Surat Izin Berjodoh

Surat Izin Berjodoh
Bab 33 : Yasser bertemu Silvi


__ADS_3

Sampai waktu istirahat, Yasser belum juga kena gilirannya.


Waktu istirahat di kasih satu jam.


“Pak, Yasser pamit keluar sebentar boleh?” tanya Yasser pada Pak Bahar.


“Boleh, tapi jangan lama-lama ya!, kita Cuma dikasih waktu istirahat satu jam,” jawab Pak Bahar.


Tanpa membuang-buang waktu Yasser keluar dari stadion. Dan langsung memanggil becak yang dekat dengan posisinya.


“Bang bisa antar saya ke SMAN 1 Jakarta?” tanya Yasser pada tukang becak barang.


“Tapi dek, ini becak barang, bukan becak penumpang, kotor,” jawab Bapak itu merasa gak enak.


“Gapapa Pak, saya lagi buru-buru!” jawab Yasser yang sudah duduk di belakang tukang becak.


Bapak tua itu pun melajukan becaknya dengan cepat ke tempat tujuan.


“Makasih Pak ya, ini ongkosnya,” Yasser menyerahkan uang 50 ribuan.


“Uang kecil aja dek, 10 ribu,” jawab tukang becak.


“Gak ada, Pak, kalau gak Bapak bisa tungguin saya disini gak sebentar?, saya balik lagi ke tempat tadi, nanti saya tambahin ongkosnya,” tanya Yasser.


“Oeh boleh, boleh Dek,” jawabnya.


Yasser langsung menuju pintu masuk sekolah.

__ADS_1


“Assalamu’alaikum pak,” Yasser memberi salam pada Satpam yang berdiri di dekat pintu masuk.


“Wa’alaikum salam, mau bertemu sama siapa?” tanya Satpam.


“Mau bertemu sama Silvia labiqa raisya pak, murid kelas 1,” jawab Yasser.


“Kalau sama murid Adek telpon aja ya, karna saya gak hafal semua nama murid-murid disini,” sahut Pak Satpam lagi.


“Iya pak,” Yasser pun tidak membantah.


“Duduk aja di kursi tamu,” Satpam tersebut menunjukkan kursi di sampingnya kepada Yasser.


Yasser menuju kursi untuk duduk sambil mengambil ponselnya dan mengetik pesan untuk Silvi.


“Bisa jumpa gak sebentar?” Yasser mengirim pesan untuk Silvi.


Silvi tersenyum.


“Bisa, dimana?, di mimpi ya? 😁” balas Silvi yang menganggap pesan Yasser sebagai lelucon.


Ting ...


Yasser membalas lagi pesan Silvi dengan foto, foto dia yang sedang duduk di kursi tamu dan foto satpam yang sedang berdiri di depan Yasser.


Bukannya senang, Silvi malah mendadak jadi takut.


"Itu benaran kamu atau aku cuma halusinasi?" balas Silvi.

__ADS_1


"Benar hai, sini terus, penting kali ini!" balas Yasser.


"Emang qe ngapain ke sini? sambung sekolah kesini? atau jangan-jangan qe kabur dari rumah dan gak tau mau kemana?" Silvi masih membalas pesan Yasser, tanpa mengindahkan permintaan Yasser untuk keluar menemuinya.


"Jangan su'uzon!" balas Yasser singkat.


Setelah membaca pesan Yasser yang berisi tulisan jangan su'uzon, Silvi baru sedikit yakin kalau itu memang Yasser.


“Eh, aku kesana sebentar ya,” ucap Silvi pada teman-temannya.


“Iya,” jawab mereka.


Silvi menyusuri lorong-lorong bangunan untuk bisa sampai ke depan. Hatinya deg-degan, dan tangannya ke dinginan.


Silvi telah sampai di dekat kursi tamu. Dia terpaku di belakang Yasser, ini bukan halusinasi, Yasser sekarang benar-benar sedang ada di hadapannya.


“Yasser!" Silvi memanggil pelan nama Yasser.


“ Eh ... Silvi,” Yasser menoleh ke arah suara itu.


Mereka sama-sama tertegun beberapa saat.


(“Vi, kamu sangat cantik dengan rok abu-abu itu,”) Yasser bergumam dalam hati.


(“Yasser, kamu kok makin tampan sih ...!”) Silvi juga bergumam dalam hatinya.


Rasa rindu Yasser tertunaikan dengan melihat kehadiran Silvi. Selama Silvi ke Jakarta, mereka tak pernah bertemu lagi, karna Silvi tidak pernah pulang ke kampung, selalu orang tuanya yang datang untuk menjenguknya.

__ADS_1


__ADS_2