
Mereka langsung menarik koper mereka keluar pintu, sopir taksi pun membantu mereka memasukkan koper-koper mereka ke dalam mobil.
“Sudah semua?” Pak sopir bertanya pada mereka.
“Sudah pak, yok langsung jalan kita,” jawab Abinya Silvi.
Mereka semua langsung masuk ke dalam mobil dan langsung menuju bandara.
Yasser hanya melihat kepergian Silvi dari jauh, warung kopi yang dipilihnya sebagai tempat untuk menyaksikan Silvi untuk terakhir kali nya membuat orang tidak ada yang curiga dengan maksud Yasser duduk disitu, dan Silvi juga tidak ngeh jika Yasser memperhatikan mereka.
Yasser membayar kue yang dimakannya, dan pulang kembali ke rumahnya.
“Cepat kali pulang,” Mamanya Yasser menghampiri dia yang baru sampai.
“Kan udah Yasser bilang Cuma sebentar ma,” jawab Yasser.
“Emang kemana tadi?” tanya Mamanya Yasser.
“Gak kemana-mana ma, Cuma liat kawan sekolah yang mau berangkat ke luar kota untuk sambung SMA ke sana,” jawab Yasser.
“Siapa?”
__ADS_1
“Itu, yang rumah nya dekat rumah bibi,”
“Silvi?” tanya Mamanya.
“Iya.”
“Emang mau sambung kemana dia?”
“Ke jakarta.” Jawab Yasser dengan lesu.
“Keknya ada yang patah hati ini ditinggal pergi,” Mamanya Yasser mencoba menebak isi hati Yasser.
Silvi dan keluarganya sampai di bandara, mereka langsung menuju tempat duduk bandara untuk menunggu pesawat, tidak menunggu lama, pesawat pun landing untuk menjemput penumpang.
Mereka semua memasuki pesawat dan memilih tempat duduk yang telah di siapkan. Dan terbang menuju Jakarta.
Dari bandara Sultan Iskandar Muda menuju bandara Halim Perdana Kusuma memakan waktu kurang lebih 4 jam tanpa transit.
Mereka telah sampai di bandara Jakarta. Dan langsung menuju pintu keluar.
“Kak Selli!” Nani tantenya Silvi melambaikan tangan pada mereka.
__ADS_1
Silvi dan keluarganya berjalan ke arah tante Nani. Mereka bersalaman dan berpelukan.
“Apa kabar Na?” Tanya Abinya Silvi pada adik iparnya.
“Alhamdulillah baik bang, ya udah yok langsung ke mobil, bang Hafiz gak bisa ikut jemput, karna ada meeting di kantornya,” Tante Nani memberikan penjelasan sambil membantu memasukkan koper-koper mereka ke dalam bagasi mobilnya.
“Bang Fikar yang nyetir ya, masih ingat arah rumahnya kan?” tantenya Silvi bertanya pada Abang iparnya.
“Udah agak-agak lupa ini, karna udah lama gak kesini, nanti kamu tunjuin aja jalannya ya,” jawab Abinya Silvi.
“Iya Bang, ya udah Kak Selli naik di depan sama Bang Fikar, biar Nani di belakang sama ponakan yang cantik dan ganteng ini,” Tantenya berkata sambi mencubit gemes pipi ke dua keponakannya.
Mereka sampai ke rumah tante Nani.
“Tambah luas rumah kalian Nani ya?” Abinya Silvi berkata sambil melihat-lihat samping rumah Adik iparnya, yang penuh dengan bunga anggrek.
“Iya bang, gak ada pengeluaran untuk yang lain, jadi buat rumah aja,” jawab tante Nani yang bermaksud tidak ada pengeluaran untuk anak, karna mereka sudah 8 tahun menikah belum memiliki anak.
“Ya udah yuk masuk, duduk dulu, saya ambil minum di dapur,” lanjutnya lagi dan berlalu ke belakang.
“Besar kali Mi ya rumah tante, enak kali kakak Silvi tinggal disini, coba kalau adek yang tinggal disini, senang kali adek,” Ghiffari berkata pada Umminya sambil melihat ke luar jendela, terlihat ikan warna-warni di kolam itu.
__ADS_1