Surat Izin Berjodoh

Surat Izin Berjodoh
Bab 14 : Lukman


__ADS_3

Keesokan harinya, mereka sekolah seperti biasanya.


Biru Yasser di keningnya masih terlihat jelas.


“kenapa kening qe sir?, kejedot?” Lukman, ketua kelas bertanya pada Yasser.


“Bukan man, gua di smackdown sama cewek kemaren,” Yasser menjawab dengan suara agak keras, karna di sana ada Silvi.


“Emangnya kenapa sampe di smackdown?” Lukman bertanya lagi sambil tertawa.


“Cewek aneh, dia gak bisa bercanda, aku bercanda sama dia, tapi malah balas becandanya dengan memukul buku ke kepala ku,” jawab Yasser.


“Oo jadi itu lukisan tangan Silvi kemarin Yasser ya?” Julia teman kelasnya mereka ikut bertanya.


“Silvi?” Tanya Lukman yang menunjukkan guratan kerutan wajah rasa tak suka.


“Iya, kemarin waktu pulang les Yasser di gebukin pakek buku sama Silvi, jail sih sama Silvi.” Jawab Julia lagi.


“Udah bahas yang lain aja.” Yasser memotong pembicaraan karna sudah ketauan maksud percakapan yang dia tuju.


Mungkin julia sempat liat waktu Silvi memukul Yasser, karna masih ada beberapa orang disana yang belum pulang, mereka tidak terlalu menggubris, karna udah hal biasa sesama teman kadang saling bercanda, walaupun kadang bercandanya lewat batas.


Silvi mendengar semua percakapan mereka, dan merasa gak enak hati pada Yasser, dia berdiri dari tempat duduknya ingin menghampiri Yasser.


“Yass ...”


“Silvi !!” Lukman tiba-tiba menghentikan Silvi yang ingin berbicara pada Yasser, dia menghampiri Silvi dengan cepat.


“Iya man, ada apa?” Silvi memutar badan dan mengobrol dengan Lukman.


Lukman melangkah menjauhi Yasser, diikuti langkah kaki Silvi yang mengikuti Lukman karna di ajak mengobrol.


Yasser melihat kejanggalan sikapnya Lukman yang mencoba menghalangi Silvi berbicara dengannya. Tapi dia membiarkannya, lagi pula Silvi sekretaris di dalam kelas, mungkin ada hal yang mau mereka bicarakan. Pikir Yasser.


“Silvi, aku mau ngajak qe nanti ke perpustakaan yang ada di kecamatan sebelah, qe bisa?” Lukman bertanya.


“Aku sih mau kalau ke perpus, tapi naik apa kesitu?, aku belum tau perpus itu dimana,”


“Perpusnya ada di dekat taman disamping lapangan bola basket, kalau gak tau mau pergi naik apa, bareng aku juga bisa, aku bawa motor,”


“Jangan!, nanti aku coba cari angkutan ataupun becak yang ada menuju ke sana, jam berapa kita pergi?” Silvi bertanya.


“Nanti pulang sekolah aja, karna hari ini kita libur les kan?”


“Iya boleh, teman yang lain gak di ajak?”


“Oo ada,”


“Oke brarti nanti pulang sekolah kita kesana, kalau gak jadi kabarin ya,”


“Siap bu sekretaris,” jawab Lukman dengan tangan menghormat dikepalanya untuk Silvi. Silvi tersenyum, dan kembali duduk di kursinya.


Pak Ridwan pun masuk memberikan pelajaran TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi).


Istirahat tiba.


“Silvi, vera, ke kantin yok,” Lukman mengajak mereka ke kantin.

__ADS_1


“Eh man, duluan aja, aku ada perlu sebentar,” jawab Silvi.


“Udah yok, aku traktir kalian berdua,”


“Udah vi, yok mumpung ada yang traktir, kapan lagi coba ada yang traktir kek gini,” Vera teman sebangkunya Silvi pun menarik tangan Silvi meninggalkan kelas.


Padahal Silvi ingin minta maaf pada Yasser.


Dikantin, mereka makan rame-rame satu meja, Yasser yang merasa janggal dengan perlakuan Lukman memilih tak ikut gabung dalam kelompok mereka.


Silvi dan teman-temannya mengobrol banyak. Dari hal serius tentang persiapan UN, sampai hal-hal lucu menurut mereka.


Silvi lupa pada tujuan nya untuk meminta maaf pada Yasser, akhirnya bel masuk belajar dan bel pulang sekolah pun berlalu, dia masih tak punya waktu untuk sekedar mengucap kata maaf.


Sorenya dia naik becak menuju perpustakaan yang di maksud Lukman.


Sesampainya disana, sudah ada beberapa teman mereka laki-laki dan perempuan. Termasuk Lukman.


“Hai,” Lukman menghampiri Silvi yang baru sampai.


“Hai man, dimana perpusnya?”


“Ada disitu, yuk masuk,” mereka berjalan beriringan.


“Luas juga perpus ini man ya, serasa pengen ku sulap biar berdiri di samping rumahku, biar nginap di dalam perpustakaan ini aku,” Silvi membuat lelucon karna bahagia melihat buku sebanyak itu di depan matanya.


“Emang bisa?” Tanya Lukman mengejeknya.


“Bisa nanti dalam mimpi,”


Lukman tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar jawaban Silvi.


Silvi mengikuti langkah Lukman, dia melihat-lihat rak buku itu dan melewati rak susunan novel.


Dia berhenti dan melihat judul novel itu satu persatu-satu.


“Nah, ini rak buku UN,” Lukman berkata sambil membalik kan badannya pada Silvi.


“Lho Silvi, laa kok malah nyangkut di sana,”


Lukman menghampiri Silvi.


“Man man, qe tengok buku-buku novel ini bagus-bagus semua,” Silvi menunjukkan novel-novel Penulis terkenal dengan girang.


“Silvi ... kita sebulan lagi udah mau UN, kita gak ada waktu untuk membaca novel,” Lukman berbicara pelan menekan suaranya untuk menyadarkan Silvi dari kegirangan mendapatkan novel.


Silvi merengut kecewa, dia meletakkan kembali novel-novel itu dengan berat hati, dan menuju ke rak buku UN.


Dia memilih 3 buku, dan melaporkan kepada penjaga perpustakaan untuk buku yang di pinjamnya untuk dibaca di taman.


Lukman mengambil 2 buku, mereka ber 2 berjalan ke arah teman-temannya yang lain berkumpul.


“Silvi mau minum apa?” Lukman bertanya kepada Silvi.


“Ga usah, aku udah beli air putih tadi di jalan.”


Silvi dan Lukman bergabung dengan teman mereka.

__ADS_1


Mereka hanya membahas masalah pelajaran. Dan sedikit lelucon untuk mencairkan suasana belajar.


Satu jam lebih sudah mereka disana, Lukman pergi ke kantin perpustakaan untuk membeli minum.


Dia kembali dengan 2 gelas jus mangga di tangan nya.


“Wow, sanggup dihabiskan itu bos?” tanya arya pada Lukman. Mungkin panggilan bos ditujukan karna Lukman ketua kelas di sekolah.


Lukman tersenyum, dan berjalan ke arah Silvi, menyerahkan satu gelas jus itu untuk Silvi. Silvi menerimanya.


Tanpa mereka tau, Syukran mengambil foto mereka yang sedang memegang gelas yang sama.


“Aku gak terlalu suka jus Lukman,” Silvi berkata pada Lukman.


“Kalau gitu untuk aku aja,” Eva berkata pada Silvi.


“Nanti aku yang bayarin sendiri man ya !” Eva berkata pada Lukman.


“Gak usah, udah aku bayar.”


“Oke, makasih banyak,” jawab Eva sambil menyedot jus itu dengan lahap.


Jam 5 sore mereka semua pulang, Silvi di jemput ayahnya, karna se arah dengan jalan pulang ayahnya dari kantor. Lukman dan teman yang lain pulang dengan motornya, ada juga yang naik ojek.


Malam pun tiba.


Dia mengambil ponselnya, dan menulis.


“Maaf,”


terkirim untuk Yasser, masih centang 1, beberapa menit kemudian, centang 2, dan membiru.


Ting ...


Notif wa masuk dari Yasser.


“Untuk apa?”


“Untuk bekas smackdownnya,”


“Oo santai aja 😊,” Yasser membalas dengan emoticon smile pipi merona.


“Masih sakit?”


“Gak sakit, Cuma gak tau kenapa ada bekasnya.”


“Masak berbekas tapi gak sakit?”


“Belum masak, masih mentah,” canda Yasser agar Silvi tidak terlalu merasa bersalah.


Silvi tidak membalas lagi, dia merasa garing dengan lelucon Yasser disaat dia lagi berbicara hal serius.


... ...


Yasser membuka fb.


“Yang sedang merasakan dunia milik berdua.”

__ADS_1


Caption sebuah foto yang isi fotonya Lukman dan Silvi sedang memegang gelas yang sama. Status yang di unggah oleh fb miliknya Syukran teman kelas mereka.


__ADS_2