
Naren, pria tampan beranak dua itu tengah terduduk ditepian ranjang dengan mata menatap sebuah bingkai foto yang terletak diatas nakas. Sesak langsung melanda hati kecilnya. Saat tangan kekarnya meraih bingkai berbentuk persegi itu.
"Aku merindukan kalian." lirihnya tertahan. Lagi dan lagi mata sembab itu kini kembali basah oleh butiran kristal yang perlahan luruh.
Setelah kejadian di pemakaman istri keduanya, rasanya Naren tak percaya bahwa hari ini dirinya akan kembali kehilangan sesuatu yang sangat berharga.
Andai, waktu bisa diulang. Maka, pilihan lelaki itu adalah kembali ke masa lalu. Dimana dia hanya akan fokus merawat dua putrinya yang merupakan hadiah terindah dari dua istrinya yang telah meninggal. Sungguh, penyesalan telah menghampirinya saat ini. Merasuk ke dalam hati yang paling dalam. Memberikan bekas yang tidak akan pernah hilang. Terpatri dengan jelas dimemori ingatannya.
Kini, dirinya harus merelakan satu putrinya untuk seorang pria yang belum dia kenal. Bahkan pertemuan tadi adalah yang pertama. Haruskah dia menarik ucapannya kembali? Ah, itu pikiran terbodoh untuk seorang Narendra Fatin Fahrezi. Terlalu jahat jika dia melakukannya. Bisa saja, putrinya akan membencinya. Tidak! Dia tidak akan melakukan hal itu!
"Cepat atau lambat kalian akan pergi dariku. Meninggalkanku seorang diri didunia yang fana ini. Tapi jika itu yang membuat kalian bahagia. Maka, aku akan melakukannya. Walau rasanya sangat sakit." ungkapnya dengan tulus sembari mengusap wajah yang berada didalam bingkai foto.
Seseorang dibalik pintu menutup mulutnya rapat-rapat. Menahan tangis setelah mendengar ucapan dari dalam kamar. Tak dirinya sangka ternyata orang yang dia kira sudah tidak lagi menyayanginya justru sangat dan sangat mencintainya.
Karena cinta yang begitu besar kepada bunda dan mommy-nya membuat daddy-nya benar-benar menutup diri setelah kepergian mereka. Dan menitipkan dirinya pada sang nenek yang berada di Brunei. Sungguh, dirinya benar-benar merasa bersalah karena sudah berburuk sangka.
Sekali lagi Yumna melihat ke arah pintu. Ingin rasanya dia membuka benda persegi panjang itu. Lalu memeluk tubuh kokoh yang dulu selalu dirinya peluk dengan sayang. Tapi kini? Dia bisa apa? Bahkan air mata itu kembali luruh karena dirinya bukan?
"Una." gadis yang dipanggil namanya itu menoleh. Menatap orang yang memanggilnya dengan lembut.
"Omah." kaki jenjang itu melangkah dengan cepat. Lalu memeluk tubuh yang mulai menua itu dengan erat. Membuat orang yang dipeluknya hanya bisa tersenyum sembari mengusap rambut lebat cucunya dengan penuh ketulusan.
__ADS_1
Sedangkan gadis cilik yang berada dibawah sana hanya mampu berkedip lucu melihat pemandangan menyedihkan didepannya. Dia belum mengerti tentang keadaan. Bahkan dirinya baru seminggu menginjakkan kaki di rumah penuh kenangan bagi sosok yang lama tidak dia lihat dalam hidupnya.
"Tak perlu menyalahkan dirimu, sayang. Biarkan daddymu sendiri dulu. Dia butuh waktu untuk menerima semua ini. Karena seiring berjalannya waktu, semua ayah didunia ini akan merasakan hal yang sama. Melepas putri mereka untuk seorang pria yang akan dia beri amanah untuk menjaga putrinya." bunda Ai menatap lekat cucunya seraya menenangkan gadis cantik yang sebentar lagi akan menjadi seorang istri.
Yumna hanya bisa mengangguk lemah mendengar ucapan omahnya. Lantas setelah itu dia menatap ke bawah, dimana adik kecilnya tengah berdiri sambil menatapnya.
"Hai adik kecil kakak, lama tidak bertemu. Ternyata kamu sudah besar sekarang. Semoga kamu betah berada disini ya." Yumna berjongkok agar bisa mengimbangi tinggi adiknya. Mengacak rambut hitam kecoklatan itu dengan gemas. Berusaha tersenyum agar rasa yang hinggap dihatinya mereda.
"Kak Una?" ucapnya lucu. Karena ini dua kali pertamanya dengan sang kakak setelah kepergian mommy-nya.
Yumna mengangguk. "Ya. Ini aku. Kakakmu, Anzel."
Setelahnya mereka berdua pergi bermain. Diikuti bunda Ai dibelakang mereka untuk mengawasi dua cucunya yang lama tidak bertemu. Meninggalkan kamar yang merupakan saksi kesedihan daddy mereka.
"Tidak begitu, sayang. Daddy sedang butuh istirahat. Jadi, seharian daddy di kamar. Maafkan daddy ya." Naren mengusak puncak kepala putri keduanya. Merasa bersalah karena tadi siang mereka tidak jadi pergi ke mall untuk bermain.
"Tidak mau. Anzel marah sama daddy." ucap gadia cilik yang manja itu seraya melipat tangannya didepan dada. Bahkan saat bunda Ai menyuapi, Anzel tetap menolak.
Melihat hal itu, Naren menghela napas panjang seraya tersenyum. Dia mengambil alih sendok yang berada ditangan ibu mertuanya. "Baiklah, sebagai permintaan maaf daddy, daddy akan menyuapimu, okey?"
Anzel yang mendengar ucapan daddynya langsung mengangguk setuju. Ini yang dia mau. Merasakan bagaimana rasanya disuapi oleh daddynya.
__ADS_1
"Makan yang banyak ya, sayang." ucap Naren saat menyuapi Anzel yang nampak sangat senang karena disuapi oleh dirinya.
Anzel hanya mengangguk dengan semangat. Lalu mengedipkan sebelah matanya ke arah Yumna yang mengacungkan satu jempolnya pada sang adik.
"Daddy, Anzel ingin tidur bersama daddy. Boleh ya?" saat makan malam usai, Anzel merengek minta tidur dengan Naren membuat bunda Ai tak bisa memaksa cucunya. Karena Anzel memang keras kepala. Jika dia mau sesuatu harus dikabulkan. Jika tidak, maka dia akan ngambek dan mengurung dirinya di kamar.
Bunda Ai berlalu sembari mengusap bahu menantunya. Membiarkan cucunya itu bersama daddynya. Tentunya agar mereka berdua semakin dekat.
Mau tidak mau Naren mengangguk. Lalu menggandeng putri kecilnya ke kamar.
"Daddy, bacakan cerita untuk Anzel." pinta gadis cilik itu dengan penuh harap.
"Tentu. Daddy akan bacakan kisah tentang Malevicent untukmu. Selamat tidur putri daddy." Naren mengecup puncak kepala Anzel dengan penuh cinta. Lalu mulai membacakan kisah Malevicent yang dia baca dibuku dongeng pemberian bunda Ai.
*
*
*
Bersambung...
__ADS_1
Hai ges, kangen ngga nih sama mas Naren? Apa lebih kangen sama Anzel yang super manja? Oh ya ges, ada yang inget ngga siapa Sarsen itu? Hayooo, pasti pada lupa ya.
Jangan lupa like, koment dan fav ya ges. Maaciw.