Suara Hati Suami

Suara Hati Suami
Extra Part 8


__ADS_3

Chesa menghembuskan napasnya perlahan sebelum menjawab pertanyaan dari ayah mertuanya. Ini sedikit berat untuknya. Dimana dirinya harus kembali membuka kisah pahitnya dimasa lalu. Namun, mengingat senyum Gio yang seketika hadir membuatnya akhirnya mau bercerita. Toh semuanya sudah berlalu. Biarlah kisah ini menjadi sejarah dalam hidupnya dan bisa menjadi pelajaran untuk orang lain.


"Dulu aku pernah mengalami kecelakaan saat berusaha mencari Gio di Jakarta. Dan aku dinyatakan lumpuh." Chesa berusaha agar terlihat baik-baik saja didepan ayah mertuanya. Walau dia sendiri tahu ayah mertuanya terkejut dengan yang dia katakan.


"Anak brengsek! Andai saja dia masih hidup, akan ku hajar dia habis-habisan." ayah Naren yang mendengar cerita dari menantunya merasa sangat marah. Tangannya terkepal kuat sembari memalingkan wajah ke sembarangan tempat. Malu dengan menantunya yang meski sudah tersakiti tetap saja masih mencintai anaknya.


Chesa tersenyum, "Ayah tidak perlu melakukan itu. Waktu itu Gio juga meminta pada Naren agar melakukan hal yang ingin ayah lakukan pada Gio. Tetapi Naren menolak, Naren hanya meminta agar Gio mengikhlaskan Nara dan mulai menerimaku dihidupnya." dengan penuh ketenangan Chesa kembali bercerita. Berusaha meredam kemarahan ayah mertuanya.


"Lalu apa yang dilakukan Gio setelahnya?" tanya ayah Naren sembari melihat ke arah menantunya.


"Gio berusaha mengikhlaskan Nara yang tidak akan pernah bisa dia miliki lagi. Dan mulai saat itu Gio fokus merawat aku yang lumpuh. Sampai dia rela bolak-balik ke luar negeri untuk pengobatan aku. Dan mencari dokter terbaik agar aku bisa cepat sembuh. Dan puji Tuhan, akhirnya aku bisa berdiri seperti sekarang ini. Itu tak lain karena perjuangan Gio, ayah." Chesa lagi-lagi tersenyum mengingat kisah perjuangannya bersama Gio.


Sangat membekas dihati dan ingatannya. Perhatian, kasih sayang dan janji disertai pembuktian yang begitu berharga untuknya. Selalu terasa ketika dia mengingat kembali semuanya. Apalagi ketika memandang wajah putranya, rasanya Gio seakan hadir disana. Dan rasanya Chesa selalu jatuh cinta sampai saat ini.


Oh, andai Gio masih hidup tentu hidupnya akan jauh lebih berwarna. Batin Chesa sembari menatap langit malam yang kala itu bertabur bintang begitu banyak.


"Anak itu benar-benar mirip dengan ku." lirih ayah Naren yang masih bisa didengar oleh Chesa.


"Ya, ayah. Makanya aku tadi bilang bahwa Gio mirip dengan ayah. Dia adalah orang yang bertanggungjawab. Sebesar apapun kesalahannya, dia pasti akan berusaha menebusnya. Dan semua terbukti dengan yang aku alami ketika bersamanya."


Ayah Naren mengangguki ucapan menantunya. Dia dan Gio memang begitu mirip dari perbuatan dan cara berpikir. Dan hal itu membuat rasa bangga muncul dihatinya. Sekaligus rasa bersalah karena tak dapat menjadi ayah yang baik.


"Maafkan ayah, karena ayah belum bisa menjadi contoh yang baik untuk kalian." ucap ayah Naren tertunduk.


Chesa yang melihat rasa bersalah yang begitu besar lantas mengusap pelan pundak ayah mertuanya. "Tidak apa-apa ayah. Sekarang jadilah kakek yang bisa menjadi contoh untuk cucu-cucunya. Ayah adalah kakek yang hebat untuk mereka." ucap Chesa membuat ayah Naren kembali menegakkan kepalanya. Lalu mengangguk setuju.


Dalam hatinya, ayah Naren berjanji akan menjadi kakek yang bisa membuat cucunya bangga. Dan tentunya akan terus memperbaiki diri agar bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi.


***


Pagi harinya semua orang berkumpul untuk melakukan sarapan bersama. Kali ini meja makan terasa lebih ramai. Ditambah celotehan Anzel dan Ezra yang membuat tawa semua orang hadir.


"Rasanya seperti sedang meeting dengan investor ya? Saudara dari berbagai negara kumpul jadi satu disini." ucap ayah Naren ditengah kegiatan sarapan.


"Ya kau benar sekali. Aku pun merasakan hal yang sama. Tapi ini lebih dari itu. Jika meeting dengan investor tidak ada celotehan anak kecil. Hahaha." ayah Ael ikut menimpali membuat suasana menjadi lebih hidup.

__ADS_1


"Bukan hanya itu saja. Disini pun kita harus memakai bahasa inggris agar saling mengerti." bisik Chesa yang duduk disebelah Naren. Membuat Naren menahan tawa.


"Berlatihlah berbicara dengan bahasa Indonesia." Naren membalas dengan bisikan.


"Aku sudah bisa kok. Dulu aku belajar dari Nara."


"Baguslah. Jadi aku tidak perlu mengajarimu kan?"


Sarapan pun berlanjut sampai selesai. Semua orang membubarkan diri untuk melanjutkan aktivitasnya masing-masing. Termasuk Naren yang bersiap ke kantor karena hari ini dia akan menghadiri meeting penting. Jadi tidak mengambil cuti.


"Sayang apa kamu sudah siap?" Naren menghampiri Anzel yang sedang duduk bersama Ezra dan Chesa.


Anzel pun segera bangkit. "Sudah daddy. Ayo kita berangkat sekarang." ajak Anzel.


"Baiklah ayo."


"Zel, aku mau ikut." Ezra menghampiri dengan cepat sembari memegang tangan Anzel.


"Ez, nanti Anzel juga pulang kok. Tunggu di rumah saja ya?" Chesa membujuk Ezra agar tidak ikut Anzel pergi. Karena dia tahu, pasti Naren akan pergi dengan Anzel ke suatu tempat. Jadi dia tidak mau menganggu waktu ayah dan anak itu.


"Tapi Ezra-"


"Ayo ikut saja bersama kami. Tidak apa-apa kok. Biar Anzel juga ada teman ketika aku meeting nanti." ucap Naren menengahi.


Ezra pun melonjak kegirangan. "Makasih paman Ren." ucap Ezra dengan memeluk Naren karena sudah diperbolehkan ikut.


Akhirnya mereka pun berangkat karena waktu Naren sudah tidak banyak lagi.


Sesampainya di kantor, Naren mengajak mereka pergi ke ruangannya. Naren menitipkan Anzel pada Chesa. Dan meminta Chesa agar tidak keluar dari ruangan.


Setelahnya Naren pergi saat seseorang menjemputnya. Tinggalah Anzel, Ezra dan Naren di ruangan yang begitu luas dan rapi itu. Dua bocah itu bermain dengan pengawasan Chesa.


Tak lama seorang wanita datang. Lalu memperkenalkan diri pada Chesa. Bahwa dia adalah sekretaris baru Naren. Dan sedang ditugaskan untuk menemani Anzel. Chesa pun merasa senang. Karena dirinya senang ada teman sekarang. Mereka pun mengobrol di sofa dengan segelas teh hangat sebagai teman.


"Maaf bu, kalau boleh tahu ibu siapanya pak Naren ya? Soalnya yang saya tahu istrinya pak Naren kan udah meninggal." tanya Dea dengan hati-hati.

__ADS_1


Chesa yang mendapati pertanyaan itu lantas tertawa. "Saya sudah bisa menebak kamu pasti akan bertanya hal itu, De."


"Oh ya bu? Bagaimana ibu bisa menebak saya akan tanya hal itu?" tanya Dea kembali.


Chesa menatap Dea. Wanita cantik yang polos. Dia suka kepribadian Dea yang ramah dan sedikit pemalu. Juga keingintahuan wanita itu terhadap sesuatu. Tidak salah Naren memilih Dea menjadi sekretarisnya.


"Saya bisa melihatnya dari matamu. Kekaguman itu. Dari sana said bisa menebaknya." jawab Chesa yang membuat Dea terkejut. Dia terdiam seketika. Malu karena sudah tertangkap mempunyai rasa terhadap atasannya itu.


"Mohon maaf bu, jangan bilang pak Naren ya. Bisa-bisa saya dipecat. Saya butuh pekerjaan ini. Ibu saya sedang-"


"Ngga akan kok. Tenang aja." Chesa merasa gemas dengan Dea. Ternyata masih ada orang seperti Dea. Dan itu adalah sekretaris Naren.


"Alhamdulillah. Makasih ya bu." ucap Dea dengan senyum lebarnya.


"Oh ya, tadi saya belum jawab pertanyaan kamu. Jadi, saya itu adik iparnya pak Naren. Mungkin akan jadi adik iparnya kamu." Chesa mencoba mencairkan suasana.


"Eh engga bu. Saya ngga berani." ucap Dea dengan cepat.


"Kenapa? Bukannya kamu kagum dengan-"


"Sayang, daddy udah selesai." bersamaan dengan itu Naren masuk ke ruangannya. Membuat Dea segera bangkit dan berpamitan dengan Chesa karena tugasnya sudah selesai.


"Terima kasih sudah menemani ya Dea. Semoga kita bertemu kembali." ucap Chesa sebelum Dea menghilang dibalik pintu. Membuat Naren mengerutnya alisnya. Heran. Chesa padahal baru datang ke kantor tapi terlihat sudah akrab dengan sekretaris barunya.


"Ayo daddy kita pergi." ajak Anzel.


"Ayo."


*


*


*


Bersambung...

__ADS_1


Hai ges, akhirnya aku muncul lagi nih. Btw bentar lagi tamat. Udah ga akan ketemu lagi ni di novel ini. Tapi ga papa ya. Kita bisa ketemu di novel lain kok. See you. Sampai ketemu di bab selanjutnya.


__ADS_2