
Ditempatnya Naren mengulas senyum melihat Yumna dan Sarsen yang tengah foto bersama dipanggung kecil setelah acara lamaran usai. Dirinya jadi teringat dengan sosok Shafira, wanita pertama yang dia cintai. Senyumnya, cantiknya dan cerianya. Turun ke wajah Yumna. Jujur saja, dirinya merindukan momen itu.
Tiba-tiba bi Inul datang menghampiri Naren. Menyampaikan bahwa ada tamu didepan. Seorang wanita cantik bersama dengan anak seumuran Anzel. Mendengar penuturan bi Inul, Naren segera bangkit dari tempat duduknya dan melangkahkan kaki ke depan rumah diikuti bi Inul dibelakangnya.
"Ini pak Naren yang ibu cari." bi Inul memberitahu pada wanita cantik yang tengah memperhatikan teras rumah yang cukup mewah.
Wanita tersebut menoleh. Lalu bersitatap dengan sosok yang dia cari. Banyak perubahan dari terakhir kali mereka bertemu. Membuatnya sedikit pangling.
"Kamu... Chesa?" Naren yang baru ingat wanita didepannya lantas mengonfirmasi. Takut salah orang.
Wanita cantik itu mengangguk dengan senyum dibibirnya. Senang karena pria dihadapannya masih ingat dengan dirinya.
"Apa itu anakmu?" tanya Naren seraya menunjuk ke seorang bocah tampan yang berdiri dibelakang tubuh Chesa.
"Ya. Dia anakku dan Gio. Namanya Ezra. Kamu bisa memanggilnya Ez agar lebih gampang." Chesa menjawab, tangannya bergerak membawa tubuh Ezra agar mau mendekat ke arah Naren.
Naren berjongkok, memandang bocah tampan yang tampaknya malu dan takut saat melihatnya. "Hai, Ez. Kemarilah, jangan takut. Aku adalah pamanmu." Naren melambaikan tangannya diudara. Berusaha agar Ezra mau mendekat ke arahnya.
"Sayang, ayo kenalan dengan paman Ren." perintah Chesa pada Ezra yang semakin bersembunyi dibelakang tubuhnya.
"Apa itu benar paman adalah saudara papa, mama?" tanya Ezra kepada Chesa. Bocah itu paling anti pada orang asing. Jadi, saat mendengar ucapan Naren bahwa dia adalah pamannya membuatnya segera mengonfirmasi pada Chesa.
"Ya, Ez. Kamu tidak perlu takut. Ayo sekarang mendekatlah pada paman." perintah Chesa lagi. Dan kali ini Ezra baru mau mendengarkan.
Perlahan Ezra mendekat ke arah Naren. Namun saat tiba, seorang gadis cilik tiba-tiba datang sembari memanggil pria didepannya. "Daddy!"
Naren menoleh. Lantas membuka tangannya lebar saat melihat Anzel berlari ke arahnya. Dipeluknya Anzel dengan erat. Tak lupa sebuah kecupan singkat mendarat dikening gadis itu.
"Anzel, kenalkan dia adalah Ezra." Naren memperkenalkan Ezra pada Anzel.
__ADS_1
"Dan Ezra, ini adalah Anzel. Anak paman. Dia seumuran denganmu. Semoga kalian bisa akur dan berteman baik." Ezra yang mendengar itu hanya membalas dengan anggukan.
"Ezra, ayo main bersama. Aku akan menunjukkan sesuatu padamu." ajak Anzel seraya menarik tangan Ezra masuk ke dalam rumah setelah mendapat ijin dari Chesa. Tentunya juga Naren.
Kini tinggalah Naren dan Chesa karena tadi bi Inul sudah pamit pergi ke dalam untuk mengurus keperluan acara makan besar.
"Senang bisa bertemu kembali." ucap Chesa pada Naren.
"Ya, aku pun. Ku kira kamu tidak akan datang. Karena ku pikir, Indonesia terlalu jauh untukmu." balas Naren dengan jujur.
Chesa tertawa mendengarnya. "Tentu tidak. Karena dengan niat menjalin persaudaraan, jarak sejauh apapun akan terasa dekat. Bukan begitu?"
"Baiklah, baiklah. Mari kita masuk. Karena acara makan besar dengan keluarga akan segera dimulai." akhirnya mereka pun masuk ke dalam.
Didalam rumah, semua keluarga saling bertatapan satu sama lain saat Naren datang dengan seorang wanita disampingnya. Mereka berbisik siapakah wanita yang Naren bawa. Karena selama ini mereka tidak pernah melihat Naren bersama seorang wanita yang kini hadir diantara mereka.
"Aku sangat merindukanmu, Zel. Aku senang kita bisa bertemu lagi setelah sekian lama." ucap Chesa seraya merapatkan lagi pelukan mereka.
Ibu Sarsen yang tak lain adalah Zeline menangis mendengarnya. Tak menyangka mereka akan bertemu lagi. Dan bisa berkumpul dalam acara bahagia kali ini.
"Aku juga, Sha. Senang juga melihatmu baik-baik saja. Ayo bergabung bersama kami." ajak ibu Sarsen dengan tangan menggandeng Chesa agar ikut bergabung untuk acara makan besar.
Naren mengikuti dari belakang. Lalu duduk dikursi kosong yang memang disiapkan untuknya. Setelahnya semua orang makan dengan lahap tanpa ada pembicaraan.
Setelah selesai, semua orang berpamitan karena hari sudah malam. "Aku pulang dulu ya, Sha. Sampe jumpa kembali. Ku harap kamu betah tinggal disini ya." ucap ibu Sarsen sebelum masuk ke dalam mobil.
Tak lama, mobil yang disiapkan untuk mengantar jemput keluarga Sarsen mulai meninggalkan teras rumah. Semua orang pun melambaikan tangan. Tak terasa acara berjalan begit cepat. Dan semua orang memilih pergi ke kamar untuk mengistirahatkan diri mereka yang sangat lelah.
Namun berbeda dengan ayah Naren. Kali ini pria itu memilih berjaga lebih dulu. Karena ada sesuatu yang harus dia selesaikan saat sekarang juga.
__ADS_1
"Saya ayah Naren. Ayah dari Gio juga. Senang bisa bertemu denganmu." ayah Naren memulai percakapan antara dirinya dan Chesa, menantunya.
Chesa tersenyum, "Ya ayah, senang juga bisa bertemu denganmu dalam keadaan baik-baik saja."
Ayah Naren menatap menantunya. Bayangan ibu Gio dan Gio seketika berkelebat dibenaknya. Dia teringat mereka berdua. Ada rasa nyeri ketika mengingatnya. Segala dosanya dimasa lalu belum juga mampu dia maafkan juga. Hal itu membuatnya terus merasa bersalah. Apalagi saat ini. Ketika dia berbicara dengan istri dari anaknya yang dia tahu sudah meninggal bersama dengan menantunya, Nara.
"Maafkan ayah." ucap ayah Naren lirih.
Walau seperti itu, Chesa masih mendengarnya. "Ayah tidak perlu merasa bersalah lagi. Ibu dan Gio sudah memaafkan kesalahan ayah. Ayah hanya perlu mendoakan Gio agar tenang dan mendapatkan tempat terbaik diatas sana. Dan juga mendoakan agar ibu bisa sehat terus."
Ayah Naren menghembuskan napas panjang. Sangat lega mendengar ucapan menantunya. Dia selalu mendoakan yang terbaik untuk dua orang yang tidak akan pernah terlupakan dalam sejarah hidupnya.
"Ayah tau? Gio sama seperti ayah. Dia tidak akan pernah melupakan kesalahan yang diperbuat terhadap orang lain. Namun, dia orang yang bertanggung jawab. Dan dia selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk menebus kesalahannya." Chesa mengungkapkan betapa kerasnya perjuangan Gio padanya untuk menebus kesalahannya.
Ayah Naren memandang Chesa. "Memangnya apa yang pernah dia perbuat sehingga kamu menganggapnya sama seperti ayah?"
*
*
*
Bersambung...
Lanjut ga nih? Ada yg masih inget ga sama Chesa? Kalo lupa biaa baca lagi dari awal. ya hehehe.
Oke ges, sekedar pemberitahuan aja ya. Untuk part ini sama selanjutnya bakal fokus ke Chesa dulu ya. Naren sama Anzel bakal ttp muncul kok. Tapi cuma sebentar.
Nnti waktu akhir extra part bakalan isinya Anzel sama Naren deh. Perpisahan buat pembaca setia Suara Hati Suami. Tunggu yaaa...
__ADS_1