
Yasser terus berjalan tanpa menghiraukan mereka. Dia berjalan seolah tidak terjadi apa-apa antara dia dengan Silvi.
Yasser menuju parkiran mengambil sepedanya, dia langsung pulang kerumah.
sedangkan Silvi pulang diantar Vera menggunakan motornya.
... ...
Drrttt ... Drrttt
Ponsel milik Yasser bergetar setelah dia selesai sholat magreb.
Dia membuka kunci ponselnya. Ada banyak pesan wa. Dia membukanya.
Ternyata Syukran membuat grup wa sekolah. Dia memasukkan semua kontak teman sekelas, bahkan nomor teman yang bukan sekelas pun ada juga beberapa orang di dalamnya.
“Selamat malam untuk semua penghuni grup, dikarnakan kita akan berpisah, saya selaku teman yang baik, membuat grup ini agar kita semua selalu menjaga silaturrahmi 😎,” Syukran mengirim pesan pertama ke dalam grup itu dengan emoticon keren.
“Sok bijak kau,” Arya pun membalasnya.
Beragam balasan pun bersarang di sana.
Yassir belum menemukan topik yang bagus untuk membalas percakapan mereka.
“Tanggal berapa ya pengumuman kelulusan?” kontak Yenni mengirim pesan ke grup.
“Tanggal 27, minggu depan,” Yasser menjawab pertanyaan Yenni. Yenni pun membalas 👍
“Cepat kali pikun kok yen?” Sang pembuat grup pun membalasnya.
“Bukan pikun hei 🐒, aku ngingatin kalian aja, supaya rajin berdoa, jangan bisanya cuma buat ribut dalam grup,” Yenni membalas pesan Syukran.
“Sejak kapan si Syukran jadi 🐒?” Doni bertanya.
“Sejak dia berkata dia teman yang baik,” Yenni menjawab pertanyaan Doni.
“Kalian semua sambung SMA dimana?” tanya Arya.
“SMA 1 Meraksa,” balas Doni.
“SMK 1 Budi mulya.” Balas Farel.
“SMA 1 Meraksa,” balas Lukman.
Mereka semua menjawab pertanyaannya Arya, hanya beberapa kontak yang belum menjawab, salah satunya Silvi.
“Silvi sambung dimana?” Syukran menandai kontak Silvi.
“Katanya di SMA 1 Meraksa juga,” tulis Vera.
“Iya, Aku SMA 1 Meraksa,” pesan pertama Silvi yang dikirim ke dalam grup.
“Keknya ada yang akan bersemi ni di SMA Meraksa,” dari Doni.
“Sepertinya begitu 🤔,” balas Syukran.
__ADS_1
“Kira-kira siapa ya?” Vera pun ikut dalam obrolan.
“Sepertinya pak bos dan buk bos 🤭,” balas Arya.
Silvi lagi-lagi hanya membaca pesan-pesan mereka, tanpa menggubrisnya, dia tidak merasa jadi ibu bos, jadi dia memilih mengabaikannya.
Yasser pun ikut membaca pesan-pesan itu, lagi-lagi dia merasa tipis harapannya.
Tak ada yang tau tentang perasaan Yasser terhadap Silvi. Dia menutup rapat perasaannya, biar tidak mencurigakan sama teman-teman dia.
... ...
Tanggal 27.
Hari ini hari pengumuman kelulusan.
Semua murid kelas 3 menunggu dengan deg-degan. Mereka di telfon oleh wali kelas mereka masing-masing, di suruh ke sekolah setelah sholat zuhur untuk melihat pengumuman, karna pagi belum di tempel.
Setelah sholat zuhur Semua siswa sudah hadir ke sekolah. Tapi kertas pengumuman belum di tempel.
Pak Anwar keluar dari ruangan menuju ke mading, dan menempel 3 lembar kertas pengumuman kelulusan. Dan kembali masuk ke ruang kantor.
Semua murid kelas 3 berhamburan menuju mading.
Mereka berdesak-desakan untuk melihat nomor ujian kelulusan mereka.
Banyak dari mereka yang mulai panik, karna nomor yang di tempel hanya sekitar 150 nomor. Berarti sekitar 60 orang yang tidak lulus.
“Nomor ujian aku gak ada,” Eva berkata dengan mata mulai memerah.
Yasser dan Silvi menemukan nomor ujian mereka di kertas pengumuman, begitu juga dengan Lukman.
Mereka yang lulus tidak terlalu menampakkan kegembiraannya, karna ¼ teman mereka tidak lulus.
Keadaan mulai hening, tak ada lagi yang bercanda tawa.
Yang perempuan sebagian sudah menangis terisak-isak.
Pak Anwar dan kepala sekolah datang menghampiri mereka.
“Kenapa nangis mereka itu?” pak Anwar bertanya.
“Gak lulus pak,” jawab Julia.
Pak Anwar mendekati mading lagi. Mengambil kertas di saku celananya dan menempelkannya kembali di mading.
“Tertinggal tadi satu di kantong bapak gak sengaja,” ucap pan Anwar beralasan.
Mereka yang sedang menangis kembali mengelap air matanya, dan mencari nomor ujian mereka di kertas terakhir itu.
“Alhamdulillah aku lulus ... aku lulus ... aku lulus,” Eva berteriak kegirangan.
“Alhamdulillah aku juga lulus,” Nissa pun ikut berteriak bahagia.
"Ini pasti di sengaja sama pak Anwar," Reva berkata pada Silvi.
__ADS_1
"Iya, biar kita panik," jawab Silvi manyun.
Kini tak ada lagi siswa yang menangis, mereka semua sudah kembali tertawa.
“Perhatian-perhatian!” Pak Anwar memberikan aba-aba.
“Kalian semua kumpul di halaman, kepala sekolah mau memberikan sedikit aba-aba,” lanjut nya lagi.
Mereka semua berjalan ke halaman sekolah menghadap ke arah kepala sekolah yang sudah berdiri di sana, dan juga beberapa guru yang lainnya.
“Assalamu’alaikum anak-anak,” kepala sekolah memberi salam.
“Wa’alaikum salam wr wb,” jawab mereka serentak.
“Sudah melihat pengumuman?” kepala sekolah bertanya.
“Sudah bu,” jawab mereka lagi.
“Ada yang tidak lulus? Coba tunjuk tangan?” tanya kepala sekolah lagi.
Mereka saling memandang 1 sama lain, tapi tak ada yang menunjuk tangan.
“Alhamdulillah kalian semua lulus,” kepala sekolah melanjutkannya kembali.
“Alhamdulillah,” Mereka pun ikut bersyukur.
“Iya, kalian lulus 100% dan Nilai tertinggi pertama sampai 3 disekolah kita jatuh kepada cewek semua, cowok gak kebagian. juara pertama jatuh kepada Silvia labiqa riasya.” Mereka memberikan tepuk tangan meriah. Juara kedua jatuh kepada “Nurhasanah az-zahra.” Dan juara ke tiga jatuh kepada “Putri hayatun nufus.” Kepala sekolah mengucapkan dengan lantang nama mereka bertiga.
Tepuk tangan terus di berikan oleh teman-teman untuk mereka.
“Kalian ber 3 nanti ikut ibu ke ruangan kerja ibu, ambil undangan dari SMA 1 Meraksa, dan SMA 1 Budi Mulya. Kalian ber tiga bisa masuk sekolah ke sana tanpa harus ikut tes lagi.” Kepala sekolah menjelaskan.
Tepuk tangan kembali di berikan oleh teman-teman mereka.
“Nah, kalian sudah lulus semua, nanti pulang jangan ada yang coret-coret baju ya, karna itu perbuatan syetan, memubazirkan sesuatu yang masih layak pakai, baju putih masih bisa kalian pakai untuk SMA, celana atau rok biru bisa kalian sumbang untuk anak yang kurang mampu,” ucap ibu kepala Sekolah.
“Baik Bu.” Jawab mereka Serentak.
“Baik, untuk ijazahnya nanti ibu infokan melalui wali kelas masing-masing, kapan ijazah keluar, hanya itu saja yang ingin ibu sampaikan, kurang dan lebih kami mohon maaf, wassalamu’alaikum wr wb.”
“Wa’alaikum salam wr wb.”
Mereka membubarkan diri dan pulang ke rumah masing-masing.
Silvi dan 2 temannya berjalan dibelakang kepala sekolah mengikutinya masuk ke kantor.
“Ini undangan untuk kalian ber 3,” kepala sekolah mengasih undangan itu satu per satu berdasarkan rangking mereka.
“Nanti kalian ambil formulir seperti biasa, nanti kalian kasih nampak undangan ini kepada pengawas pendaftaran, kalian tidak perlu lagi ikut tes, langsung di terima.” Kepala sekolah berkata dengan bangga pada mereka.
“Terima kasih banyak Bu,” Ucap mereka sambil menyalami kepala sekolah.
“kalau gitu kami pamit dulu Bu,”
“Iya, silakan, hati-hati jalan pulang.”
__ADS_1