
Silvi tidak bisa berkata apa-apa lagi, ada perasaan bersalah yang terlalu dalam menyergap di hatinya, tapi dia gak bisa berbuat lebih, menolak Kak Tristan terang-terangan lebih tak berdaya bagi Silvi.
Silvi larut dalam pikirannya sambil mengaduk minuman di depannya, hati dan pikirannya kacau.
(“Bagaimana aku bisa membohongi orang sebaik Kak Tristan, aku berbohong dengan pura-pura pingsan di acara dia, sekarang aku berbohong kalau aku sedang fokus sama cita-cita ku, maafin aku Kak Tristan, aku benar-benar minta maaf, semoga Kak Tristan bisa menumbuhkan cinta untuk gadis yang lebih baik dari aku,”) Silvi berkata dalam hati.
Suasana di antara mereka berdua menjadi hening, Kak Tristan pun sibuk dengan minumannya dan pikirannya sendiri.
(“Andai kamu tau, rasa cinta ku pada mu melebihi rasa cintaku pada diriku, andai kamu tau, kamu adalah perempuan yang pertama yang membuat aku jatuh cinta dengan tatapan indah matamu, dengan manis senyum mu, penolakan ini tidak membuat aku ingin menyerah begitu saja, aku ingin kamu utuh jadi milikku, halal untuk menyentuhmu, aku akan berusaha sekuat tenagaku untuk bisa mendapatkan hatimu,”) gumam Kak Tristan.
“Vi, kalau Kakak minta sesuatu boleh?” tanya Kak Tristan.
“Boleh-boleh aja Kak, mau minta apa?”
“Kakak Cuma minta, Silvi tunggu kakak untuk melamar Silvi kalau udah tamat kuliah ya,” ucap Kak Tristan
Deg! ...
Hati Silvi bagaikan dihantam keras dengan batu, dia baru sadar, kalau kata-kata dia malah memberikan harapan untuk Kak Tristan, bukan mengakhiri perasaan Kak Tristan.
__ADS_1
(“Apa Kak Tristan benar-benar berharap ya?”) Silvi bertanya pada diri sendiri yang mulai gelisah.
“Gimana?” tanya Kak Tristan lagi.
“I ... i... Iya kak,” jawab Silvi gugup.
“Kakak akan menunggu kapan Silvi siap nerima Kakak sebagai pendamping Silvi, karna Kakaksangat yakin, Silvi perempuan baik-baik yang bisa jadi ibu terbaik untuk anak-anak kita kelak,” ucap kak Tristan.
Wajah Silvi merah merona mendapatkan pujian selembut itu dari Kak Tristan.
"Makasih Kak, untuk pujiannya." tersenyum dengan menunduk sambil mengaduk minumannya.
Setelah mengobrol banyak dengan kak Tristan, Silvi pun pamit pulang.
Sedangkan Kak Tristan ada janji ketemu sama kawannya yang lain di tempat itu.
Tanpa Silvi ketahui, ternyata Ridwan, temannya Kak Tristan mengupload video momen Kak Tristan menembak Silvi di acara perpisahan, dengan menandai Facebook Silvi.
Yasser telah melihat postingan itu, tapi dia memilih untuk diam, karna dilihatnya media sosial Silvi aktif 3 jam yang lalu.
__ADS_1
Silvi membuka sosmed, dan dia kaget, kejadian 2 tahun yang lalu pun terulang kembali, tapi kali ini tokoh nya Kak Tristan. Tak ada yang Silvi khawatirkan selain perasaan Yasser, lagi-lagi Yasser hanya memberi emot love untuk postingan itu.
Silvi memberanikan diri menelpon Yasser duluan, padahal selama mereka berpacaran, mereka tidak pernah telfonan, hanya sebatas chatan biasa.
Tuttt ... Tuttt ... Tuttt
Silvi menelepon Yasser. Yasser pun mengangkatnya.
“Ha ... Halo, Yasser ...,” ucap Silvi dengan gugup.
“Assalamu’alaikum,” Yasser memberi salam dan mengabaikan sapaan Silvi yang bukan salam.
“Wa’alaikum salam wr wb,” jawab Silvi dengan mencoba menenangkan perasaannya.
Mereka sama-sama terdiam beberapa menit. Tanpa ada yang melanjutkan obrolan.
Kemudian Silvi memberanikan diri berbicara lagi.
“Aku minta Maaf,” ucap Silvi.
__ADS_1