
“Mau kemana tuh si Tristan?” tanya Haikal pada Ridwan.
“Mana tau gua, gua kan datang bareng loe,” jawab Ridwan.
“Ya udah, masuk yok,” ucap Haikal.
Mereka melangkah pergi menuju mading, dan melihat kertas berhamburan di halaman sekolah.
Mereka mengambilnya, dan kaget dengan tulisan di kertas tersebut.
“Gara-gara ini tadi, makanya Tristan buru-buru keluar, yok kita nyusul dia,” ajak Haikal.
Ridwan mencegat Haikal.
“Mau kemana?, kita liat pengumuman dulu, kita lulus atau tidak,” Ridwan menyadarkan Haikal.
“Ohh iya, hampir lupa gua,”
Mereka berdua langsung menuju mading dan melihat nama mereka berdua lulus.
“Coba cari nama Tristan lulus tidak?” ucap Ridwan pada Haikal.
Mereka mencari nama Tristan, dan lulus. Mereka berdua langsung meninggalkan sekolah dan mengejar Tristan dengan mobil.
“Kita mau kejar Tristan kemana?, kita gak tau dia pergi kemana,” tanya Haikal.
“Makanya, ini otak di pakek, jangan Cuma di pakek untuk game!” jawab Ridwan sambil menower kepala Haikal.
“Coba lacak ponsel Tristan sedang dimana?” ucap Ridwan lagi.
“Benar juga ya, kenapa gua gak kepikiran dari tadi,” jawab Haikal yang mulai melakukan pelacakan ponsel Tristan.
“Wah gawat, dari arah-arahnya ini menuju rumah Silvi!” ucap Haikal panik.
“Jadi gimana?, kita nyusul aja kesana ya, loe tau sendiri kalau Tristan lagi marah, bisa-bisa hilang kendali dia,” jawab Ridwan.
“Iya, cepat kita nyusul aja!”
Dengan secepat kilat mobil mereka meluncur menyusul Tristan, mereka tidak tau pasti keinginan Tristan menuju ke rumah Silvi, tapi mereka menduga ini ada kaitannya dengan isi kertas di sekolah tadi, karna tadi Tristan keluar dari sekolah dengan keadaan marah.
Tristan dengan cepat melajukan mobilnya.
“Kurang ajar, wanita munafik, bilangnya mau fokus belajar, gak taunya dia nolak gua karna laki lain!” pekik Kak Tristan sambil memukul setir mobilnya dengan tangan menggepal.
Tristan sampai di rumah Silvi.
__ADS_1
“Silvi, keluar kau, Silvi!” panggil Tristan dengan kasar sambil mengetuk pintu rumah Silvi.
Untungnya tidak ada orang lain dirumah selain Silvi.
Silvi keluar membuka pintu.
“Lho Kak Tristan, kok gak bilang-bilang mau datang?” Silvi menyambut kedatangan Tristan dengan ramah.
Dengan cepat Tristan menarik lengan Silvi menuju halaman rumah dengan kasar.
“Aduh Kak, pelan-pelan aja jalannya,” Silvi berusaha melepaskan tangan Tristan karna hampir terjatuh.
“Dasar kau cewek munafik!” umpat Tristan dengan mata melotot pada Silvi. Muka Tristan memerah menahan emosi.
“Maksud Kakak apa?” tanya Silvi kaget mendengar umpatan itu keluar dari mulut Tristan untuk dia.
“Kau tolak aku bukan karna kau mau fokus sekolah kan!, tapi karna kau udah punya cowok!”
“Kakak tau dari mana?”
“Udah, jujur aja, dan setelah kau kasih harapan untuk aku, kau permaluin aku dengan nyebarin berita kalau kau tolak aku kan!”
“Gak kak, Silvi gak pernah bilang sama siapa-siapa,”
Silvi mengambil brosur itu, dan tercengang melihat isinya.
“Sumpah Kak, Silvi gak tau apa-apa tentang brosur ini,”
Tristan merampas kasar brosur itu, meremasnya dan melempar ke wajah Silvi.
“Munafik kau, kau pikir aku bisa percaya gitu aja sama kau, setelah semua yang kau lakuin sama aku!” Tristan mencengkeram kuat lengan Silvi sampai-sampai Silvi mengaduh kesakitan.
“Nyesal aku pernah berpikir kau cewek yang baik!”
“Kak ... Sakit,” Silvi mengiba pada Tristan sambil mencoba membuka cengkeraman Tristan, tapi nihil.
“Tristan udah udah cukup, tenangin diri kamu, kita pulang ya,” Ucap Haikal yang datang tepat waktu sama Ridwan.
Tristan melepas kasar lengan Silvi.
“Aku minta maaf,” ucap Silvi dengan mulai meneteskan air mata.
“Gak usah sok baik kau minta maaf, kau itu licik dan munafik!” amarah Tristan kembali memuncak mendengar suara Silvi.
“Tristan ... Tristan, udah ... Udah, kita pulang aja sekarang,” Ridwan mencoba menarik Tristan menjauhi Silvi.
__ADS_1
“Pulang dulu Vi ya,” ucap Haikal pada Silvi yang disertai anggukan kecil dari Silvi.
Ridwan menarik Tristan masuk ke mobil, dan memilih menyetir mobil olehnya, karna Tristan masih dalam keadaan marah.
Mereka berdua pergi ninggalin rumah Silvi, dan membawa Tristan ke tempat yang biasa mereka nongkrong.
“Kita duduk disini dulu, sampai emosi kamu benar-benar reda,” ucap Ridwan.
“Mbak teh manis dingin satu,” pesan Haikal pada pelayan cafe.
“Ini Dek,” ucap pelayan itu membawa satu gelas teh dingin.
Tristan meminum teh itu dalam sekali minum sampai habis.
“Kurang ajar si Silvi itu, betul-betul cewek munafik!” Tristan masih terus mengumpat.
“Sabar Tristan, tenangin diri loe dulu,” ucap Ridwan.
“Loe tau Tris siapa yang nyebarin itu brosur?” tanya Haikal.
“Gak tau gua, tiba-tiba aja ada yang nuangin dari atas kepala gua pas gua baru sampai!”
“Berarti loe gak bisa nuduh Silvi juga dong, kalau ini semua ada campur tangan sama Silvi.” Ucap Ridwan.
“Gak usah loe bela dia!, jelas-jelas ada hubungannya sama dia, kalau tidak, dari mana mereka tau kalau dia nolak aku karna dia udah punya pacar!” jawab Tristan dengan tangan menggepal.
“Jadi Silvi tolak cinta loe Tristan?” tanya Haikal dengan ekspresi wajah kaget.
“Udah deh, kenapa?, kamu mau ngejek aku juga?” Tristan menjawab pertanyaan Haikal dengan ketus. Haikal menjadi salah tingkah.
“Ya bukan gitu, aku Cuma heran, kok bisa Silvi si cewek kutu buku itu tolak cinta raja sekolah kita cuma karna cowok lain, emang se keren apa sih cowok dia?” jawab Haikal.
“Ya kalau udah ada cowok, kalaupun tidak keren, ya harus di tolak cowok lain, berarti dia cewek yang setia,” jawab Ridwan membela Silvi.
“Loe masih saja ngebelain dia, kenapa loe kekeh banget ngebelain dia?, Loe suka sama dia?” hardik Tristan.
“Ya gak gitu juga Tris, gua Cuma pengen loe itu berpikir jernih, loe tenangin diri loe dulu, jangan gegabah, yang pertama ini kesalahan kita, karna kita gak cari tau dulu Silvi udah punya pacar atau belum sebelum ngerencanain aksi loe untuk nembak dia, kedua, kita juga belum tau pasti siapa dalang dibalik ini semua,” jawab Ridwan.
Tristan hanya diam, bagaimana pun juga dia membenarkan ucapan Tristan, dia belum tahu pasti siapa yang sudah ngerencanain itu semua.
“Eh Ridwan, loe marentu upload video gua nembak cewek munafik itu kan, cepatan loe hapus, malas gua liat muka dia!” ucap Tristan pada Ridwan.
Ridwan membuka ponselnya dan menyentuh aplikasi Facebook, dia membuka postingan itu, dan menghapusnya, padahal postingan itu sudah di sukai hampir seribu orang.
“Udah ini,” ucap Ridwan.
__ADS_1