
Bocah mungil berkepang dua muncul bersama bi Inul. Dua orang tua itu langsung bangkit. Tersenyum lebar ketika melihat cucunya yang sehat dan gemuk. Terlihat sangat lucu dan menggemaskan.
"Sayang, ayo salim sama kakek dan nenek." dengan patuh, Yumna mengikuti perintah daddy-nya. Mencium tangan dua orang tua yang kata daddy-nya adalah kakek dan neneknya.
"Anak pintar." puji ibu Fira, ibu kandung dari istri pertama Naren yaitu Shafira.
"Daddy, kok Yumna punya kakek dan nenek lagi? Kan kakek dan nenek ada di luar negeri kaya opah sama omah." dengan wajah imutnya, Yumna bertanya pada daddy-nya setelah selesai mencium tangan kakek dan neneknya dari jalur bunda.
Nara tersenyum, mengusap pelan puncak kepala Yumna. Mendudukkan bocah mungil itu diatas pangkuannya. "Sayang, kamu ingat kan cerita mommy dulu?" perlahan, Nara mulai mengingatkan kakek dan nenek pada putrinya.
Yumna menganggukkan kepalanya. "Sama halnya kaya opah sama omah yang kemarin Yumna temui. Mereka itu bapak sama ibunya bunda kamu. Makanya kamu panggil mereka kakek dan nenek." jelasnya pada Yumna.
Tanpa banyak tanya lagi, Yumna mengangguk. Paham apa yang dijelaskan oleh mommy-nya. "Terus bunda mana? Kok kakek sama nenek cuma berdua?" tanyanya pada kakek dan nenek yang kini sedang memandangnya sedang tatapan takjub. Wajahnya mirip putri mereka, Shafira. Yang telah tiada tujuh tahun yang lalu.
Ibu Fira dengan semangat menjawab, "Kamu kangen bunda, ya? Kakek sama nenek kesini juga mau ngajak kamu ketemu sama bunda. Kamu mau kan, sayang?" ajaknya pada sang cucu.
"Iya. Tapi, Una mau jalan-jalan sama daddy sama mommy." balas Yumna.
__ADS_1
Naren teringat, jika hari ini mereka akan pergi jalan-jalan ke kebun binatang. Namun, ajakan mertuanya untuk menemui almarhum istri pertamanya, jauh lebih penting. Karena, ini adalah pertama kalinya Yumna dan kakek dan neneknya berziarah. Momen yang langka.
"Sayang, kita temui bunda kamu dulu. Setelah itu kita jalan-jalan. Ya?"
"Iya udah deh. Ayo kita ketemu bunda dulu. Nanti abis ketemu bunda kita liat binatang." balas Yumna yang langsung membuat kakek dan neneknya tersenyum.
Mereka berangkat menuju TPU (Tempat Pemakaman Umum) yang membutuhkan waktu sekitar sepuluh menit.
"Alhamdulillah. Akhirnya kita sampai."
Mereka semua turun dari mobil. Berjalan bersama menuju pemakaman dengan sekantung bunga yang tadi mereka beli.
Karena setiap jumat, Naren selalu menyempatkan untuk berziarah. Mengirimkan doa terbaiknya untuk wanita yang pernah berjuang hingga rela meregang nyawanya demi buah hati mereka.
Yumna turun dari gendongan kakeknya. Berjongkok dan mengusap nisan bertuliskan 'Shafira Nur Kafah'. "Ini bunda ya?" tanyanya pada semua orang.
Ibu Fira ikut berjongkok. Mengusap punggung cucunya dengan lembut. "Iya sayang. Dia bunda kamu. Terus doain dia ya." jawab ibu Fira sembari ikut menatap nisan putrinya.
__ADS_1
Matanya menggenang, memori indah bersama putrinya teringat jelas dalam sanubari. Apalagi melihat cucunya yang tengah memeluk nisan dingin bertuliskan nama bundanya. Hatinya terenyuh.
Naren yang melihat itu pun tak kuasa menahan air matanya. Tak ingin terlihat sedih oleh putrinya, Naren cepat-cepat mengusap bulir being yang mengalir dipipinya.
"Bunda, Una bakal selalu doain bunda. Semoga bunda masuk surga. Kita ketemu di surga ya bunda. Tungguin Una disana. Una sayang bunda." bocah mungil itu memeluk erat nisan bundanya. Rasa rindunya membuatnya tak bisa lepas sedikitpun dari batu nisan bertuliskan nama bundanya.
Ingin dia melihat sosok bundanya, senyum manisnya dan merasakan kelembutan seorang bunda.
Tapi, dengan adanya sosok sang mommy, membuat Yumna tak sedih lagi. Mommynya adalah bundanya juga.
"Una sayang bunda." setelahnya, Yumna mengecup nisan tersebut dengan penuh rasa rindu.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa dukung terus. Makasih semuanya... Tunggu karya terbaru yaa. Judulnya 'Mendadak Sah!'. Hanya cerita receh dari Author.