
Di rumah sakit.
“Alhamdulillah, Silvi udah ada perkembangan pemulihan,” Dokter itu berkata pada kedua orang tuanya Silvi, yang baru siap memeriksa keadaan Silvi.
“Alhamdulillah.”
“Sebentar lagi ada makanan tambahan untuk pasien, dihabiskan ya, dan diminum obat yang ini,” Dokter tersebut berkata lagi.
“Iya Dok,” Silvi menjawab dengan suara lemah tapi sudah lebih banyak senyum.
Dokter tersebut keluar dari ruangan Silvi.
“oya kak, kata wali kelas kakak, hari ini teman-teman kakak datang untuk menjenguk,” Abinya Silvi berkata pada Silvi.
“Kalau gitu bantu ambil jilbab Silvi mi, ummi lap bentar muka kakak pakai tissue basah mie, kakak udah 4 hari gak mandi-mandi Mi ya.” Silvi berkata pada umminya dengan tersenyum geli.
"Ga papa, tunggu sehat dulu baru mandi, sekarang lap-lap aja dulu."
Ummi membantu membersihkan Silvi dengan handuk kecil yang dikasih basah, karna air lebih menyegarkan menurut Umminya Silvi, Umminya mengelap dan menyisir rambut Silvi. Kemudian memoles sedikit bedak tabur, biar tidak terlalu pucat, dan memakaikan Jilbab yang terbagus yang di bawa dari rumah. Dan Silvi lanjut membaringkan badannya lagi. Karna dia masih harus banyak istirahat dulu, biar sehat total.
“Ingat anak-anak, jangan ribut, ini rumah sakit, bukan tempat wisata!” Bu Rosma memperingatkan muridnya di dalam bus, sesampainya di rumah sakit.
“Iya bu,”jawab mereka.
Bu Rosma berjalan di depan menuntun mereka, beliau menuju meja pendaftaran tamu.
“Suster, kami dari SMP kecamatan mau menjenguk pasien atas nama Silvi, di ruang berapa ya?” Bu Rosma bertanya pada petugas.
“Silvi ... Silvia labiqa raisya?” tanya suster itu.
“Iya betul sus,” jawab bu Rosma.
“Kamarnya ada di ruangan melati nomor 125, lorong lewat sana bu,” Suster tersebut menunjukkan lorong rawatnya Silvi.
“Makasih sus,”
“Masama bu.”
Mereka pun menyusuri lorong itu sambil melihat nomor kamar yang tertempel di setiap pintu. Akhirnya mereka menemukan kamar rawat Silvi.
“masuk sebagian dulu ya, udah itu keluar, ganti sama yang lain,” Bu Rosma memberi aba-aba.
“siap bu,”
__ADS_1
Mereka masuk sebagian seperti perintah bu Rosma, karna ruangan tidak bisa menampung mereka semua, Yasser memilih masuk belakangan. Yang masuk belakangan menunggu sambil duduk di kursi samping dinding lorong kamar pasien.
“Assalamu’alaikum,” bu Rosma memberikan salam.
“Wa’alaikum salam, masuk," Ummi dan Abinya Silvi mempersilahkan mereka masuk, mereka menyalami Silvi satu persatu sambil berkata “Cepat Sehat Kembali,” Dan menyerahkan Buah tangan dari hasil kumpul sedekah mereka.
“Amiinn, makasih udah mau jenguk,” Ucap Silvi.
Teman-temannya Silvi di jamu ala kadar sama orang tuanya Silvi. Setelah mereka minum mereka keluar memberi kesempatan yang lain untuk menjenguk Silvi.
Yasser memilih bersalaman paling akhir.
“Yasser, maaf kemarin itu aku gak sempat ngasih surat izin qe, ada dihukum?” Silvi bertanya pada Yasser.
“Nah buk kan, betulkan Yasser ada kasih surat izin, ibu gak mau percaya sama Yasser, pakek acara hukuman lagi,” Yasser protes pada wali kelasnya, mereka memang sering bercanda.
“Ya kan itu untuk antisipasi, mana tau ibu kamu bohong atau gak, kalau kamu bohong, ibu yang rugi, Tapi gapapa ikhlasin aja, itung-itung beramal dapat menyehatkan orang lain dengan menggunakan wc bersih,” jawab bu Rosma santai diikuti tertawa ringan murid-murid yang masih menikmati jamuan mereka.
“jadi udah dihukum ya?” Tanya Silvi lagi sama Yasser.
“Udah gak usah mikirin itu qe, cepat sehat aja, santai,” Yasser berkata dengan logat gaulnya, biar Silvi tidak merasa bersalah.
“Makasih ya,”
“Udah jenguk,”
“Oke, cepat sehat, kita mau ikut ujian,”
“Iya,” jawab Silvi dengan senyum bahagianya, dia seperti melupakan semua sakitnya.
Mungkin karna itulah Nabi menyuruh kita untuk menjenguk orang yang sakit, dengan kehadiran orang lain bisa membuat bahagia orang yang sedang sakit.
“Ya udah anak-anak, kita gak boleh lama-lama, nanti orang sakit gak sempat istirahat,” bu Rosma berkata pada mereka.
“Cepat kali pulang bu,” Silvi berkata dengan rasa berat hati ditinggal mereka.
“Iya Silvi, biar kamu bisa istirahat, cepat sehat, dan bisa sekolah lagi,” jawab Bu Rosma.
“Ya udah pak bu Silvi, kalau gitu kami pamit dulu, Assalamu’alaikum,” lanjut bu Rosma.
“Wa’alaikum salam, hati-hati semua ya,” ucap umminya Silvi.
Yasser tersenyum pada Silvi dan dia juga ikut keluar dari ruangan.
__ADS_1
(“Entah kenapa, rasanya aku ingin terus mengobrol dengan Yasser, seperti berat melihat dia keluar dari ruangan ini,”) Silvi berkata dalam hati.
(“Aduh, mikir apa sih aku,”) Silvi cepat menggeleng-gelengkan kepalanya.
“kenapa kak?” Abinya Silvi bertanya.
“Gak ada bi, Cuma ingin istiqfar aja.”
Silvi meraih tasbih yang ada di meja dekatnya, yang sering di pakai ummi ketika dirumah sakit. Lalu beristiqfar untuk menghilangkan kesepiannya.
... ...
“kita langsung pulang ke sekolah, lanjut belajar lagi.” Bu Rosma berkata pada siswa-siswinya.
“Aaa bu, jalan-jalan dulu lah bu.”
“Masih belum istirahat disekolah ini bu.”
“Gak bawa buku belajar bu.”
Protes pun bermunculan dari mereka.
“Gak ada, kita langsung ke sekolah,” Bu Rosma pada pendiriannya.
“Jalan-jalan lah sebentar bu, sebentar aja, mutar-mutar juga boleh,” Doni pun tak luput suaranya dari protes.
“Emangnya kamu gak pernah naik bus Doni?” bu Rosma mengejek Doni.
“Gak bu, baru kali ini Doni bisa naik bus, dulu-dulu Doni terbiasa naik Ferrari bu,” Jawab Doni dengan gaya sok kaya, ditambah bibir di monyong-monyongin demi merayu wali kelasnya.
“Kamu ya, paling bisa ...” bu Rosma tidak melanjutkan lagi kata-katanya.
“Ya udah, kita putar ke laut aja, duduk sebentar, gak ada yang boleh mandi.” Lanjut bu Rosma.
“Okke ibu cantik dan baik hati,” Doni menjawab dengan semangat, teman-temannya hanya ikut tertawa melihat Doni dan wali kelasnya bercanda.
“Kamu kalau ada maunya aja muji,” kata bu Rosma dengan mata disiniskannya.
Doni senyum cengengesan.
Mereka sampai di laut, Semua murid turun dari dalam bus, mereka tak luput mem foto-foto menggunakan ponsel. Dari berfoto sendiri, ber dua dan satu lokal, kapan lagi mereka bisa jalan-jalan ke laut satu lokal pakai seragam, itu momen langka mereka.
__ADS_1