
Nara menatap perutnya dengan tatapan bersalah. Mengelusnya dengan lembut. Bersamaan dengan itu, air mata kembali turun.
Entah kenapa setelah kehilangan janinnya, Nara selalu merasa sangat sedih. Dia melupakan banyak hal. Mengisi hari dengan air mata dan merenung. Tak ada yang dia pikirkan selain itu.
Naren yang melihat itu, menghampiri Nara. Memberikan usapan lembut seperti biasa. Selalu seperti itu. Karena itu adalah tugasnya.
"Kenapa kamu selalu menangis tiba-tiba kaya gini? Keinget calon anak kita yang udah di surga, ya?" Naren duduk didepan Nara yang sedang menunduk. Menebak isi pikiran istrinya.
Nara mengangguk, masih dengan menatap ke bawah. "Boleh aku cerita sedikit ngga?" tawar Naren, membuat Nara mendongak. Mata basahnya melihat ke arah wajah tampan sang suami.
Kembali Nara membalas dengan anggukan. Menggenggam tangan sang istri, Naren memposisikan tubuhnya agar enak untuk menghibur sang istri yang sudah tiga hari bersedih.
"Aku pernah mengaji waktu di Aceh. Saat itu, aku baru SMA. Aku yakin, kamu belum pernah mendengar cerita ini dari aku kan?"
Sang istri yang sedang dia hibur itu menggeleng. "Ketika itu, pak ustad membahas tentang keutamaan bersabar dan pahala atas musibah. Disebutkan dalam sebuah hadist yang menjadi kabar gembira bagi orang tua yang Allah takdirkan kehilangan buah hatinya adalah mendapatkan Rumah Baitul Hamdi atau Rumah Pujian."
"Dari Abu Musa Al-asy'ari, Rasulullah SAW bersabda : "Apabila anak seorang hamba meninggal, maka Allah berfirman kepada malaikat : "Kamu telah mencabut (nyawa) hamba-Ku?"."
Nara menyimak cerita dari Naren dengan seksama. Hatinya terasa lebih tenang dan damai. Hingga tak sadar, dia pun hanyut dalam cerita yang Naren selalu ingat dalam hidupnya.
"Para malaikat menjawab : "Ya." Kemudian, Allah berfirman : "Kamu telah mencabut (nyawa) buah hatinya?". Para malaikat menjawab : "Ya"."
"Maka Allah berfirman : "Apa yang dikatakan hamba-Ku?". Para malaikat menjawab : "Ia memuji-Mu dan bersabar mengharapkan pahala-Mu.".
__ADS_1
"Lalu, Allah berfirman : "Bangunkanlah rumah di surga untuk hamba-Ku. Dan berilah nama Baitul Al Hamdi.".
Sejenak hening. Naren meminum setengah gelas air putih yang baru saja dia ambil dari dapur. Lalu, kembali meletakannya diatas nakas dekat dengan ranjang.
"Terus? Ada lagi ceritanya?" tanya Nara yang semakin ingin mendengarkan cerita dari sang suami yang berhasil membuat hatinya tenang.
Naren tersenyum manis. Mencubit pipi putih itu dengan gemas. Ini yang dia mau. Mendengar suara sang istri seperti biasa.
"Sebenarnya banyak. Cuma aku lupa. Hehehe. Gimana? Udah mendingan?" tubuh itu semakin mendekat. Saling menggenggam tangan satu dengan yang lainnya.
"Alhamdulillah, udah." senyum terukir setelah menjawab.
"Mulai sekarang, jangan sedih terus. Banyak kebahagiaan yang harus kamu raih. Kalau kamu mau cerita, aku siap menjadi pendengar setia kamu. Demi Allah, aku ngga akan pernah bosan dengan cerita istriku yang cantik bak bidadari ini. Asalkan jangan cerita mantan yaa. Aku cemburu nanti."
Sedetik kemudian, Nara tertawa mendengar ucapan terakhir sang suami. Lantas, dia membenamkan wajahnya di dada bidang sang suami yang terbalut baju tidur couple dengannya. Merasa sangat nyaman.
"Terima kasih Ya Allah. Engkau telah mengabulkan doaku setelah penantian panjang ini. Aku bersyukur, bisa merengkuh bidadari yang engkau kirimkan padaku. Aku berharap, engkau selalu menyatukan kami dalam keadaan apapun. Sehidup sesurga. Amin."
"Gimana, kalau besok kita pergi ke taman? Aku tau, kamu pasti butuh pikiran yang lebih fresh setelah beberapa hari ini." tawarnya pada Nara yang masih asik membenamkan wajahnya. Menikmati aroma wangi khas tubuh tegar sang suami.
"Heem..."
"Lihat aku donk." perintah Naren yang langsung dilaksakan oleh Nara dengan patuh.
__ADS_1
"Terus?"
"Cium." kode Naren menunjuk pipinya.
Dengan malu-malu, Nara mencium pipi suaminya. Begitu pun Naren. Memberikan ciuman di pipi, kening dan yang terakhir di bibir pink manis milik sang istri.
"Bonus." kata Naren yang melihat bibir Nara mengerucut.
"Ya deh... Yuk kita tidur. Aku ngantuk." ajak Nara.
"Karena kamu udah dapat bonus, giliran aku ya yang dapat bonus." setelah mereka memposisikan tubuh saling berhadapan dibawah selimut tebal yang menutup hingga leher, Nara memilih untuk memulai percakapan sebelum tidur. Hitung-hitung sebagai pengantar tidur.
"Bonus apa?" Tanya Naren penasaran.
"Peluk aku terus sampai pagi. Dan, besok jangan lupa kita jogging di sekitar perumahan. Dan jangan lupa juga, mampir di taman. Aku pengen beli bubur ayam hangat. Aku kangen makanan itu. Udah lama ngga makan. Boleh kan?"
Tanpa menjawab, Naren sudah memeluk tubuh Nara. Mengelus pundak itu dengan lembut. "Boleh lah. Apa yang ngga si buat kamu, istriku sayang."
*
*
*
__ADS_1
Bersambung...
Yukkk bantu dukung terus. Makasih buat kalian yang baik hati. Jangan lupa tunggu kelanjutannya ya gaes.