Suara Hati Suami

Suara Hati Suami
Skenario


__ADS_3

Air mata perlahan menetes melewati pipi yang kini terdapat beberapa luka. Perih. Sesak. Itu semua yang kini Nara rasakan. Tak menyangka hidup yang sedang dia perbaiki berubah total.


Bahkan sekarang, Nara tidak bisa melakukan apapun. Tuhan telah mengendalikan skenarionya, bukan dirinya yang hanya seonggok makhluk lemah.


Penuruturan dokter beberapa saat yang lalu bagai tombak yang menghunus jantung hatinya. Sampai satu kata pun tak bisa keluar dari bibirnya yang pucat. Hanya air mata yang saat ini tengah bercerita apa yang dia rasa setelah tahu semuanya.


Narendra Fatin Fahrezi. Suami yang dulu pernah dia sakiti. Pria dengan sejuta kesabaran. Dan ayah yang selalu mencurahkan kasih sayang tanpa batas. Sekarang pria itu berada di titik dimana dirinya kembali pada saat sedang dalam kondisi sejatuh-jatuhnya. Kehilangan orang yang sangat dia cintai.


Kenangan yang dibangun setelah menikah pun tidak dia ingat sama sekali. Sakit. Nara merasa terasingkan dari orang yang sekarang begitu dicintainya setelah berbagai masalah mereka hadapi bersama.


"Mommy!!!" Panggilan itu sontak membuat Nara mendongak. Putrinya datang dengan seorang suster yang membantu mendorong kursi roda.


"Sayang!" Nara membentangkan tangannya. Sedih melihat kondisi putrinya yang terdapat banyak luka. Tidak seperti yang terakhir dia lihat.


Suster mendorong kursi roda mendekat ke ranjang. Lalu membantu Yumna duduk di atas ranjang pasien bersama Nara. Keduanya berpelukan. Tangisan haru terdengar menghiasi ruangan membuat dokter dan dua suster yang berada disana merasa hanyut dalam kesedihan.


"Daddy why mommy? Daddy said I wasn't his daughter!" gadis kecil itu mulai mengadu pada Nara apa yang dia dengar dan saksikan ketika berada di kamar dimana daddy-nya dirawat.


(Daddy kenapa mommy? Daddy bilang aku bukan putrinya)

__ADS_1


Nara mengelus rambut tebal Yumna. Menangkup wajah cantik yang selalu membuatnya ingat, bahwa wajah itu yang telah mengantarnya pada sebuah pernikahan. Bersanding dengan pria yang sekarang lupa dengan kisah yang mereka ukir bersama.


Amnesia Anterograde. Suatu kondisi dimana seseorang hanya mengingat peristiwa dimasa lalu. Itulah yang terjadi pada Naren sekarang. Yang diingatnya hanyalah saat dimana Shafira meninggal setelah melahirkan dan meninggalkannya seorang putri kecil. Setelahnya, dia tidak mengingat apapun. Bahkan Naren selalu menyangkal jika ada yang memberitahu tentang peristiwa sebelum kecelakaan itu terjadi.


"Not so dear. You just misheard." Nara berusaha memberi pengertian pada Yumna. Bahwa apa yang dikatakan daddy-nya itu tidaklah benar.


(Tidak begitu sayang. Kamu hanya Salah dengar)


Yumna menggeleng. "There's no way I'm wrong to hear mommy! Daddy's evil mommy! I don't like it! I don't like it! I don't..." Yumna yang mulai tumbuh dan mengerti tidak percaya begitu saja dengan ucapan Nara.


(Tidak mungkin aku Salah mendengar mommy! Daddy jahat mommy! Aku tidak suka! Aku tidak suka! Aku tidak...)


Dua suster yang melihat dan mendengar itu hanya mampu mengusap bulir bening yang jatuh dari pelupuk mata. Ujian anak kecil yang mereka lihat itu begitu besar.


How does it feel not to be considered a child? Pain? Angry? Hate? Or blame the situation?


(Bagaimana rasanya tidak dianggap anak? Sakit bukan? Atau justru menyalahkan keadaan?)


***

__ADS_1


"Silakan nyonya."


Sore harinya, suster membawa bayi perempuan ke dalam bangsal. Lalu memberikannya kepada Nara karena harus diberikan ASI.


"Mommy, is she my sister?" Yumna mengucek mata, menyesuaikan cahaya yang masuk ke retina mata. Tadi Yumna minta tidur bersama Nara dan tidak ingin pergi jauh dari mommy-nya itu setelah mengetahui jika daddy-nya tidak lagi ingat siapa dia. Gadis kecil itu kehilangan orang yang sangat berarti dalam hidupnya. Dan dia tidak ingin kehilangam lagi. Karena kehilangan itu sakit.


(Mommy, apakah dia adik ku?)


"Yes. She's your little sister." Nara mengangguk. Satu tangannya mengusap wajah Yumna dengan lembut. Sekarang dirinya punya dua anak. Harus bisa membagi kasih sayang sama rata. Tidak boleh ada yang merasa pilih kasih. Dia berjanji akan itu.


Namun siapa sangka jika niatnya itu tak sesuai dengan apa yang diniatkan? Bagaimana dengan Naren? Akankah niatnya itu akan didukung?


*


*


*


Bersambung...

__ADS_1


Maap seribu maap gaesss. Alhamdulillah bisa up lagi. Aku berharap kalian mau baca sampe tamat karena ngga lama lagi. Jangan lupa terus dukung ya gaess, karena itu Salah satu yg aku butuhin banget sekarang. Makasih semuaaa. Love buat kalian.


__ADS_2