seperti tercekat. Ingin memanggil, namun dia urungkan entah dengan sebab apa. Dirinya juga belum siap untuk mengatakan itu semua. Tapi, dia juga ingin secepatnya mengakhiri ini semua. Lebih tepatnya mengakhiri rasa sakit dan harapan yang pupus.


Meraih tongkatnya, Naren beranjak dari ranjang. Berjalan pelan menuju pintu. Membukanya perlahan dan menutupnya dengan rapat.


Rumah terlihat sepi dan sunyi. Kaki dengan perban itu terus melangkah menuju sebuah kamar bertuliskan 'Andinna Yumna Fatiha'. Saat sampai didepan pintu, samar-samar dia mendengar suara lembut. Cerita islam, nyanyian dan nasihat. Tak terlupakan. Ciri khas sang istri.


Menghembuskan napas pelan guna mentralkan gejolak dalam hati, Naren perlahan membuka pintu. Terlihat disana, sang istri yang asik bercrita dan putrinya yang sudah memejamkan mata. Hanyut dalam setiap untaian mutiara kata.


Sejenak dirinya terpaku. Lupa dengan tujuan awal dia kesana. "Kamu ngapain kesini, kak? Susu sama obatnya udah diminum?" pertanyaan lembut menyapa indera pendengarannya. Matanya tertuju pada wajah cantik berhijab yang kini mendekat ke arahnya.

__ADS_1


Nara menghampiri Naren yang diam ditempatnya. "Kak?" panggilnya, membuat Naren tersadar.


"Aku mau ngomong sesuatu sama kamu. Ayo kembali ke kamar." balasnya dengan tubuh yang kini sudah berbalik terlebih dahulu. Memunggungi wanita yang berdiri tak jauh darinya.


"Sini aku bantu." tangan lembut itu menyentuh lengannya tanpa permisi. Darah seketika mendesir bersamaan dengan jantung yang berdetak semakin cepat.


Tak ada pilihan lain, Naren memilih berjalan dengan dibantu oleh sang istri menuju kamar yang kini pindah di lantai satu.


"Minum susu dan obatnya dulu, kak." saat sampai di kamar, dengan cekatan Nara menyuguhkan segelas susu dan obat.


Tanpa membalas ucapan sang istri, Naren segera meminum susu hangat dan obatnya.


Naren menatap bola mata khas Indonesia itu dengan lekat. Ada rasa tidak tega jika harus mengatakan itu semua. Tapi, dirinya juga tidak mau terus seperti ini. Takut, semua itu akan berakhir menjadi kebencian.


"Kamu duluan." ucapnya dengan dingin. Membiarkan sang istri terlebih dahulu yang mengutarakan.


Nara membuka laci berwarna coklat. Tangannya bergerak mencari benda pipih. Tak butuh waktu lama, akhirnya benda yang dia cari ketemu.


Dengan senyum mengembang, Nara memberikan benda pipih tersebut pada sang suami.

__ADS_1


Deg!


Dua garis merah!


Naren masih terpaku dengan apa yang dia lihat didepannya. Hatinya bergemuruh hebat. Disaat dirinya ingin lepas, namun selalu saja ada sesuatu akan yang akan semakin mengikatnya.


Mata yang sering memancarkan sorot dingin tanpa cinta itu, kini berkaca-kaca. Dirinya ingat, jika Tuhan selalu mempunyai rencana tersendiri.


"Ternyata ini rencana Tuhan untukku." batinnya, dengan air mata yang kini menetes diatas benda pipih yang menunjukkan dua garis merah.


*


*


*


Bersambung...


Jangan lupa dukung terus ya semuanya... Like, koment dan favorite. Yukkk terus ramaikan cerita ini.

__ADS_1


Gimana nih sampai episode ini? Apakah Naren akan tetap memilih mengakhiri semuanya? Atau tetap bersama selamanya?


__ADS_2