Suara Hati Suami

Suara Hati Suami
Keluarga


__ADS_3

"Mommy, was I like that first?" pertanyaan Yumna membuat usapan lembut dikepalanya terhenti. Nara menangkap kesenduan dari bola mata coklat yang biasanya nampak berbinar itu.


{"Mommy, apakah aku seperti itu dulu?"}


Dengan sesak dan sakit yang datang bersamaan, Nara mencoba menghadirkan senyum untuk putrinya. "Certainly. All babies will drink like little sisters." Nara berusaha agar kesenduan itu tak lagi terlihat diwajah Yumna. Dengan memberinya paham, bahwa apa yang dia lihat sekarang, dia pun mengalaminya semasa kecil dulu.


{"Tentu. Semua bayi akan minum seperti adik perempuan kecil."}


Si gadis pintar itupun mengangguk dengan senyum terukir diwajahnya. Tangan berinfus itu mengusap pelan rambut tebal adik kecilnya yang tengah menyusu dengan sayang. Kemudian menciumnya selama beberapa kali.


Ketika Nara tengah menyaksikan kasih sayang seorang kakak terhadap adiknya, pintu bangsal terbuka. Saat itu pula dirinya dikejutkan dengan kedatangan keluarga yang tidak dia sangka akan datang.


"Nyonya Michel?"


Seorang perempuan berpakaian katun maroon selutut itu melangkah dengan senyum hangat yang selalu terpancar dari wajah cantiknya. Disusul oleh seorang pria yang tak lain adalah suaminya. Tak lupa laki-laki tampan seumuran dengan Yumna hadir juga disana.


"Jordan?!!" Saat melihat siapa yang datang, Yumna langsung memanggil teman bermainnya itu saat jarak kian mengikis.


Dua ibu itu berpelukan singkat. Saling memberikan kekuatan. Begitupula dengan dua anak kecil yang kini tertawa riang. Sejenak melupakan rasa sakit yang hadir tanpa diduga sebelumnya.


"If it weren't for Jordan, I wouldn't know if my neighbor had a disaster." wajah nyonya Michel berubah sendu. Seakan ikut merasakan kepedihan yang sedang Nara rasakan juga. Apalagi saat melihay bayi mungil yang berada didekapan Nara.


{"Jika bukan karena Jordan, aku tidak akan tahu jika tetanggaku mengalami musibah"}


Digenggamnya tangan putih mulus itu disertai seuatas senyuman. "Jordan is like my own son. He was so kind and sensitive to the surrounding envirinment." ungkap Nara pada nyonya Michel bahwa Jordan memanglah anak yang sangat baik. Mirip seperti ayahnya yang kini berdiri disamping nyonya Michel. Dia adalah Tuan Moga. Seorang pengusaha terkenal di Turki. Maka dari itu keluarganya sangat disegani.


{"Jordan sudah seperti putraku sendiri. Dia begitu baik dan peka terhadap lingkungan sekitarnya."}


"I'm grateful to have it." Kata nyonya Michel sembari tersenyum.


{"Aku bersyukur memilikinya."}


Tuan Moga merangkul istrinya. Sejuk hatinya saat nyonya Michel berkata bersyukur memiliki Jordan. Yang pada artinya, dia pun bersyukur memiliki tuan Moga.


"Where is your husband?" tanya tuan Moga.

__ADS_1


{"Dimana suami anda?"}


Mendengar pertanyaan itu sontak merubah raut wajah Nara. Namun, Nara berusaha untuk tetap tenang. "Is in a different ward." jawab Nara lirih.


{"Ada di bangsal yang berbeda."}


Tuan Moga mengangguk, "Can I see him?" pinta tuan Moga setelah mengetahui bahwa teman bisnisnya itu ada di bangsal yang berbeda.


Pada awalnya Nara ingin melarang, namun setelah dipikir kembali akhirnya dia membolehkan tuan Moga menjenguk Naren. Nara berharap bertemunya Naren dengan tuan Moga bisa mengembalikan ingatan Naren secara perlahan. Mengingat ucapan dokter, bahwa Naren akan mengingat hal yang sering dia pikirkan. Dan salah satunya adalah bisnis.


Setelahnya, tuan Moga pergi begitu tahu dimana bangsal yang ditempati Naren saat ini. Sebagai teman berbisnis, tidakkah mungkin dia tidak menjenguk temannya itu. Ini bukan tuan Moga, jika saya tidak menemui Naren yang dalam keadaan tertimpa musibah. Tuan Moga terkenal sangat baik hati, suka berbagi dan tidak pernah pandang bulu untuk bergaul dengan siapapun.


Tiba dimana tuan Moga di bangsal yang diberitahu oleh Nara. Segera dia membuka pintu bangsal dengan perlahan. Takut menganggu temannya itu, mungkin saja sedang istirahat. Begitu pikirnya.


"Hello friend. How are you now? Is it much better?" tanya tuan Moga ketika sampai di ranjang yang kini terdapat Naren yang tengah duduk sembari melamun.


{"Hallo, teman. Bagaimana keadaanmu sekarang? Apakah jauh lebih baik?"}


Naren yang mendapati kehadiran pria asing terusik dari lamunanya. Diamatinya pria yang menyapa itu. Yang mengatakan padanya bahwa dia adalah teman.


{"Siapa kamu? Apakah aku mengenalmu?"}


Tuan Moga mengerutkan dahinya. Apa kata teman bisninya itu? Siapa kamu? Apakah aku mengenalmu? Pertanyaan macam apa itu?


"I'm your business friend. Of course you know me right?" tuan Moga dengan antusias menjawab. Dia pikir, Naren sedang bercanda dengan pertanyaan yang terlontar barusan.


{"Aku teman bisnismu. Tentu kamu mengenalku bukan?"}


"Business friend?" gumam Naren. Dia memejamkan mata. Berusaha mengingat sesuatu yang terasa hilang dalam memorinya. Namun, bukannya ingat malah justru mendatangkan sakit dikepalanya.


"Sorry, I really don't remember." ungkap Naren ketika dia membuka mata. Sungguh, dia tidak mengingat apapun. Yang dia ingat hanya saat istri tercintanya itu meninggalkannya bersama putrinya untuk selamanya. Itu saja. Setelahnya, dia tidak mengingat apapun.


{"Maaf, aku benar-benar tidak ingat."}


Tuan Moga memicingkan mata mendengarnya. Sekali lagi dia mengingat kata-kata yang dilontarkan Naren padanya. Really don't remember?

__ADS_1


Apakah ini nyata?


Apakah istri dari temannya tahu, jika temannya ini kehilangan ingatan?


Tak berapa lama, seorang suster masuk. Suster meminta ijin memeriksa untuk Naren. Setelahnya, tuan Moga pamit. Dia kembali ke bangsal dimana istri dan anaknya berada.


Kemudian, tuan Moga pun menceritakan apa yang membuatnya terkejut pada dua wanita yang sedang bercerita itu.


Nara menghembuskan napas, air matanya tiba-tiba saja menggenang. Dengan sekuat tenaga, dia menjawab pertanyaan yang dilontarkan tuan Moga tentang ingatan Naren.


"I think with you meeting my husband, his memory will come back. But it's just a hope that God knows when will grant it the memory is still the same. He only remembers, where he was in a slump in his life. Even he doesn't remember me and Yumna." isakan pun terdengar. Nyonya Michel langsung memeluk Nara begitu cerita usai. Begitu berat ujian yang Nara lalui saat ini. Pastinya dia butuh seseorang agar terus bertahan.


{"Aku pikir dengan anda menemui suami saya, ingatannya akan kembali. Namun itu hanya sebuah harapan yang entah tuhan akan mengabulkannya kapan. ingatannya masih sama. Dia hanya ingat, dimana dia dalam keadaan terpuruk dihidupnya. bahkan dia tidak mengingat saya dan yumna."}


Ketika mengetahui yang sebenarnya, tuan Moga tak lagi dapat berkata-kata. Tidak seharusnya juga dia menanyakan itu. Bukannya membantu untuk sembuh, justru luka hebat yang dia toreh kembali.


"Calm. I am here. We are family." Nyonya Michel berusaha menguatkan Nara. Sebagai orang yang selalu nyonya Michel repotkan dengan Jordan yang dititipkannya, nyonya Michel merasa ini waktu yang tepat untuk membalas budi Nara.


{"Tenang. Ada aku disini. Kita keluarga."}


Bayi yang berada didekapan Nara pun ikut menangis dengan kencang. Seakan dia tahu isi hati ibunya yang sedang hancur.


*


*


*


Hallo semua. Alhamdulillah kita bisa ketemu setelah lama berpisah. Eaaa. Moga dibulan puasa kalian semua diberikan kelancaran, keberkahan dan kesehatan selalu. Amin.


Bersyukur banget masih ada yang baca cerita receh ini. Semoga selalu dikasih rejeki yang lancar dan berkah yaa. Amin.


Tanpa kalian semua, cerita receh ini ngga bakal ada artinya. Semoga UP kali ini bisa menghibur kalian yaaa.


Jangan lupa bantu vote, kasih hadiah dan like yaa. Makasih. Sampai ketemu dilain waktu. Byeee.

__ADS_1


__ADS_2