Surat Izin Berjodoh

Surat Izin Berjodoh
Bab 34 : Mengatakan Perasaannya


__ADS_3

“Ooh Silvi yang ini, kalau yang ini bapak kenal, ya udah kalian lanjut ngobrol terus, jangan lama-lama ya, nanti takut ada tamu yang ngira kalian pacaran,” Ucap pak Satpam membuyarkan lamunan mereka, dan membuat mereka malu dengan perkataan Pak Satpam.


“Duduk dulu,” Yasser menggeser tempat duduk dirinya agar tidak terlalu berdekatan dengan Silvi.


“Ada apa Ser?” tanya Silvi serius.


“Aduh gimana ya?” Jawab Yasser sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal, dia bingung harus mulai berbicara dari mana.


“Oya, emang kamu ada acara apa ke Jakarta?” Silvi mengganti topik pertanyaan.


“Itu, aku jadi perwakilan lomba lari dari Provinsi kita,” jawab Yasser.


“Wah ... hebat kali udah Bang Yasser,” Silvi mencandai Yasser dengan memanggil Bang.


“Heum ... Hebat qe lagi, bisa sekolah di sekolah mewah kek gini, pasti banyak cowok-cowok ganteng disini ya?” tanya Yasser mengejek.


“Banyak kali disini, dari yang muka pribumi sampai muka blasteran, muka korea, muka china semua ada disini,” jawab Silvi dengan semangat seperti anak kecil yang sedang curhat dengan ibunya.


“Lalu yang milik qe muka yang mana?” tanya Yasser.


“Maksudnya?” Silvi balik bertanya.


“Yang jadi pacar qe muka ganteng yang kek mana?” Yasser memperjelaskan pertanyaannya pada Silvi.


“Gak ada,” jawab Silvi.

__ADS_1


“Gak ada? Gak ada kenapa?” tanya Yasser seolah gak percaya.


“Ya karna aku gak dikasih pacaran,” jawab Silvi.


“Ooo ...”


(“Seharusnya kan qe tanya siapa yang gak kasih pacaran, huh gak peka!”) umpat Silvi dalam hati sambil melihat gerakan kakinya yang menendang-nendang kosong.


“Silvi aku mau bicara serius sama qe,” Yasser kembali bersuara.


“Iya, bicara aja,” jawab Silvi cuek.


Yasser melihat sekelilingnya dan memastikan tidak ada orang yang mendengarnya.


Silvi tersenyum malu, dan kembali menundukkan pandangannya.


"Kamu yakin sama apa yang kamu ucap?" Silvi balik bertanya.


"Iya, sangat yakin!" jawab Yasser.


“Tapi aku gak di kasih pacaran,” jawab Silvi.


“Siapa yang gak kasih? Abi Umi?, kita kan jauhan, gak bisa jumpa, palingan lewat telpon, kalau qe gak mau pacaran juga gak papa, yang penting qe udah tau perasaan aku, dan aku berharap qe bisa nerima aku,” Yasser berkata dengan cepat.


“Bukan ... Gak dikasihnya sama kawan SMP aku dulu,” Silvi mencoba membuka memory lama mereka.

__ADS_1


Yasser tersipu, dan menutup mukanya dengan 2 tangan.


“Masih ingat qe?” tanya Yasser lagi.


“Ingat lah,” Silvi menjawab dengan Senyum malunya.


“Jadi gimana?, bisa ya gak pacaran sama orang lain?” tanya Yasser.


Silvi mengangguk sambil tersenyum dan menundukkan wajah nya.


“Alhamdulillah,” Yasser berkata dengan nyaring sambil menutup mulutnya dengan perasaan yang berbunga-bunga.


“Udah siap ngobrolnya?” Tanya Pak Satpam sambil membawakan secangkir kopi untuk dirinya.


“Udah pak,” jawab mereka berdua, mereka saling berpandangan dan tersenyum.


"Ya udah jangan lama-lama, gak baik cewek-cowok berduaan," kata Pak Satpam.


"Iya pak," jawab Yasser.


“Ya udah, aku langsung balik ke stadion dulu ya,” Yasser pamit pada Silvi.


“Iya, hati-hati,” Jawab Silvi.


Yasser hanya mengangguk kepala sedikit dan mereka sama-sama memberikan senyum manis mereka.

__ADS_1


__ADS_2