Surat Izin Berjodoh

Surat Izin Berjodoh
Bab 20 : Permintaan tantenya Silvi


__ADS_3

... ...


“Selamat ya untuk yang dibebaskan dari ikut tes masuk SMA,” Syukran mengirim pesan dalam grup wa.


“Iya, Selamat ya untuk Silvi dan Nufus, dan untuk Sanah juga tolong di sampaikan ya, karna dia gak ada dalam grup ini.” Balas Doni.


“Iya, terima kasih 🤗,” balas Silvi.


“Makasih 😊,” Nufus juga membalasnya.


Ucapan selamat mengalir banyak untuk Silvi dan Nufus di dalam grup, mereka membalasnya satu persatu.


“Kapan di buka pendaftaran di SMA 1 Meraksa?, ada yang tau?” dari Arya.


“Kata kakak aku tanggal 5 dibuka,” balas Julia.


“Berarti nanti kita bareng-bareng aja ke sana untuk beli formulirnya ya,” balas Arya lagi.


“Barengnya sama siapa ini? Sama Julia?, kalau sama Julia di japri (jalur pribadi) aja, jangan jadikan kami sebagai nyamuk,” balas Doni.


“😡 sama orang-orang di grup ini yang lanjut ke SMA 1 Meraksa,” balas Arya dengan emot marah.


“Oo ... Aku gak mau, malas aku tengok muka-muka qe aja, BOSAN!,” balas Doni dengan mengcaps lock tulisan bosan.


“Hahaha ...” balas Syukran.


“Oo taek lah 🤐!” Arya membalas pesan Doni.


Obrolan mereka berlanjut panjang lebar di dalam grup.


“Emang di SMA 1 Meraksa, berapa lokal untuk masing-masing kelas?” tanya Arya lagi.


“Kata kakak Aku 9 lokal, satu lokal untuk kelas inti. Murid dalam satu lokal 40 orang,” jawab Julia lagi.


“Emangnya kakak qe disitu ngapain Julia?, kok tau banyak?” balas Doni.


“Alumni disana, tahun ini lulus,” balas Julia.


... ...


Ditempat yang berbeda.


“Abi, beliin Silvi motor,” Silvi berkata pada Abinya yang sedang nonton tv dengan Ummi dan Ghiffari.


“Untuk apa?” tanya Abinya serius.


“Ya untuk sekolah lah bi, biar gak di antar Abi terus, kan Silvi dah besar,” jawab Silvi.


“Tapi kakak kan gak bisa bawa motor,”


“Belum bisa bi, bukan gak bisa,” Silvi membenarkan kalimat yang di ucapkan Abinya.


“Iya iya, belum bisa,” Abinya membenarkan.


“Ya Abi ajarin lah, kalau bukan Abi yang ajarin siapa lagi, Ummi?” Silvi bertanya pada Abinya, karna gak mungkin Umminya Silvi ngajarin dia naik motor. Umminya Silvi tidak pernah memakai celana.


“Ya udah, berarti kita belajar naik motor dulu lah, kalau kakak bisa baru Abi beliin, kalau gak bisa untuk apa beli,” jawab Abinya Silvi sambil bercanda.


“Iya, kapan Abi libur sehari untuk ajarin Silvi, harus ada waktu Bi ee,” Silvi memaksa Abinya.


“Ehh... dia yang perlu, masak Abi yang harus libur,” Abi Silvi menggodanya.


“Man, Abi selalu sibuk, hari minggu gak kerja, tetap sibuk sama laptop,” jawab Silvi dengan jutek.


“Haha ... iya iya Abi minta maaf, kan untuk kakak juga Abi kerja, biar bisa beliin Silvi motor,” Abinya Silvi masih menggodanya.

__ADS_1


Silvi yang tadinya jutek jadi ikut tersenyum.


“Coba tanya sama Ummi, boleh gak pinjam hondanya untuk balap cross?”


“Kok balap cross?” Silvi bertanya.


“Biasanya orang yang baru belajar sering balap cross kak, balapnya kadang-kadang ke parit jalan,” Abi menjawab sambil tertawa.


“Gak ada kek gitu, kawan kakak si Vera dari kelas 2 udah bisa bawa motor, gak ada dia balap cross,” Silvi membantah asumsi Abinya.


“Haha ... Ya udah tanya sama Ummi boleh gak?”


“Boleh Mi ya?” Silvi memohon.


“Iya boleh,” jawab Umminya.


“Yee boleh tu Bi, tinggal Abinya kapan punya waktu?”


“Ya udah, lusa Abi ajarin, abi minta izin dulu, kalau hari minggu banyak orang main di lapangan, jadi senin aja nanti kita belajar,”


“Makasih bi.”


... ...


“Yok kak cepat, kita kelapangan terus, mumpung masih pagi, nanti udah panas,” Abi memanggil Silvi.


“Iya bi,” Silvi keluar dengan pakaian olahraga, lengkap dengan pelindung lutut, siku dan helm.


“Wow, udah siapin pelindung aja ni, tapi tetap jangan balap nanti ya, Abi gak ada pelindung,” Abi nya Silvi bercanda.


Silvi tidak menjawab pembicaraan Abinya, dia tau Abinya sedang mengejek dia.


Silvi dan Abinya berboncengan menuju lapangan. Disana masih sepi.


Abinya Silvi menstandar tengah motor matik mereka. Dan menghidupkan motornya.


Silvi mengikuti arahan Abinya.


“Sekarang kita mulai jalan, tangan kanan rem depan, tangan kiri rem belakang, di gas pelan-pelan, kayak mendayung sepeda juga,”


“Bismillah, ayo mulai jalan.” Abinya Silvi berkata sambil duduk di belakang Silvi.


Silvi melajukan motor sesuai instruksi Abinya, latihan berjalan lancar. Hanya beberapa kali putaran Silvi sudah bisa menguasainya.


“Udah bisa kan, yok kita pulang,” ajak Abinya.


“Silvi yang bawa bi ya.”


“Boleh, tapi harus hati-hati dan pelan, fokus ke jalan, jangan fokus yang lain dulu.”


“Oke siap.”


Mereka pulang lewat jalan sepi, Silvi melajukan motor membonceng Abinya. Dan mereka pun sampai ke rumah tanpa kendala.


“Gimana belajar naik motor nya?” Umminya bertanya pada Abi.


“Sukses dong Mi, berarti jadi di beliin motor baru sama Abi,” jawab Silvi bersemangat.


Ummi dan Abinya pun tertawa bersama.


... ...


Tanggal 5.


Silvi di jemput Vera untuk pergi membelikan Formulir pendaftaran.

__ADS_1


Silvi menunjukkan undangan yang diberikan kepala sekolah kepada panitia pendaftaran.


“Ini yang rangking satu di SMP 1 Meraksa ya?”


“Iya pak,”


“Berarti kamu Cuma datang sekali lagi untuk kembaliin formulir ini, trus nanti kami infokan kapan mulai masuk sekolah, kamu langsung masuk sekolah seperti biasa, tidak usah ikut tes,” pak guru tersebut menjelaskannya.


“Iya pak, makasih banyak,” jawab Silvi.


Setelah mereka berdua membeli formulir, Silvi dan Vera kembali kerumah.


... ...


Ponsel Umminya Silvi berbunyi. Panggilan dari adik kandungnya.


“Halo Assalamu’alaikum,” ucap Umminya Silvi.


“Wa’alaikum salam,” jawab adiknya.


Mereka ngobrol lama dan sangat serius.


“Iya nanti kakak tanya dulu sama suami ya,” Umminya Silvi berkata pada adiknya. Dan mereka mengakhiri obrolan mereka.


Umminya Silvi menjadi pendiam setelah menerima telfon dari adiknya.


“Abi, Ummi mau bicara serius,” berkata Umminya Silvi pada Abi yang baru pulang kerja.


“Ada apa mi?”


“Nani, adik Ummi yang dijakarta minta Silvi sambung SMA disana, biar dia ada kawan dirumah.”


“Bagus itu, kalau memang dia mau sukarela nerima Silvi sekolah disana, disana kan pendidikannya lebih bagus, nanti Silvi lebih mudah dapat kerjaan kalau lulus dari sana.”


“Tapi bi, kalau kita bolehin, dalam minggu ini Silvi harus ke jakarta untuk mengikuti tes, untuk formulirnya emang udah Nani beliin dari sebelumnya.”


“Boleh, gapapa, demi masa depan anak kita, kita harus rela berkorban.”


“Kira-kira Silvi mau gak ya bi?” Umminya Silvi bertanya.


“Harus mau, demi masa depannya, Abi pengen dia dapat pendidikan yang bagus, tapi kalau harus ngekost gak abi izinin. Karna gak ada yang pantau apa aja yang dia lakuin, dan sama siapa dia bergaul.”


“Tapi nanti Ummi kesepian,”


“Ummi, anak nuntut ilmu harus rela di lepasin, kakak udah besar, ini baru akan kita lepasin, tengok anak ustazd Fauzi, baru tamat SD, udah di pondokin.” Jawab Suaminya.


“Iya bi.”


“Harus kuat, kan nanti kita masih bisa Video call juga, masih bisa pergi jenguk dia disana, masih ada Abi dan Ghiffari juga.”


Umminya Silvi tersenyum setelah mendengar nasehat dari suaminya.


Setelah magreb, Silvi baru pulang dari tempat pengajiannya.


“Kak, kakak harus lanjutin SMA di jakarta, nanti tinggal sama tante Nani,” Abinya Silvi berkata pada Silvi yang baru selesai makan.


“Tapi bi, jauh kali,” Silvi menolak halus.


“Ga papa, Abi insyaallah sanggup ngebiayain kakak, ini juga demi masa depan kakak, kan kakak pengen jadi Dokter.” Abinya Silvi menaburkan benih-benih harapan di hatinya Silvi.


Silvi mengangguk tanda setuju.


...


Tante Nani adiknya Ummi Silvi, mereka sudah lama menikah, tapi belum punya anak, tante Nani tidak dikasih kerja sama suaminya, karna penghasilan suaminya sudah lebih dari cukup.

__ADS_1


...


__ADS_2