
Video yang di upload Ridwan hanya menampilkan Kak Tristan menembak Silvi, tapi tidak menampilkan Silvi pingsan, Silvi belum memberi jawaban ya atau tidak di video itu, yang sebenarnya membuat Yasser galau ingin mengetahui apa jawaban Silvi.
“Kenapa minta maaf?” Yasser balik bertanya seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Karna bingung harus jawab bagaimana, Silvi menjawab asal-asalan.
“Karna ... karna berkaitan dengan postingan di facebook yang kamu kasih emot love,” jawab Silvi gugup.
Mendengar jawaban Silvi, ada angin panas menyeruak masuk ke dalam degupan hati Yasser, dan melelehkan bulir bulir kecemburuan.
Cemburu?, iya!, Yasser sebenarnya sangat cemburu dengan video itu, Kak Tristan cowok yang mengungkapkan cintanya untuk Silvi sangat perfecf, selain ganteng, dia juga pandai bernyanyi, beda jauh dengan Yasser, yang merasa dirinya hanya anak desa dan tidak mempunyai keahlian di bidang musik.
Dalam hati Yasser, dia sangat ingin tahu, apa jawaban yang diberikan Silvi untuk Kak Tristan, tapi Yasser tidak ingin terlihat memaksa Silvi untuk mengatakannya, Yasser sabar menunggu, biar Silvi sendiri yang akan menjelaskan itu semua pada dia.
“Iya, terus?” jawab Yasser singkat.
“Terus apa?, jangan gitu, jangan cuek kek gitu, aku gak mau kita salah paham dan bertengkar,” ucap Silvi dengan suara berat menahan kegelisahan hatinya.
“Terus jawabannya gimana?” akhirnya Yasser memberanikan diri untuk bertanya juga.
“Jawaban apa? Jawaban untuk Kak Tristan?, kalau jawaban itu Aku tidak menerima Kak Tristan, karna aku udah mencintai orang lain,” Silvi mencoba jawab pertanyaan Yasser yang kurang jelas dengan sebaik mungkin.
__ADS_1
Yasser tersenyum bahagia, perasaannya seperti sedang menerima percikan cinta yang sangat dingin.
“Kamu tidak menyesal?” Yasser bertanya lagi masih dengan nada cuek, padahal sebenarnya Yasser sangat ingin mendengar Silvi memberikan jawaban seperti yang dia harapkan.
“Tidak, aku tidak menyesal, karna aku tidak bisa sia-siain perasaan orang yang aku sayang,” jawab Silvi meyakinkan Yasser.
Lagi-lagi, Yasser di buat tersenyum bahagia oleh Silvi, jawaban Silvi menghadangkan hembusan panas pantulan kecemburuan, bulir-bulir kecemburuan itu seketika tenang di relung hatinya. Kini hati Yasser lebih berdamai dengan manis tutur jawaban pujaannya.
“Aku tidak menjawab perasaan Kak Tristan di video itu, karna aku tidak mau buat Kak Tristan malu di depan umum, tapi aku udah kasih jawaban juga tadi kalau aku gak bisa terima Kak Tristan,” Silvi menjelaskannya lagi pada Yasser.
“Aku gak bisa liat kamu sedang apa dan sedang bersama siapa disana, tapi Aku hanya berharap, semoga penantian aku tidak sia-sia,” ucap Yasser.
“Insyaallah akan seperti yang kita harapkan,” jawab Silvi meyakinkan Yasser.
Mereka mengakhiri obrolan mereka, karna Tristan harus mengantar mamanya untuk mengambil cucian pelanggan Mamanya.
“Ya sudah kalau gitu, aku mau ngantar Mama dulu ya,” ucap Yasser.
“Iya, hati-hati ya,” jawab Silvi dengan lembut.
“Makasih,”
__ADS_1
“Untuk apa?”
“Untuk perhatiannya!” jawab Yasser.
“Senang?”
“Sangat!”
“Jadi kapan mau antar Mamanya?” tanya Silvi bercanda.
“Hahaha ... Sekarang!” jawab Yasser sambil tertawa.
“Ya udah, Assalamu’alaikum,”
“Wa’alaikum salam,”
Mereka mengakhiri telponan mereka dengan senyum mengembang di wajah mereka masing-masing.
*** ***
Di tempat lain.
__ADS_1
Bagas, teman sekolah Silvi dan Kak Tristan sedang serius mengetik sesuatu di laptopnya.
Setengah hari lebih dia mendesain tulisannya itu, akhirnya selesai.