
“Om, ada kawan Silvi mau masuk universitas ini, apa Om bisa bantu?” tanya Silvi pada Om Hafiz.
“Coba Om lihat berkas-berkas dia,” Silvi menyerahkan berkas yang sudah dikirim oleh Yasser lewat ekspedisi.
“Ini sih bangus nilai-nilainya, kemungkinan lewat, piagam penghargaan juga ada, oke, akan Om urus, emang orang mana ini?”
Tante Nani yang sedang bersama mereka hanya menyimak percakapan Silvi dengan Omnya.
“Orang satu Desa sama Silvi juga, Cuma beda RT aja.” Jawab Silvi.
“Emang anak siapa Silvi?” tantenya ikut bertanya karna sebelum nikah tantenya Silvi lama tinggal dengan Kakaknya.
“Keponakan Bi Ayu disamping rumah kita,”
“Yasser?” tebak tantenya Silvi dengan tepat.
“Iya Tante,”
“Bukannya kalian itu dulunya selalu berantem ya? Ummi kamu cerita banyak tentang kamu sama Yasser.”
“Apa? Ha ha ha, berantem waktu masih kecil tante, sekarang udah dewasa, mana berantem lagi,”
__ADS_1
“Tapi si Yasser itu ganteng dulunya Silvi kan?”
“Biasa aja!" Jawab Silvi cuek, padahal dalam hatinya lagi berteriak “Ganteng banget Tante, makanya Silvi bela-belain ngurus ini semua, biar bisa jumpa sama dia selalu”. Silvi cengengesan sendiri tapi luput dari pandangan Om dan Tantenya.
Setelah melewati proses yang lumayan ribet, akhirnya Yasser di terima di universitas XXX berkat bantuan Silvi dan Om hafiz.
Yasser langsung menyiapkan persiapan keberangkatan, untuk persiapan di Jakarta semua sudah di urus sama Silvi, Om Hafiz dan Tantenya.
“Yasser berangkat dulu ya,” ucap Yasser sambil mencium tangan Ayah dan Mamanya.
“Kamu hati-hati disana ya, jangan sampai terpengaruh pergaulan buruk.” Ucap Ayahnya.
“Jangan sering tahan lapar, jangan malas-malas masak, kalau magh kamu kambuh nanti gak ada yang ngurusin kamu di sana.” Mamanya juga ikut memberi peringatan, karna Yasser pernah beberapa kali masuk rumah sakit karna drop, seharian dia lupa makan keasik belajar.
“Iya Ma.”
Adik-adiknya pun ikut menyalami Yasser, akhirnya Yasser pergi dengan taksi sendiri ke bandara, dan lanjut ke Jakarta tanpa di temani orang tuanya, karna terbatas sama biaya yang harus mereka keluarkan untuk bekal Yasser tinggal di sana.
... ....
Yasser telah tiba di bandara Jakarta, dan dijemput oleh Silvi dan Tantenya, sedangkan Om Hafiz harus bekerja.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum Tante," Ucap Yasser sambil menyalami Tante Nani.
"Wa'alaikum salam Yasser, ayo kita ke rumah Tante dulu," jawab Tante Nani dengan ramah.
Silvi tak banyak berbicara, dia hanya tersenyum, wajahnya terlihat aura kebahagian. Yasser juga bingung harus mulai membuka percakapan dari mana bersama Silvi.
Sesampainya di rumah Tante Nani, Yasser dipersilahkan minum.
"Minum dulu, berapa jam tadi nunggu pesawat di bandara?" tanya Tante Nani.
"Nggak lama Tante, sekitar 1 jam gitu,"
"Kamu baru pertama kali ke Jakarta?"
"Sudah pernah waktu ikut lomba lari Tante."
"Oh, kenapa gak mampir ke sini?"
"Nggak sempat katanya sibuk dia, ada di bilang sama Silvi, dia mau ke Jakarta, tapi waktunya mepet, orang tu langsung pulang siap bertanding," akhirnya Silvi membuka obrolan pertama setelah dari tadi cuma senyum bagaikan kambing makan asam. Dia takut Yasser keceplosan kalau mereka bertemu di sekolah Silvi.
"Iya Tante, kami cuma 2 hari 3 malam di jakarta, sore sampai, besoknya langsung tanding 2 hari, paginya lagi langsung pulang, gak sempat kemana-mana." jawab Yasser.
__ADS_1