
“Ada kakak bawa untuk kamu, biar kamu coba juga hasil jualan kakak,” lanjutnya lagi.
“Yeee kakak ku baik kali lah, masih aja perhatian sama adeknya yang udah punya suami,” tante Nani bergelantungan manja di bahu kakak nya, Silvi dan Ghiffari hanya tersenyum melihat tingkah mereka berdua seperti anak kecil.
“Ya udah, kakak dan Silvi ganti baju dulu, saya mau keluar beli lauk untuk makan siang kita, gak sempat lagi ini kita masak, keburu lapar,” tante Nani berkata sambil melangkah keluar.
“Yaudah yok Kak Dek, kita ganti baju dulu,” ajak Umminya Silvi.
Mereka menikmati makan siang mereka, dan Sholat zuhur berjamah.
Ghiffari tidak melupakan janji berenangnya, akhirnya om Hafiz keluar untuk beli pelampung untuk Ghiffari.
Keluarga Silvi menghabiskan waktu mereka selama 2 hari untuk jalan-jalan, mereka membawa keliling Silvi dan Ghiffari ke tempat wisata.
Akhirnya hari untuk kepulangan orang tuanya Silvi pun sampai.
“Kakak baik-baik disini ya, nurut sama tante, nanti Ummi sama Abi 3 bulan sekali kalau sempat akan kesini jenguk kakak,” Abinya Silvi berpesan.
“Jangan nangis-nangis itu, ingat kakak cita-cita jadi Dokter, kakak harus belajar sungguh-sungguh,” Umminya pun ikut menasehati.
“Ya udah, yok kita brangkat antar Ummi sama Abi ke bandara,” ajak tante Nani pada Silvi sambil mengelus rambutnya.
__ADS_1
Mereka pergi diantar om Hafiz kali ini.
Sesampainya di bandara, Silvi memeluk Umminya, air matanya tumpah.
“Udah, kakak udah dewasa, harus belajar untuk bisa jauh dari Ummi, kalau gak kek gini, kakak gak bisa raih cita-cita kakak,” Umminya Silvi mencoba tegar dihadapan Silvi.
“Iya, nanti kalau kangen kan bisa video call,” sambung om Hafiz lagi.
Silvi melepaskan pelukannya dan kembali memeluk Abinya dan mencium adiknya Ghiffari.
Mereka naik pesawat, Silvi melambaikan tangan ke mereka sampai mereka hilang di depan matanya.
Di dalam pesawat.
“Udah, Ummi yang sabar ya, semua demi kebaikan masa depan anak kita,” Abi menguatkan. Umminya Silvi hanya mengangguk sambil mengelap air matanya dengan tissue yang entah udah habis berapa lembar
Silvi kembali ke rumah dengan Tante dan Om nya.
Silvi diperlakukan layaknya anak sendiri oleh Om dan Tante dia.
Ke esokan harinya.
__ADS_1
“Kak, ini formulir pendaftarannya, kakak isi dulu, nanti sore kita kembaliin ke sekolah,” Tante Nani menyodorkan kertas formulir pada Silvi yang sedang melihat ikan dikolam.
“Emang sore masih buka sekolahnya Tante?” Tanya Silvi.
“Masih, di sini sampai jam 5 baru tutup sekolahnya,” Jawab Tantenya.
“Ya udah Silvi ambil perlengkapan pendaftaran dulu dikamar.” Ucap Silvi sambil berlari kecil ke kamarnya.
Diambilnya map berisi ijazah dia dan semua persyaratan yang udah di urus dikampungnya.
“Ini tante,” Silvi menyerahkan map itu pada Tantenya.
Silvi mengisi formulirnya dibantu sama Tante Nani. Sejam kemudian mereka telah selesai mengisi dan mempersiapkan persyaratannya.
Sorenya.
“Kak, udah siap?” Tante Nani bertanya pada Silvi yang masih dikamar.
“Udah Tante,” Silvi keluar dengan pakaian muslimahnya.
“Sholehah banget ponakan tante,” Puji Tantenya sambil tersenyum.
__ADS_1
“Amiinn,”Silvi mengamini pujian Tantenya.
“Nanti pulang pergi ke sekolah, biar Tante yang antar jemput aja, biar Tante ada kegiatan,” Tante Nani berkata pada Silvi sambil berjalan ke arah mobil.