
Yumna menatap bola mata teman barunya yaitu boneka Ken. Boneka taddy bear berwarna cream dengan topi miring dikepalanya. Terlihat cantik dan lucu. Boneka itu adalah pemberian dari Jordan. Kata Jordan, boneka Ken akan menjadi temannya. Dan sekarang Yumna benar-benar merasa punya teman. Tidak seperti malam-malam sebelumnya yang terasa hampa. Duduk sendiri sambil memeluk bantal guling dan menangis.
Dipeluknya boneka Ken dengan erat. Seakan boneka itu adalah manusia. Diajaknya boneka Ken berbicara. Yumna mencurahkan isi hatinya tanpa terlupa apa yang dirasakannya sedikit pun. Mulai dari daddy-nya yang berubah sampai acara hari ini.
"Ken, Tell me you'll always be with me." perintah Yumna. Berharap boneka Ken mengatakannya juga. Bagi Yumna, hanya boneka Ken yang tidak akan meninggalkannya. Tidak seperti semua orang yang pergi darinya secara tiba-tiba. Hal itu benar-benar membuat Yumna sangat terluka. Sampai dia memilih menutup diri dari semua orang.
["Ken, katakan padaku kalau kamu akan selalu bersamaku."]
Dibalik pintu kamar Yumna, seorang wanita paruh baya berdiri dengan menahan lara. Ternyata benar yang Nara katakan, cucunya sedang mengalami hal berat. Orang-orang yang dulu selalu mengelilinginya dengan sayang, kini dia hanya sendiri. Sampai memilih berteman dengan boneka yang nyatanya adalah benda mati yang tak dapat berbicara. Miris rasanya.
Tok...
Tok...
Tok...
Setelah menghirup napas dalam-dalam, akhirnya bunda Ai mengetuk kamar cucunya. Hening beberapa detik.
Ceklek!
Senyum langsung terbit dari bibir bunda Ai ketika pintu terbuka. Nampak cucunya yang cantik tengah berdiri didepannya. Lengkungan senyum tidak terlihat dari wajah Yumna. Hal itu membuat bundai Ai sedih.
Bunda Ai lantas berjongkok, mensejajarkan tingginya dengan Yumna. Diusapnya rambut hitam Yumna dengan lembut. "Sayang, Omah kangen kamu." kata bunda Ai.
Yumna berdiri mematung. Sesekali matanya berkedip. Merasakan setiap kehangatan yang menjalar dari usapan tangan oma-nya. Rindu. Ya. Yumna merindukan usapan penuh cinta ini. Terutama dari daddy-nya.
Tanpa berkata, Yumna langsung memeluk bunda Ai. "Una, juga kangen omah." Pelukannya terasa begitu erat. Membuat bulir bening yang menggenang pada akhirnya jatuh.
"Sekarang kamu punya temen cerita. Kamu ngga sendiri lagi, sayang. Ada omah. Ya?" Yumna mengangguk mendengar ucapan omahnya. Pelukannya semakin erat. Takut kehilangan lagi.
__ADS_1
Perlahan bunda Ai melepas pelukan. Lalu menuntun Yumna masuk ke kamar dan duduk di tepi kasur setelah pintu ditutup.
"Omah janji jadi temen cerita Una?" tanya Yumna memastikan.
Bundai Ai mengangguk beberapa kali sambil berkata, "Tentu, sayang."
"Makasih ya omah. Una jadi punya temen lagi selain Ken." ucapnya tersenyum manis.
Lagi dan lagi bundai Ai memeluk cucunya itu. Kemudian melanjutkan dengan obrolan ringan. "Omah, Una kangen daddy yang dulu." disela pembicaraan mereka, Yumna mengungkapkan apa yang dia rasa akhir-akhir ini. Tentang rindu itu. Rindu yang tidak tahu akan terbalas kapan. Karena sepertinya, memang rindunya tidak akan pernah terbalas.
Dengan lembut bundai Ai mulai memberi cucunya penjelasan. "Una, cucu omah tersayang. Kamu anak yang cerdas. Kamu pasti tahu kenapa daddy kamu jadi seperti itu kan? Daddy kamu sedang berjuang sama rasa sakit-nya. Dan kamu harus bantuin daddy buat sembuh. Berdoa sama Allah, semoga daddy kamu cepat sembuh seperti dulu. Ya anak pintar?"
Yumna tampak berpikir sebentar. Mencerna setiap kata yang keluar dari bibir omah-nya. Setelah malam penuh cerita bersama omah-nya, Yumna mulai berubah. Setiap pagi, wajah cantik dan riangnya menyapa semua anggota keluar. Dan dimalam harinya, Yumna akan menemani Najla sampai tidur.
Perubahan diri Yumna yang sekarang menjadi perhatian membuat hati Naren terketuk. Seperti sekarang, saat Yumna tertidur disamping Najla, Naren dengan hati yang tidak tega menghampiri Yumna. Dibelainya wajah cantik Yumna dengan lembut, lalu mendaratkan satu kecupan dikening Yumna.
"Maafkan aku, anak cantik. Aku benar-benar tidak ingat apapun. Termasuk kamu, putri tercintaku. Aku merasa bersalah pada ibumu dan kamu. Aku tahu kalian sedang berjuang agar aku kembali. Dan ingat semuanya. Tentang kenangan yang tidak akan pernah ditemui sepanjang waktu bersama kalian berdua. Sekali lagi aku minta maaf. Karena belum bisa membuat kalian bahagia." Setelahnya, Naren menarik selimut putih untuk menutupi tubuh Yumna. Kemudian segera pergi dari kamar tanpa mengucapkan sepatah kata lagi.
Saat Naren keluar dari kamar Nara, langkahnya terhenti begitu mendengar suara familiar itu memberi perintah. Naren lantas memutar tubuh hingga berhadapan dengan wanita yang akhir-akhir ini begitu ingin dia rengkuh ke dalam pelukannnya.
"Ternyata kamu sudah kembali, kak." ucap Nara dengan bibir bergetar menahan bulir bening yang siap meluncur melewati pipi putihnya.
Naren menggeleng, "Aku tidak pernah pergi. Kenapa kamu mengatakan aku sudah kembali?"
Nara berlari ketika Naren membentangkan tangannya dengan lebar. "Kak." ucapnya saat keduanya saling melepas kerinduan dalam hangatnya sebuah pelukan.
Keduanya menangis bersama sembari mencurahkan isi hati lewat pelukan yang semakin erat.
"Jangan pernah katakan aku sudah kembali. Karena aku tidak pernah pergi." ucap Naren lembut. Ditatapnya bola mata Nara dengan teduh.
__ADS_1
Nara dengan patuh mengangguki ucapan Naren. "Kamu telah datang, kak." balas lirih.
"Karena kalian yang memanggilku." balas Naren.
Sekali lagi keduanya berpelukan. Menghabiskan detik demi detik dengan cinta yang kini telah bersemi kembali.
*****
"Jadi, apa ingatan Naren sudah kembali, sayang?" bunda Ai bertanya ketika dia sedang berjemur bersama Nara dan Najla.
Nara menggeleng, "Kata dokter, ingatan kak Naren ngga akan kembali, bun."
"Lalu yang bunda lihat?" Bunda Ai menepuk-nepuk tubuh Najla dengan lembut. Membuat bayi mungil itu menggeliat dibawah sinar matahari yang kaya akan vitamin.
"Yang bunda lihat adalah suatu keajaiban. Kak Naren bilang, dia akan membuka lembaran baru bersama aku, Yumna dan Najla. Seperti keluarga pada umumnya. Kami saling mencintai satu sama lain." ungkap Nara dengan wajah penuh senyuman.
Bunda Ai tersenyum mendengar kabar gembira dari putrinya. Semoga ini adalah awal yang baik setelah badai berlalu dari kehidupan putrinya yang begitu rumit.
"Semoga kebahagiaan selalu bersama kalian."
*
*
*
Bersambung...
Hai ges, akhirnya kita ketemu lagi. Maapin yaa baru bisa UP ini. Soalnya habis ujian. Minta doanya ya ges, semoga nilainya memuaskan.
__ADS_1
Oh ya ges, makasih banget buat kalian yang masih mau baca novel ini. Semoga kalian selalu diberi rezeki yang lançar dan kesehatan.
Sampai ketemu dibab selanjutnya ya ges. Love sekebon buat kalian semua para pembaca setiaku 💙