Surat Izin Berjodoh

Surat Izin Berjodoh
Bab 18 : Permintaan Yasser


__ADS_3

Silvi, Yasser dan teman-teman yang akan mengisi acara untuk perpisahan, masih aktif kesekolah, walaupun jam 11 siang kadang mereka udah pulang, Silvi bertugas sebagai pembaca puisi perpisahan mewakili kelas 3.


Yasser dan beberapa kawannya berlatih suara untuk melantunkan beberapa sholawat.


Dan juga acara-acara lain yang akan mereka tampilkan nanti. Baik itu dari murid kelas 3 maupun adik kelas mereka.


... ...


Hari acara perpisahan pun tiba.


Bangunan sekolah sudah terhias, tenda-tenda dan panggung sudah terpasang. Kursi berderet rapi.


Mereka sudah menyiapkan diri berdandan sesuai tema yang akan mereka tampilkan.


Orang tua dari murid kelas 3 diundang, untuk pelepasan kembali murid kelas 3.


Acara pun dimulai, tampilan panggung berjalan dengan lancar. Semua berusaha menampilkan yang terbaik.


Isak tangis haru pun terjadi, saat pelepasan kembali siswa-siswi kelas 3 oleh kepala sekolah, Dengan di iringi musik “trima kasih guru ku” mereka menyalami satu persatu guru-guru mereka yang sudah berdiri rapi.


Peluk cium mereka dapati dari guru yang sesama mahram dengan mereka.


Dan bersalaman dengan guru yang bukan mahram.


Jam makan siang tiba.


Acara inti telah selesai, hanya tinggal acara selingan untuk menghiburkan penonton. petugas membagikan nasi kotak yang sudah dipesan dari catering kepada tamu-tamu sekolah, termasuk orang tua murid.


Sedangkan siswa siswi memakan bekal yang mereka bawa sendiri dari rumah.


Acara telah berakhir.


Semua tamu undangan pulang, begitu juga murid kelas 1 dan kelas 2, hanya tinggal murid kelas 3 yang akan membersihkan dan membereskan tenda-tenda sekolah untuk terakhir kali nya sebagai bentuk bakti mereka pada sekolah.


Sebelum bekerja membereskan semua. Mereka melakukan sholat zhuhur yang di imami oleh imam mesjid di kecamatan yang hadir sebagai tamu undangan.


Setelah sholat mereka langsung gotong royong. Mereka di hidangkan minuman dan snack untuk menambah semangat gotong royong mereka.


Pekerjaan mereka pun selesai, mereka beristirahat di bawah pohon halaman sekolah sambil bercanda dengan teman-teman.


Yasser memilih duduk di kantin, kantin masih di buka sama mang dolah, karna masih ada beberapa murid yang lagi minum teh dingin di meja kantin. mang dolah juga tinggal di rumah penjaga sekolah, makanya beliau tidak buru-buru menutup kantinnya.


Yasser mengambil ponselnya. Dan melakukan pencarian nama di wa.


Pencariannya terhenti pada kontak bernama Silvi.


Dia memilih untuk mengetik pesan kepada Silvi.


“Lagi ngapain?” pesan wa nya Yasser terkirim untuk Silvi, centang 2, beberapa detik kemudian membiru, tanda sudah di baca.

__ADS_1


“Lagi duduk ini sama kawan,”


“Di mana?”


“Di halaman, dekat kelas kita,”


“Bisa ke kantin gak?”


“Untuk apa?”


“Sangat penting, tapi perginya sendirian aja ya, jangan ajak Vera.”


“Kenapa gitu?, di kantin ada orang lain selain qe?”


“Ada, tenang aja, jangan su’uzon 😝.”


Silvi hanya membaca pesan Yasser dengan menarik ujung kiri bibirnya keatas, tanpa membalasnya lagi.


Silvi malas berdebat kalau udah di ingatin sama kata-kata su’uzon sama Yasser, dia jadi malu sendiri dengan kejadian dulu.


“Vera, aku ke kantin sebentar ya!” Silvi berkata pada Vera yang sedang mengobrol sama Julia dan Eva.


“Mau ngapain?”


“Anu ... Mau ... Mau beli minum,”


“Tapi kan kita baru siap minum sirup tadi?”


“Oh ya udah, jangan lama-lama ya, bentar lagi kita pulang bareng,” jawab Vera.


“Oke.”


Silvi berjalan ke kantin. Ada beberapa siswa lokal lain di sana sedang minum sambil memainkan ponsel mereka.


Terlihat juga Yasser duduk sendirian dengan minuman botol di atas meja. Silvi melangkah memasuki kantin.


“Eh Silvi, sini dulu,” Yasser melambaikan tangan memanggil Silvi.


(“Aneh kali anak ini, aku ke kantin kan karna disuruh dia, untuk apa pula dia teriak-teriak manggil, macam luas kali pun kantin,”) Silvi bergumam dalam hati.


Silvi menghampiri Yasser.


“Duduk dulu,” ucap Yasser.


“Iya, kenapa?, Jangan lama-lama, nanti aku ditinggal pulang sama Vera,” Silvi berkata sambil duduk di kursi depannya Yasser.


“Aku mau bilang sesuatu.”


“Ya udah bilang aja, to the point.”

__ADS_1


“Ya udah kalau qe mau aku bicara to the point, Aku ...” Yasser berkata dengan wajah tegang. Silvi menyimak pembicaraan Yasser dengan serius.


“Aku mau qe nanti jangan pacaran sama orang lain.” Yasser mengucapkan kalimat itu dalam satu tarikan nafas dengan suara seperti berbisik supaya tidak terdengar oleh siswa yang lain.


Silvi yang sangat serius menyimak pembicaraan Yasser pun, tiba-tiba tertawa lepas, siswa yang lain melihat ke arah mereka.


Silvi langsung menutup mulut menggunakan jari-jarinya.


“Bicara apa qe? Masih sadar?” Silvi bertanya pada Yasser.


“Serius ini, kita nanti kan udah SMA, pasti banyak yang naksir sama qe, aku cuma takut qe pacaran sama orang lain,” lanjut Yasser.


“Emang kalau aku pacaran kenapa?” Silvi bertanya pada Yasser sambil tertawa.


“Ya jangan, itu kan dosa, dan ...” Yasser menghentikan kalimatnya.


Silvi menaikkan alisnya tanda bertanya kelanjutan kalimatnya.


“Dan aku gak bisa ngelihat itu,” Yasser melanjutkannya.


“Kalau qe gak bisa lihat, nanti qe tutup mata aja.” Silvi menjawab dengan canda.


Yasser merenggut masam sambil bertanya.


“Qe tau kan maksud aku apa?”


“Gak, terlalu berbelit-belit, aku gak punya banyak waktu, aku kesana dulu ya, mau pulang sama Vera,” Silvi menjawab dengan senyumnya, dan keluar dari kantin meninggalkan Yasser yang masih tegang.


Silvi menyusuri teras sekolah dengan tersenyum, kakinya terus melangkah ke depan, tapi pikirannya masih bersama kata-kata Yasser tadi, sampai-sampai dia tidak sadar dia sudah berada di depan Vera sama teman-temannya.


“Kenapa senyum-senyum sendiri qe Vi, gak kesurupan qe kan?” Julia bertanya mengagetkan Silvi.


“Eh, enak aja qe bilang aku kesurupan,” Silvi membantah perkataan temannya.


“Man qe pun aneh, katanya mau beli minum, eh tau-tau balik senyum-senyum sendiri, minumnya mana?” Vera pun ikutan mengejek Silvi.


“Ya udah habis lah aku minum, aku cuma beli aq*a gelas, kalian kan gak haus, jadi aku habisin terus, gak ada aku beli lebih,” jawab Silvi memberikan alasan.


“Silvi, nanti qe lanjut SMA dimana?” tiba-tiba Lukman datang menghampiri mereka yang lagi asyik mengobrol.


“Ehem ... ehem ...” teman-teman Silvi mulai berdehem jail.


“Di SMA sebelah aja,” Silvi menjawab datar pertanyaan Lukman.


“Ya lah, biar kita bisa best friend nan terus Silvi ya.” Sambung Vera.


“Iya.” Silvi menjawab dengan tersenyum.


Silvi melihat Yasser berjalan ke arah mereka.

__ADS_1


“Qe Lukman sambung dimana?” Silvi bertanya pada Lukman dengan sedikit mengeraskan suara dan memasang senyum manisnya.


“Sama, aku disana juga!” Lukman menjawab pertanyaan Silvi dengan cepat, Lukman bangga bisa menampakkan kedekatannya dengan Silvi pada Yasser.


__ADS_2